Indonesia Ukir Sejarah, Bali Jadi Tuan Rumah Pertama The Summit Championship Asia Pasifik
2 mins read

Indonesia Ukir Sejarah, Bali Jadi Tuan Rumah Pertama The Summit Championship Asia Pasifik

3 Kali Dibaca

Lanskap, Bali – Tidak semua festival tari mampu mengubah posisi sebuah negara di peta seni dunia. Namun itulah yang sedang dilakukan Indonesia melalui Indonesian International Latin Festival & Asia-Pacific Salsa Summit 2026.

Perhelatan internasional yang akan berlangsung di Sheraton Bali Kuta Resort ini bukan sekadar menghadirkan kompetisi Salsa maupun Bachata, melainkan menjadi momentum bersejarah ketika Indonesia resmi menjadi negara pertama di Asia Pasifik yang dipercaya menggelar The Summit Championship, salah satu kompetisi Latin dance paling bergengsi di dunia.

Bagi pecinta Latin dance, nama The Summit Championship sudah tidak asing lagi. Kompetisi yang lahir di New York tersebut menjadi salah satu panggung paling prestisius bagi para penari profesional.

Kini, untuk pertama kalinya lisensi resminya hadir di kawasan Asia Pasifik, dan Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah.

Kepercayaan tersebut bukan datang begitu saja.

Melalui kerja sama Zigzag Indonesia bersama Tiara Josodirdjo & Associates (TJA), Indonesia menghadirkan konsep festival yang menggabungkan kompetisi internasional, workshop, pertunjukan seni, networking komunitas, hingga promosi budaya dan pariwisata.

Tema “Where Latin Passion Meets the Spirit of Indonesia” menjadi gambaran bagaimana semangat Latin dance berpadu dengan keramahan, budaya, dan keindahan Indonesia.

Festival ini diperkirakan diikuti 300 hingga 500 peserta, di mana sekitar 70 persen berasal dari mancanegara.

Mereka datang dari Jepang, Australia, Korea Selatan, China, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India hingga Selandia Baru.

Tak hanya menjadi ruang kompetisi, festival juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi Bali.

Ratusan peserta internasional diproyeksikan meningkatkan okupansi hotel, aktivitas restoran, transportasi, hingga sektor UMKM dan ekonomi kreatif.

Berbagai workshop bersama maestro dunia juga akan menjadi kesempatan emas bagi komunitas Latin dance Indonesia untuk belajar langsung dari para profesional internasional.

Dengan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pariwisata RI, festival ini juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

Target jangka panjangnya tidak main-main.

Panitia ingin menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat Latin dance terbesar di Asia Pasifik sekaligus menghadirkan lebih dari 1.000 peserta internasional pada penyelenggaraan berikutnya.

Melalui festival ini, Indonesia kembali menunjukkan bahwa seni mampu menjadi jembatan yang menyatukan budaya, memperkuat pariwisata, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif yang lebih luas. (Firda)