Mencicipi Tokyo Tanpa Terbang: Ketika Street Food Jepang Menemukan Ruangnya di Hotel
3 mins read

Mencicipi Tokyo Tanpa Terbang: Ketika Street Food Jepang Menemukan Ruangnya di Hotel

0 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta โ€“ Ada banyak cara untuk mengenal sebuah kota. Bisa melalui jalan-jalannya, bangunan, budaya, atau makanan yang tumbuh di antara kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Tokyo, misalnya, tidak hanya hadir melalui gedung pencakar langit dan kawasan metropolitan. Kota itu juga hidup dalam semangkuk makanan sederhana, kios kecil, aroma panggangan, dan sajian yang dinikmati di tengah kesibukan.

Nuansa itulah yang coba dibawa Archipelago Hotels melalui 60 Seconds to Tokyo.

Program ini menjadi bagian terbaru dari Archipelago Global Flavours Series dan berlangsung selama enam bulan, mulai 1 Juli hingga 31 Desember 2026.

Lebih dari 130 unit Archipelago Hotels di Indonesia ikut menghadirkan pengalaman kuliner tersebut. Salah satunya Hotel Aston Priority Simatupang.

Tokyo dalam program ini bukan sekadar nama destinasi. Ia diterjemahkan melalui cita rasa street food Jepang yang dapat ditemukan dalam berbagai sajian.

Ren, Reina, dan Kerinduan pada Rasa

Di balik 60 Seconds to Tokyo ada Ren dan Reina.

Ren adalah pria berdarah Indonesia dan Jepang. Reina merupakan perempuan Jepang yang tinggal di Indonesia. Keduanya dipertemukan oleh kecintaan yang sama terhadap makanan jalanan Jepang.

Bagi Reina, makanan tersebut membawa ingatan terhadap negeri asalnya. Bagi Ren, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: menjaga agar cita rasa tetap memiliki karakter Jepang.

Dari sana, makanan menjadi semacam jembatan. Tidak semua orang harus pergi ke Tokyo untuk mengenal rasanya.

Ketika Tokyo Hadir di Meja Makan

Pilihan menu dalam program ini cukup beragam.

Ada Menchi Chicken Katsu, ayam katsu dengan bagian luar renyah dan bagian dalam juicy. Ada pula Sakura Sunset, minuman bernuansa floral, serta Kuromitsu Matcha Puff yang mempertemukan karakter earthy matcha dengan manisnya kuromitsu.

Menu lainnya membawa berbagai interpretasi makanan Jepang, mulai dari Chicken Kamikaze, Chicken Katsu Sando, Takoyaki, Wagyu Burger, Hambagu, hingga Yakimeshi Fried Rice.

Ada pula Grilled Chicken Breast with Koji Sauce dan Prawn Tempura Nori Taco.

Untuk dessert tersedia Japanese Cotton Cheese, sedangkan pilihan minumannya antara lain Shizuku Matcha Cooler, Shiso-Basil Berry, dan Hojicha Latte.

Semua sajian tersebut menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang ditawarkan di jaringan Archipelago Hotels.

Dari Seoul ke Tokyo

60 Seconds to Tokyo melanjutkan perjalanan program Archipelago Global Flavours Series setelah sebelumnya menghadirkan 60 Seconds to Seoul.

Program Korea tersebut berlangsung dari Januari hingga Juni 2026 dan meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 untuk kategori Hospitality Engagement Campaign.

Pergantian tema dari Seoul ke Tokyo juga memperlihatkan bagaimana perjalanan kuliner dapat menjadi cara lain membaca perubahan minat masyarakat.

Jepang sendiri memiliki tempat khusus dalam imajinasi perjalanan masyarakat Indonesia. Berdasarkan SiteMinder Changing Traveller Report 2025, Jepang menjadi destinasi luar negeri favorit wisatawan Indonesia dengan 33 persen responden memilih negara tersebut.

Sementara itu, JNTO mencatat 558.900 wisatawan Indonesia mengunjungi Jepang sepanjang Januari hingga November 2025.

Ketika perjalanan fisik ke Jepang belum selalu memungkinkan, makanan dapat menjadi bentuk perjalanan yang lebih sederhana.

Sebuah piring katsu, semangkuk takoyaki, aroma hojicha, atau rasa matcha mungkin tidak sepenuhnya membawa seseorang ke Tokyo.

Namun, ia dapat membuka pintu kecil menuju pengalaman tentang sebuah kota yang selama ini hanya dikenal melalui gambar dan cerita.

Melalui 60 Seconds to Tokyo, Archipelago Hotels mencoba menghadirkan pintu kecil tersebut di berbagai kota di Indonesia.

Dan di meja makan hotel, Tokyo pun menemukan cara untuk bercerita. (Rnie)