Dari Purbaya ke Suahasil: Ke Mana Arah Baru Fiskal Pemerintahan Prabowo?
3 mins read

Dari Purbaya ke Suahasil: Ke Mana Arah Baru Fiskal Pemerintahan Prabowo?

0 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta โ€“ Pergantian Menteri Keuangan kembali mengubah peta pengelolaan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Presiden Prabowo resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, Senin (14/9/2026). Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2026.

Pergantian ini penting bukan semata karena perubahan figur, melainkan karena terjadi ketika sejumlah kebijakan fiskal yang dibangun pada era Purbaya masih berjalan.

Suahasil kini harus menentukan bagaimana kebijakan-kebijakan tersebut dilanjutkan, disesuaikan, atau dievaluasi.

Suahasil Punya Modal dari Dalam

Berbeda dengan figur yang datang dari luar birokrasi fiskal, Suahasil merupakan bagian dari lingkungan Kementerian Keuangan.

Sebelum dilantik menjadi Menteri Keuangan, ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Ia juga telah memiliki pengalaman panjang dalam kebijakan fiskal dan pengelolaan ekonomi negara.

Modal tersebut membuat Suahasil relatif tidak membutuhkan waktu panjang untuk memahami mesin birokrasi yang kini berada di bawah kendalinya.

Namun, tantangannya bukan sekadar memahami birokrasi.

Ia harus menentukan prioritas fiskal dalam situasi ketika pemerintah membutuhkan pertumbuhan ekonomi sekaligus harus menjaga kredibilitas APBN.

Kebijakan Rp200 Triliun Menjadi Salah Satu Ujian

Salah satu kebijakan Purbaya yang paling menonjol adalah penempatan SAL Rp200 triliun di bank-bank BUMN.

Dana tersebut ditempatkan untuk menjaga likuiditas dan mendorong kredit. Pada awal September, Purbaya memastikan penempatan Rp200 triliun diperpanjang hingga Juli 2027.

Pada Agustus, pemerintah juga menambah penempatan dana SAL Rp70 triliun. Purbaya menyebut total dana pemerintah di sistem perbankan BUMN mendekati Rp400 triliun.

Kebijakan tersebut memberikan gambaran mengenai pendekatan Purbaya: memperlonggar likuiditas agar perbankan memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit dan mendorong aktivitas ekonomi.

Pertanyaannya kini bergeser.

Apakah pendekatan tersebut akan menjadi bagian dari strategi fiskal Suahasil atau justru akan dikaji ulang?

Antara Pertumbuhan dan Disiplin Fiskal

Inilah tantangan utama yang menunggu Menteri Keuangan baru.

Pemerintah membutuhkan kebijakan fiskal yang cukup ekspansif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, ekspansi tersebut memiliki konsekuensi terhadap ruang fiskal dan pembiayaan APBN.

Karena itu, kredibilitas menjadi sama pentingnya dengan stimulus.

Pasar akan mencermati bagaimana Suahasil mengelola keseimbangan tersebut. Terlalu ketat dapat mengurangi dukungan fiskal terhadap pertumbuhan. Terlalu longgar dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan APBN.

Di tengah kondisi tersebut, kesinambungan kebijakan menjadi penting.

Pasar Menunggu Sinyal Pertama

Pergantian Menteri Keuangan selalu memiliki konsekuensi terhadap ekspektasi pasar.

Bukan karena pergantian pejabat secara otomatis mengubah fundamental ekonomi, tetapi karena pasar membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan pemerintah.

Suahasil memiliki keuntungan berupa pengalaman langsung di Kementerian Keuangan. Namun, ia juga menghadapi ekspektasi tinggi untuk menunjukkan bahwa transisi kepemimpinan fiskal tidak mengganggu kredibilitas pengelolaan APBN.

Sinyal pertama akan datang dari kebijakan yang dipilihnya.

Apakah ia melanjutkan kebijakan likuiditas yang dibangun Purbaya? Apakah penempatan dana pemerintah di perbankan akan dipertahankan dengan skema yang sama? Bagaimana pemerintah menjaga defisit dan pembiayaan? Dan sejauh mana fiskal akan digunakan untuk mendorong pertumbuhan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi perhatian dalam beberapa bulan mendatang.

Pergantian Figur, Perubahan Arah?

Purbaya hanya sekitar satu tahun berada di kursi Menteri Keuangan. Dalam periode tersebut, ia meninggalkan sejumlah agenda yang masih berjalan.

Suahasil kini datang bukan untuk mengisi ruang kosong, tetapi mengambil alih kendali atas kebijakan yang sudah memiliki konsekuensi fiskal dan ekonomi.

Karena itu, ukuran keberhasilan pergantian ini tidak dapat dilihat dari siapa yang duduk di kursi Menteri Keuangan.

Ukuran sebenarnya adalah apakah transisi tersebut mampu menjaga stabilitas APBN, mempertahankan kepercayaan pasar, dan pada saat yang sama memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi.

Babak baru fiskal pemerintahan Prabowo telah dimulai.

Kini, publik dan pasar menunggu apakah Suahasil akan menjadi penerus kebijakan Purbaya atau membawa koreksi yang cukup signifikan terhadap arah fiskal Indonesia. (Rnie)