
Toba Caldera Culture Festival 2026 Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Musik dan Ekonomi Kreatif
Lanskap, Jakarta – Kementerian Ekonomi Kreatif melihat potensi kolaborasi dalam penyelenggaraan Toba Caldera Culture Festival (TCCF) 2026, terutama untuk memperkuat subsektor musik dan membuka akses bagi talenta kreatif daerah menuju pasar yang lebih luas.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan hal tersebut saat menerima penyelenggara TCCF di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Teuku Riefky menilai konsep TCCF dapat menjadi ruang untuk membawa talenta lokal ke tingkat nasional dan mendorong karya kreatif serta produk unggulan daerah menuju pasar global.
“Disinilah estafet antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat terhadap pegiat ekraf khususnya subsektor musik,” ujar Teuku Riefky.
TCCF 2026 merupakan platform kolaboratif perdana yang diinisiasi ND Management. Festival tersebut mengintegrasikan budaya, ekonomi kreatif, UMKM, inovasi dan investasi untuk memperluas akses pasar serta mendorong business matching.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Samosir pada 24–27 September 2026.
Agenda TCCF mencakup pesta rakyat berbentuk marketplace, silaturahmi pemangku adat Nusantara, serta kompetisi dan lokakarya paduan suara melalui Samosir International Choir Competition.
Kementerian Ekraf akan mengkaji peluang keterlibatan dalam rangkaian kegiatan tersebut melalui program yang berada di bawah Deputi Bidang Kreativitas Media, khususnya Direktorat Musik.
Kemungkinan dukungan antara lain dalam aspek penjurian maupun aktivasi kegiatan lain dalam festival.
“Paling penting programnya bisa memberikan manfaat langsung dan memperkuat ekosistem musik serta talenta-talenta muda,” kata Teuku Riefky.
Data BPS 2025 menunjukkan subsektor musik melibatkan 220.714 pekerja. Porsi terbesar berasal dari generasi milenial sebesar 41,62 persen, disusul generasi Z 33,61 persen dan generasi X 20,87 persen.
Angka tersebut menunjukkan besarnya basis tenaga kerja dalam subsektor musik sekaligus peluang pengembangan talenta muda.
TCCF berkembang dari kompetisi paduan suara menjadi festival dengan cakupan lebih luas. Penyelenggara membawa misi penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan nilai tambah berbasis kreativitas dan inovasi.
Festival juga menempatkan budaya Batak sebagai salah satu sumber inspirasi dalam pengembangan karya kreatif.
Ketua Steering Committee TCCF, Mora Nasution, mengatakan pengembangan Danau Toba perlu melihat potensi manusianya selain aspek destinasi.
“Kita tidak hanya bicara bagaimana melestarikan tempatnya saja, tetapi juga bicara manusia dengan seni dan budaya yang berdampak terhadap nilai ekonomi,” ujarnya.
Ia berharap TCCF dapat berkembang menjadi ekosistem kolaborasi yang memungkinkan program pemerintah diimplementasikan secara lebih dekat dengan pelaku kreatif di Sumatera Utara.
TCCF 2026 menargetkan hampir 2.000 peserta paduan suara dan 70 penyanyi vokal solo. Kompetisi juga melibatkan empat juri internasional dan enam juri nasional.
Di luar kompetisi, festival mengangkat sejumlah elemen budaya Batak, termasuk Dalihan Na Tolu, Tondi, Gondang, dan Tortor, sebagai sumber inspirasi karya dan aktivitas kreatif.
Dengan model tersebut, TCCF diarahkan bukan hanya sebagai agenda pertunjukan, tetapi sebagai ruang pertemuan antara musik, budaya, talenta, UMKM dan peluang ekonomi kreatif di kawasan Danau Toba. (Firda)



