Yang Bikin Susah Move On Kadang Bukan Mantan, Tapi Harapan
8 mins read

Yang Bikin Susah Move On Kadang Bukan Mantan, Tapi Harapan

0 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta: Ada jenis putus cinta yang selesai di chat, tetapi tidak selesai di kepala. Pesan terakhir sudah dibaca. Barang-barang mungkin sudah dikembalikan. Bahkan status hubungan sudah jelas: selesai. Tapi entah kenapa, hati masih sibuk mencari celah.

“Siapa tahu dia cuma butuh waktu.”

“Mungkin nanti dia berubah pikiran.”

“Kayaknya sebenarnya dia masih sayang.”

Kalimat-kalimat seperti itu cukup manusiawi. Ketika seseorang kehilangan hubungan yang berarti, otak dan emosi tidak selalu langsung bisa mengejar kenyataan. Putus hubungan bisa memunculkan kesedihan, kesepian, kecemasan, bahkan rasa kehilangan terhadap diri sendiri.

Jadi, kalau kamu masih denial, bukan berarti kamu lemah. Mungkin kamu hanya belum selesai menerima bahwa sesuatu yang selama ini kamu anggap sebagai “kita” sekarang berubah menjadi “aku”.

Dan proses menuju titik itu memang butuh waktu.

 

1. Akui Kalau Memang Sedang Kehilangan

Hal pertama yang perlu dilakukan justru bukan memaksa diri untuk segera move on. Akui saja: iya, aku sedih.

Iya, kamu masih kangen. Iya, kamu kecewa. Iya, ada bagian dari dirimu yang masih berharap dia kembali.

Tidak perlu berpura-pura baik-baik saja hanya karena hubungan sudah berakhir.

Cleveland Clinic menyebut berakhirnya hubungan dapat menjadi bentuk ambiguous loss, yaitu kehilangan yang tidak selalu memberikan rasa penutupan yang jelas. Karena itu, seseorang tetap perlu memberi ruang untuk berduka sebelum bisa benar-benar bergerak maju.

Move on bukan lomba. Tidak ada hadiah untuk orang yang paling cepat berhenti menangis.

 

2. Bedakan antara Rindu dan Harus Balikan

Ini bagian yang sering bikin seseorang terjebak. Kangen bukan selalu tanda bahwa kamu harus kembali.

Kadang kita merindukan rutinitas, percakapan setiap malam, tempat biasa bertemu, atau perasaan ketika masih punya seseorang untuk dihubungi. Yang dirindukan belum tentu orangnya secara utuh.

Coba tanyakan kepada diri sendiri:

“Aku benar-benar ingin kembali kepadanya, atau aku hanya tidak terbiasa hidup tanpa dia?”

Pertanyaan sederhana ini bisa membantu melihat situasi dengan lebih jernih.

Karena menerima hubungan telah selesai bukan berarti harus menghapus semua kenangan. Kamu hanya perlu berhenti menjadikan kenangan sebagai alasan untuk terus menunggu.

 

3. Berhenti Mencari “Kode” dari Mantan

Satu story dilihat.

Satu lagu diunggah.

Satu emoji muncul.

Lalu kepala langsung membuat teori.

“Jangan-jangan itu buat aku?”

Kalau sedang patah hati, hal kecil memang mudah terlihat seperti pesan tersembunyi.

Tapi kalau setiap aktivitas mantan terus kamu terjemahkan sebagai tanda bahwa dia masih punya perasaan, proses move on justru akan semakin panjang.

Kalau hubungan memang sudah berakhir, cobalah menerima pernyataan itu sebagaimana adanya. Tidak semua unggahan Instagram adalah kode. Kadang orang memang cuma mengunggah lagu.

 

4. Kurangi Kebiasaan Mengecek Media Sosialnya

Ini mungkin terdengar sepele, tetapi cukup penting. Kalau setiap membuka media sosial kamu selalu berakhir dengan mengunjungi profil mantan, melihat siapa yang dia ikuti, atau mencari tahu sedang bersama siapa, coba beri jarak.

Bukan karena kamu harus membenci dia. Justru karena kamu sedang memberi kesempatan kepada dirimu sendiri untuk pulih.

Dukungan sosial juga penting ketika seseorang menghadapi kehilangan. APA mencatat bahwa dukungan dari orang-orang yang dipercaya dapat membantu seseorang menghadapi masa sulit dan menjaga koneksi sosial.

Kalau perlu, mute dulu. Tidak harus unfollow kalau belum siap. Yang penting, jangan jadikan media sosial sebagai mesin pencari alasan untuk berharap.

 

5. Cerita ke Orang yang Kamu Percaya

Patah hati memang sering membuat kita ingin mengurung diri. Padahal, cerita kepada teman atau orang yang dipercaya bisa membantumu memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Bukan berarti setiap kali curhat harus mendapatkan solusi. Kadang kita cuma butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa berkata, “Udah, lupain aja.”

Karena ya… kalau melupakan semudah itu, mungkin artikel ini tidak perlu dibuat.

Yang penting, pilih orang yang bisa membantu kamu melihat situasi dengan lebih sehat, bukan yang justru terus memanaskan emosi atau mendorongmu mengejar mantan.

 

6. Tulis Semua yang Selama Ini Ingin Kamu Katakan

Kalau sulit bicara, coba tulis. Tidak perlu dibuat indah. Tidak perlu dikirim ke siapa pun.

Tulis saja semua yang ingin kamu katakan kepada mantan: marahnya, kecewanya, rasa terima kasihnya, pertanyaannya, sampai hal-hal yang sebenarnya tidak pernah sempat disampaikan.

