
GROW AI Exabytes dan Jalan Baru UMKM Indonesia Menyambut Era Bisnis Berbasis AI
Lanskap, Jakarta – Bagi banyak pelaku usaha, transformasi digital selama ini identik dengan kehadiran di internet, media sosial, marketplace atau penggunaan berbagai aplikasi bisnis. Namun, perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah arah perjalanan tersebut.
Exabytes melihat perubahan itu sebagai momentum untuk membawa bisnis menuju tahap berikutnya.
Dalam GROW AI Summit 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Agustus 2026, Exabytes memperkenalkan arah strategis baru “GROW AI”, menggantikan tagline sebelumnya, “GROW Digital”.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian slogan. Exabytes ingin membawa pelaku usaha bergerak dari sekadar memiliki kehadiran digital menuju operasional yang memanfaatkan AI sebagai bagian dari mesin pertumbuhan.
Untuk Indonesia, langkah ini memiliki arti strategis. Dengan basis UMKM yang besar dan perkembangan ekonomi digital yang terus bergerak, AI berpotensi menjadi instrumen baru untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan daya saing usaha.
Membuat AI Lebih Dekat dengan Bisnis
Persoalannya, adopsi AI tidak selalu mudah bagi pelaku usaha.
Sebagian masih berhadapan dengan keterbatasan literasi digital, infrastruktur dan pemahaman mengenai bagaimana teknologi baru tersebut diterapkan secara aman.
Di titik inilah Exabytes ingin mengambil peran.
Melalui GROW AI, perusahaan berupaya menyederhanakan perjalanan adopsi AI agar dapat digunakan oleh pelaku bisnis dari berbagai skala.
Strategi tersebut dibangun melalui prinsip RASA: Reliable, Accessible, Scalable, dan AI-driven.
Sementara itu, semangat yang dibawa dirangkum dalam pesan “Run Smarter, Operate Faster, GROW Further.”
AI tidak ditempatkan hanya sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai bagian dari cara bisnis bekerja, melayani pelanggan, meningkatkan produktivitas dan mengambil peluang pertumbuhan.
25 Tahun Menemani Bisnis
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Exabytes Group, Chan Kee Siak, melihat GROW AI sebagai kelanjutan dari perjalanan perusahaan selama seperempat abad.
Selama 25 tahun, Exabytes disebut telah mendukung lebih dari 160.000 bisnis.
“Dengan adopsi AI dan strategi baru ini, kami menetapkan target besar untuk membantu lebih banyak bisnis bertumbuh melalui AI,” kata Chan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata-mata soal ketersediaan teknologi, tetapi bagaimana membuat AI lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh pelaku usaha.
“Banyak pelaku usaha menyadari bahwa AI akan menentukan cara mereka bersaing, namun sebagian besar masih ragu dari mana harus memulai dan bagaimana menerapkannya dengan aman,” ujarnya.
Karena itu, Exabytes berupaya menggabungkan teknologi, infrastruktur, keahlian dan jaringan mitra dalam satu ekosistem.
Tujuannya sederhana: membuat pemanfaatan AI menghasilkan perubahan yang dapat diukur dalam operasional bisnis.
Indonesia Jadi Pasar Strategis
Indonesia menjadi salah satu dari tiga pasar inti Exabytes bersama Malaysia dan Singapura.
Besarnya ekosistem UMKM serta perkembangan ekonomi digital menjadikan Indonesia salah satu motor penting dalam ambisi Exabytes memberdayakan satu juta bisnis dengan AI pada 2030.
VP & Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan, menyebut GROW AI sebagai komitmen untuk mendampingi pelaku usaha Indonesia menghadapi perubahan teknologi.
“Bagi Indonesia, GROW AI bukan sekadar arah baru, melainkan komitmen nyata untuk mendampingi UMKM dan bisnis lokal menjawab tantangan hari ini,” ujar Indra.
Menurutnya, teknologi harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Ekosistem AI untuk Berbagai Kebutuhan
Komitmen tersebut akan diterjemahkan melalui sejumlah produk dan solusi AI yang disiapkan Exabytes.
Dalam waktu dekat, perusahaan akan menghadirkan berbagai solusi yang dapat digunakan untuk mendukung layanan pelanggan, penjualan, pemasaran, otomasi alur kerja hingga penyediaan infrastruktur AI yang dapat berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.
Dengan pendekatan tersebut, pelaku usaha tidak harus melakukan perubahan besar dalam satu waktu.
Adopsi AI dapat dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan operasional masing-masing bisnis.
Bagi Exabytes, perubahan dari GROW Digital menjadi GROW AI menandai pergeseran penting dalam cara bisnis melihat teknologi.
Jika digitalisasi sebelumnya membantu bisnis hadir dan terhubung, AI diharapkan membantu mereka bekerja lebih cerdas, bergerak lebih cepat dan menciptakan pertumbuhan yang lebih terukur.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan lagi apakah bisnis akan menggunakan AI, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut benar-benar memberikan nilai bagi manusia yang menjalankan bisnis itu sendiri. (Rnie)



