Digitalisasi Peternakan Sapi Perah, OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP di Jawa Timur
3 mins read

Digitalisasi Peternakan Sapi Perah, OJK dan ILO Luncurkan Sistem ERP di Jawa Timur

Lanskap, Malang – Upaya memperkuat sektor peternakan sapi perah di Jawa Timur memasuki babak baru. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) meluncurkan Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) serta inisiatif penguatan akses keuangan inklusif bagi peternak sapi perah.

Peluncuran yang berlangsung di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, pada 11 Juni 2026 ini menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi digital sektor peternakan sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi peternak dan koperasi.

Salah satu kendala utama yang selama ini dihadapi peternak adalah minimnya data usaha yang terdokumentasi secara baik dan dapat dipercaya oleh lembaga jasa keuangan. Kondisi tersebut membuat proses penilaian risiko usaha menjadi lebih sulit sehingga akses terhadap pembiayaan formal masih terbatas.

Melalui proyek Promoting Small and Medium Enterprises through Improved Access to Financial Services Phase II (Promise II Impact), ILO bersama OJK dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung pengembangan sistem ERP di tiga koperasi peternak sapi perah, yakni KAN Jabung Kabupaten Malang, Koperasi Setia Kawan Kabupaten Pasuruan, dan Koperasi Tani Wilis Kabupaten Tulungagung.

Sistem ERP memungkinkan pengelolaan data produksi susu, kualitas hasil ternak, transaksi usaha, hingga profil anggota koperasi secara lebih terintegrasi, transparan, dan diperbarui secara real time. Kehadiran sistem ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa sektor sapi perah memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

“Melalui digitalisasi dan perluasan akses keuangan, kita sedang membangun fondasi baru bagi sektor peternakan yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing,” ujar Khofifah.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menilai digitalisasi sektor riil merupakan bagian penting dari strategi nasional dalam memperluas inklusi keuangan produktif.

Menurutnya, data usaha yang terdokumentasi dengan baik melalui sistem ERP akan membantu lembaga jasa keuangan memahami profil usaha peternak secara lebih akurat, sehingga membuka peluang pengembangan credit scoring berbasis data dan memperluas akses terhadap pembiayaan maupun asuransi ternak.

Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi untuk memperkuat usaha rakyat tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperluas kesempatan kerja dan memperkuat ketahanan usaha.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana inovasi, kebijakan publik, dan kemitraan multipihak dapat berjalan bersama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ujarnya.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menambahkan bahwa akses terhadap informasi, teknologi, dan layanan keuangan akan meningkatkan kapasitas peternak untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha mereka secara berkelanjutan.

Peluncuran sistem ERP ini sekaligus menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah, koperasi, industri pengolahan susu, lembaga jasa keuangan, dan mitra pembangunan untuk memperkuat ekosistem sektor sapi perah di Jawa Timur. Model kolaborasi tersebut diharapkan dapat direplikasi pada berbagai sektor UMKM lainnya guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional yang lebih inklusif. (Asm)