
Dari Kampus ke Masyarakat, Vokasi UI Bekali Lansia dengan Pengetahuan Cegah Neuropati akibat Diabetes
Lanskap, Bogor – Upaya mencegah komplikasi diabetes pada kelompok lanjut usia tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengobatan. Pengetahuan mengenai perawatan diri dan kemampuan mengenali gejala sejak dini juga menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas hidup.
Hal inilah yang didorong Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (Vokasi UI) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) Skema Kemitraan Tahun 2026.
Salah satu program tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Perawatan Diri dalam Pencegahan Neuropati Sensorik pada Lansia dengan Diabetes” yang digelar di Aula Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).
Program ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Dukungan pendanaan dari Vokasi UI kemudian diteruskan melalui Departemen Kesehatan Terapan dan Program Studi Fisioterapi hingga menjadi kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat.
Mengenali Risiko Neuropati pada Lansia
Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan prevalensi diabetes melitus, komplikasi berupa neuropati sensoris menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Neuropati sensoris merupakan gangguan pada saraf tepi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam merasakan sentuhan, suhu, maupun nyeri. Kondisi ini dapat membuat seseorang tidak menyadari adanya luka atau cedera, khususnya pada bagian kaki.
Jika tidak dikenali dan ditangani sejak awal, gangguan tersebut dapat meningkatkan risiko luka kaki diabetik hingga amputasi. Dampaknya bukan hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan, tetapi juga dapat mengurangi kemandirian dan kualitas hidup lansia.
Riza Pahlawi menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan lansia dalam melakukan perawatan diri dan mengenali risiko neuropati sensoris.
“Banyak lansia dengan diabetes yang sebenarnya sudah mengalami gejala awal neuropati sensoris, tetapi tidak menyadarinya karena dianggap sebagai bagian biasa dari proses penuaan. Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan, risikonya bisa berujung pada luka kaki diabetik hingga amputasi,” ungkapnya.
Menurut Riza, edukasi diberikan agar peserta memiliki kemampuan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membekali lansia di Ponpes Nurul Hidayah Al Bina dengan pengetahuan dan keterampilan sederhana yang bisa mereka praktikkan sehari-hari untuk mendeteksi dan mencegah risiko tersebut sejak dini,” lanjutnya.
Edukasi Disertai Pemeriksaan Kesehatan
Kegiatan Pengmas Vokasi UI tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga diajak mengenali kondisi tubuh melalui pemeriksaan kesehatan dasar.
Rangkaian kegiatan dibagi menjadi dua bagian utama.
Pertama, peserta mendapatkan penyuluhan interaktif mengenai neuropati sensoris. Materi mencakup pengertian, faktor penyebab dan potensi etiologi, karakteristik gangguan, gejala hingga langkah pencegahannya.
Peserta diperkenalkan dengan sejumlah gejala yang perlu diperhatikan, seperti alodinia, nyeri menusuk atau terbakar, kesemutan, hingga berkurangnya kemampuan merasakan suhu dan nyeri.
Sebelum penyuluhan, peserta terlebih dahulu mengisi formulir daring untuk memetakan pengetahuan awal serta riwayat gejala neuropati sensoris yang pernah dialami. Hasil tersebut kemudian dibandingkan dengan pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi.
Untuk membantu peserta mempertahankan pengetahuan yang diperoleh, tim pengabdi juga membagikan buku saku yang dapat digunakan sebagai media edukasi setelah kegiatan selesai.
Rangkaian kedua berupa pemeriksaan kesehatan dasar. Pemeriksaan mencakup pengukuran tekanan darah, saturasi oksigen, denyut nadi, serta gula darah sewaktu.
Tim juga melakukan pemeriksaan sensoris sederhana melalui uji tajam-tumpul dan halus-kasar.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk membantu mengidentifikasi peserta yang memiliki faktor risiko, seperti kadar gula darah tinggi maupun gangguan sensoris. Peserta yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kemudian diberikan rekomendasi tindak lanjut.
Melibatkan Lingkungan Pesantren
Program ini menyasar sekitar 50 peserta yang terdiri dari kelompok lansia di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina serta para pengelola pesantren.
Keterlibatan pengelola menjadi bagian penting karena edukasi kesehatan tidak diharapkan berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai.
Pengelola pesantren memiliki posisi strategis sebagai tokoh yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka diharapkan dapat membantu mengingatkan para lansia untuk menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
Ust. Abdullah, pengelola Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Bina, menyambut baik kegiatan tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas kegiatan ini. Selama ini banyak dari kami yang hanya tahu diabetes berhubungan dengan gula darah, tapi tidak paham bahwa kaki yang kesemutan atau mati rasa juga bisa jadi tanda bahaya,” ujarnya.
Menurutnya, pemeriksaan dan edukasi yang diberikan tim Vokasi UI membantu peserta memahami pentingnya perawatan diri.
“Setelah mengikuti penyuluhan dan diperiksa langsung oleh tim dari UI, kami jadi lebih paham cara merawat diri sendiri, dan pengurus pesantren pun berkomitmen untuk terus mengingatkan para lansia di sini agar rutin memeriksakan kesehatannya,” lanjutnya.
Menghubungkan Ilmu dengan Kebutuhan Masyarakat
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Vokasi UI untuk membawa pengetahuan akademik lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada peserta melalui pemeriksaan dan pengenalan keterampilan perawatan diri.
Bagi lansia dengan diabetes, kemampuan mengenali perubahan sensasi pada tubuh dapat menjadi langkah awal untuk mencegah masalah yang lebih serius. Karena itu, edukasi mengenai neuropati sensoris menjadi penting, terutama ketika gejalanya kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Melalui program ini, Vokasi UI juga menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendukung upaya preventif di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 tentang Good Health and Well-Being.
Lebih jauh, program ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi jembatan antara ruang akademik dan persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Dari ruang kelas dan laboratorium, pengetahuan dibawa ke lingkungan masyarakat. Di sana, ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi diterjemahkan menjadi edukasi, pemeriksaan, dan keterampilan yang diharapkan dapat membantu lansia menjaga kesehatan serta mempertahankan kualitas hidupnya. (Hnd)


