
Dari Cerita dan Permainan, Anak-anak Belajar Mengenal Indonesia
Lanskap, Jakarta – Di atas tikar, anak-anak duduk bersama. Tidak ada suasana kelas yang kaku. Ada cerita, gambar, papan tulis, permainan, dan sesekali tawa yang muncul di antara percakapan.
Di ruang sederhana itu, mereka sedang belajar sesuatu yang lebih luas dari sekadar membaca dan menulis: mengenal Indonesia melalui budaya.
Momen tersebut hadir dalam kegiatan “Mengenal Budaya Nusantara Melalui Seni dan Cerita” yang digelar Rumah Belajar August Hamonangan pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Puluhan anak dari berbagai usia mengikuti kegiatan yang berlangsung di area belajar Rumah Belajar August Hamonangan.
Suasana kemerdekaan ikut mewarnai kegiatan. Umbul-umbul Merah Putih menghiasi area belajar, berpadu dengan mural berwarna ceria di dinding.
Sebuah ruang belajar yang sederhana, tetapi dibuat agar anak-anak merasa nyaman untuk bertanya, bercerita, dan berekspresi.
Budaya Tidak Harus Diajarkan dengan Cara yang Kaku
Mengenal budaya bisa dimulai dari sebuah cerita.
Anak-anak diajak mengenal budaya daerah melalui cerita, gambar, dan diskusi interaktif. Mereka kemudian mengikuti sesi menulis di papan tulis bersama fasilitator.
Setelah itu, permainan edukatif menjadi bagian dari proses belajar.
Di balik permainan tersebut, terdapat nilai yang ingin ditanamkan: gotong royong, toleransi, kebersamaan, dan rasa cinta terhadap Tanah Air.
Cara belajar seperti ini membuat budaya tidak hadir sebagai sesuatu yang jauh atau sulit dipahami.
Budaya menjadi sesuatu yang bisa dibicarakan, dimainkan, dan dirasakan bersama.
“Anak-anak bukan hanya belajar membaca dan menulis. Kami ingin mereka juga bangga dengan budaya sendiri. Lewat kegiatan seperti ini, kami menanamkan karakter dan kecintaan pada Indonesia sejak dini,” ujar Hudson Elbert Sinaga, Pendiri Rumah Belajar August Hamonangan dan Yayasan Hati Kita Serupa.
Ketika Relawan Menjadi Teman Belajar
Dalam kegiatan tersebut, para pengajar dan relawan tidak hanya berdiri di depan sebagai pengajar.
Mereka duduk bersama anak-anak, mendengarkan, membantu ketika diperlukan, dan membuka ruang agar setiap anak dapat mengekspresikan dirinya.
Pendekatan ini dipilih agar kegiatan belajar terasa lebih dekat.
Sebab, bagi anak-anak, rasa nyaman sering kali menjadi pintu pertama untuk berani bertanya dan mencoba.
Rumah Belajar August Hamonangan sendiri merupakan inisiatif komunitas yang bergerak dalam pendidikan non-formal, literasi, dan pengembangan karakter anak-anak di wilayah Bekasi.
Kegiatan budaya menjadi salah satu cara untuk memperluas pengalaman belajar mereka.
Dan kegiatan tersebut tidak berhenti pada satu pertemuan.
Rumah Belajar August Hamonangan berencana menggelar kegiatan serupa secara rutin setiap bulan dengan tema yang berbeda.
Pendidikan dan Budaya sebagai Bekal Masa Depan
Ada alasan mengapa budaya penting diperkenalkan sejak anak-anak.
Budaya bukan hanya tentang pakaian tradisional, kesenian, lagu daerah, atau cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai tentang bagaimana manusia hidup bersama, menghargai perbedaan, bekerja sama, dan memahami identitasnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika anak-anak tumbuh di tengah lingkungan yang semakin beragam.
Karena itu, kegiatan sederhana seperti yang dilakukan Rumah Belajar August Hamonangan memiliki arti yang lebih panjang daripada durasi sebuah acara.
Ia menjadi ruang untuk menanamkan rasa percaya diri sekaligus kebanggaan terhadap Indonesia.
“Kami mengajak masyarakat, donatur, dan relawan untuk bersama-sama mendukung. Karena pendidikan dan budaya adalah fondasi untuk mencetak generasi yang kuat,” kata Tri Widya, perwakilan pengajar Rumah Belajar August Hamonangan.
Pada akhirnya, sebuah kegiatan belajar tidak selalu membutuhkan ruang yang besar.
Kadang, cukup dengan tikar, papan tulis, beberapa cerita, relawan yang mau mendampingi, dan anak-anak yang diberi kesempatan untuk bermimpi.
Dari ruang sederhana itulah, kecintaan terhadap pendidikan dan budaya bisa mulai tumbuh. (Hnd)


