Perkuat Pencegahan Kekerasan, Menteri PPPA Tegaskan Peran Strategis Kader PATBM dan Relawan SAPA
3 mins read

Perkuat Pencegahan Kekerasan, Menteri PPPA Tegaskan Peran Strategis Kader PATBM dan Relawan SAPA

3 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Pemerintah mendorong penguatan perlindungan perempuan dan anak melalui keterlibatan masyarakat di tingkat paling dekat. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan kader Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) merupakan kekuatan penting dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pernyataan tersebut disampaikan Arifah saat bersilaturahmi secara virtual dengan lebih dari 420 peserta yang terdiri atas pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan Kementerian PPPA, kepala dinas yang membidangi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (P3A) tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta kader PATBM dan relawan SAPA dari seluruh Indonesia, Senin (10/8/2026).

Menurut Arifah, posisi kader PATBM dan relawan SAPA menjadi strategis karena mereka berada langsung di tengah masyarakat. Kondisi tersebut memungkinkan proses edukasi, peningkatan kesadaran, dan pencegahan kekerasan dilakukan sejak dari lingkungan terdekat.

“Kami yakin keberadaan para kader PATBM dan juga kader SAPA ini mempunyai posisi yang sangat penting dan strategis di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.

PATBM Didorong Perkuat Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat

Arifah menjelaskan, PATBM diinisiasi pada 2016 sebagai gerakan yang tumbuh dari masyarakat untuk memperkuat perlindungan anak di lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.

Dalam implementasinya, kader PATBM memiliki tiga fokus utama. Pertama, memperkuat kemampuan anak dalam mengenali hak serta memahami cara melindungi diri. Kedua, memperkuat keluarga dan orang tua agar mampu memberikan pengasuhan yang aman dan nyaman.

Ketiga, membangun masyarakat yang memiliki norma dan kepedulian serta menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak.

Pendekatan berbasis masyarakat tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemampuan deteksi dini. Masyarakat diharapkan tidak hanya mampu mengenali potensi kekerasan, tetapi juga mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika kekerasan terjadi.

Hal tersebut mencakup keberanian untuk melapor atau berbicara serta kemampuan membangun jejaring layanan untuk memberikan pertolongan kepada korban.

“Keberadaan teman-teman kader PATBM ini dan juga relawan SAPA menjadi kekuatan di tingkat masyarakat untuk melakukan pencegahan-pencegahan, baik kekerasan terhadap perempuan maupun anak,” tegasnya.

Penguatan Keluarga Menjadi Kunci

Menteri PPPA memberikan apresiasi kepada kader dan relawan yang selama ini hadir langsung dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Ia mengakui setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda dalam upaya mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Karena itu, keberadaan gerakan masyarakat perlu terus dipelihara dan dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Arifah berharap PATBM dan SAPA dapat terus menjadi gerakan yang aktif dalam memperkuat norma antikekerasan, meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga, memberdayakan anak, serta meningkatkan respons masyarakat ketika menemukan indikasi kekerasan.

Dalam konteks tersebut, keluarga menjadi salah satu elemen penting dalam membangun perlindungan yang berkelanjutan.

“Kunci terpenting bagaimana ini bisa dilakukan adalah ketika keluarga memiliki kekuatan, kemampuan untuk menguatkan keluarganya masing-masing,” tambah Arifah.

Pertukaran Praktik Baik untuk Memperkuat Layanan

Selain penguatan peran kader dan relawan, Arifah mendorong adanya pertukaran praktik baik (best practice) dari berbagai daerah.

Pengalaman yang telah dilakukan di tingkat lokal dapat menjadi referensi untuk mengembangkan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat. Pertukaran tersebut juga diharapkan membantu meningkatkan kualitas sapaan dan layanan kepada masyarakat.

Arifah menilai kekerasan yang dialami perempuan dan anak, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun bentuk kekerasan lainnya, dapat diantisipasi melalui kerja bersama.

Pencegahan membutuhkan pemahaman dan kesadaran yang dibangun secara kolektif dengan melibatkan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, kader, relawan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Sekali lagi, saya bahagia sekali hari ini bertemu dengan kader-kader hebat yang selama ini sudah berkhidmat mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara di daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Penguatan PATBM dan SAPA pada akhirnya menjadi bagian dari upaya membangun sistem perlindungan perempuan dan anak yang lebih dekat dengan masyarakat. Dengan keberadaan kader dan relawan di tingkat komunitas, pencegahan diharapkan dapat dilakukan lebih dini sebelum kekerasan berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. (Rnie)