Rehabilitasi Mangrove Dinilai Menjadi Fondasi Ketahanan Pangan dan Konservasi Ekosistem Pesisir
1 min read

Rehabilitasi Mangrove Dinilai Menjadi Fondasi Ketahanan Pangan dan Konservasi Ekosistem Pesisir

5 Kali Dibaca

Lanskap, Bali – Rehabilitasi mangrove dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus mendukung produktivitas sektor perikanan yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, saat puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia di Denpasar, Bali pada Minggu (26/7/2026). Menurutnya, pemulihan mangrove harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, serta dukungan pendanaan dan pengawasan yang berkelanjutan.

Berdasarkan data, Indonesia kehilangan sekitar 40 persen kawasan mangrove dalam tiga dekade terakhir. Kerusakan yang mencapai sekitar 52 ribu hektare setiap tahun menyebabkan hampir seperlima ekosistem mangrove berada dalam kondisi kritis.

Padahal, mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, mulai dari melindungi kawasan pesisir dari abrasi, menjadi habitat berbagai spesies laut, menyerap karbon dalam jumlah besar, hingga menopang produktivitas perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Karena itu, Trenggono menekankan bahwa rehabilitasi mangrove tidak cukup hanya melalui kegiatan penanaman, melainkan harus berbasis kesesuaian ekologi agar fungsi alami ekosistem dapat dipulihkan secara optimal.

Dalam jangka panjang, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan perluasan kawasan konservasi laut hingga 97,5 juta hektare pada 2045 yang mencakup kawasan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan sekaligus mendukung produktivitas perikanan nasional.

Program rehabilitasi mangrove juga dipadukan dengan revitalisasi tambak di Pantai Utara Jawa seluas 14 ribu hektare sebagai bagian dari upaya memperbaiki ekosistem pesisir, meningkatkan produksi perikanan, membuka lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan.

Dengan meningkatnya kebutuhan pangan global seiring proyeksi pertumbuhan penduduk dunia hingga 9,66 miliar jiwa pada 2050, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu produsen perikanan dunia yang didukung sekitar 23 persen ekosistem mangrove global. (Rnie)