Penelitian yang dirangkum American Psychological Association menemukan bahwa menulis mengenai pengalaman putus hubungan, khususnya dengan mencoba melihat sisi positif atau pembelajaran dari pengalaman tersebut, dapat membantu meningkatkan emosi positif setelah hubungan berakhir.

Jadi, daripada mengetik pesan panjang pukul 02.00 lalu menyesal pagi harinya, mungkin lebih aman menulisnya di notes.

Tidak semua perasaan harus sampai ke mantan. Sebagian cukup sampai ke halaman buku catatan.

7. Jangan Jadikan Alasan Putus sebagai Ukuran Harga Dirimu

Ini juga penting.

Pasangan memutuskan hubungan bukan berarti kamu gagal sebagai manusia.

Hubungan berakhir bisa terjadi karena banyak hal. Ketidakcocokan, perubahan kebutuhan, prioritas yang berbeda, masalah komunikasi, atau memang salah satu pihak sudah tidak ingin melanjutkan hubungan.

Semua itu tidak otomatis berarti kamu kurang cantik, kurang ganteng, kurang menarik, atau kurang layak dicintai.

Penolakan memang menyakitkan. Bahkan penelitian yang dibahas APA menunjukkan bahwa penolakan sosial dapat terasa sangat menyakitkan secara psikologis.

Tetapi ditolak seseorang bukan berarti ditolak oleh seluruh dunia.

 

8. Jangan Paksa Diri untuk Membenci

Ada anggapan bahwa cara tercepat move on adalah mengingat semua keburukan mantan.

Memang, melihat hubungan secara lebih realistis bisa membantu. Tetapi kamu tidak harus mengubah seseorang yang pernah kamu cintai menjadi “orang paling jahat sedunia” hanya supaya bisa pergi.

Kamu boleh mengakui:

“Dia pernah membuatku bahagia, tetapi hubungan ini memang sudah tidak bisa dilanjutkan.”

Dua hal itu bisa benar secara bersamaan.

Menerima kenyataan juga tidak sama dengan membenarkan semua tindakan seseorang. Dalam konteks psikologi, penerimaan dan pengampunan pun bukan berarti harus kembali berdamai atau melanjutkan hubungan.

 

9. Isi Kembali Hidupmu dengan Hal yang Bukan Tentang Dia

Setelah lama menjalani hubungan, ada kemungkinan sebagian rutinitas kita ikut “dimiliki” hubungan tersebut.

Tempat makan favorit bersama.

Teman-teman pasangan.

Film yang selalu ditonton bersama.

Bahkan playlist pun bisa punya cerita.

Sekarang waktunya mengambil kembali ruang-ruang tersebut.

Coba kembali melakukan hal yang dulu kamu suka. Olahraga, bertemu teman, belajar sesuatu, bepergian, membaca, memasak, atau sekadar punya rutinitas pagi yang baru.

Bukan untuk menunjukkan kepada mantan bahwa kamu baik-baik saja.

Lakukan karena hidupmu memang masih berjalan.

APA juga mencatat bahwa aktivitas yang dulu disukai maupun mencoba kegiatan baru dapat membantu seseorang memasuki babak baru setelah perpisahan.

10. Terima Bahwa Closure Tidak Selalu Datang dari Mantan

Ini mungkin bagian paling sulit.

Kita sering berpikir bisa move on setelah mendapatkan penjelasan terakhir.

“Kenapa kamu berubah?”

“Kenapa kamu memilih pergi?”

“Apa aku memang nggak cukup?”

“Apakah masih ada kemungkinan kita balikan?”

Padahal, tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Kadang closure bukan percakapan terakhir dengan mantan.

Kadang closure adalah ketika kamu akhirnya berkata kepada diri sendiri:

“Aku mungkin tidak mengerti semuanya, tapi aku menerima bahwa hubungan ini sudah selesai.”

Dan dari sana, kamu mulai berhenti menunggu.

Move On Bukan Berarti Lupa

Pada akhirnya, move on bukan berarti bangun pagi lalu tiba-tiba tidak punya perasaan apa-apa lagi.

Kamu mungkin masih ingat. Masih bisa sedih ketika mendengar lagu tertentu. Masih menemukan foto lama dan merasa sesak sebentar.

Tidak apa-apa.

Yang berubah adalah kamu tidak lagi membiarkan kenangan menentukan ke mana hidupmu harus berjalan.

Penelitian tentang pemulihan dari kehilangan menunjukkan bahwa waktu, dukungan sosial, dan kebiasaan yang sehat dapat membantu seseorang beradaptasi. Tidak ada batas waktu yang sama untuk semua orang dalam melewati kehilangan.

Jadi, kalau hari ini kamu masih denial, jangan buru-buru memarahi diri sendiri.

Pelan-pelan saja.

Terima bahwa dia memilih pergi.

Terima bahwa kamu masih sedih.

Terima bahwa cerita kalian pernah berarti.

Lalu, perlahan, pilih untuk tidak lagi menunggu seseorang yang sudah memilih untuk pergi.

Karena mungkin move on bukan tentang berhenti mencintai seseorang dalam satu malam.

Move on adalah ketika akhirnya kamu mulai memilih dirimu sendiri.

Jika kesedihan terasa sangat berat, berlangsung lama, atau sampai membuat aktivitas sehari-hari terganggu, mencari bantuan psikolog atau profesional kesehatan mental adalah pilihan yang wajar. APA menyebut psikoterapi dapat membantu orang menghadapi kehilangan, transisi besar dalam hidup, serta berbagai tekanan emosional.