
Menelusuri Jejak Pejuang, Triwijaya Ajak Siswa Memaknai Kemerdekaan
Lanskap, Bogor – Kemerdekaan bagi generasi muda tidak cukup hanya diperingati melalui upacara. Ada sejarah panjang, pengorbanan, dan nilai perjuangan yang perlu terus dikenalkan kepada mereka yang akan meneruskan perjalanan bangsa.
Semangat itulah yang dibangun Lembaga Pendidikan Triwijaya melalui rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
SMP dan SMK Triwijaya menggelar napak tilas dengan menyusuri jalur gerilya para pejuang di wilayah Cigombong pada 14 Agustus 2026.
Diikuti anggota Pramuka, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar di luar kelas. Para siswa tidak hanya diajak berjalan dan beraktivitas secara fisik, tetapi juga mengenal jejak perjuangan para pendahulu.
Nilai keberanian, persatuan, pengorbanan, dan pantang menyerah menjadi bagian yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut.
Dari Jejak Perjuangan ke Lapangan Upacara
Empat hari berselang, semangat kebangsaan kembali diwujudkan melalui upacara pengibaran bendera pada 17 Agustus 2026.
Petugas upacara berasal dari perwakilan siswa SMP dan SMK Triwijaya bersama tim Paskibra. Mereka mendapatkan pembinaan dan latihan dari para guru muda di bawah pimpinan Tri Agung dengan mengadopsi materi dan tata latihan Paskibraka.
Kepala SMP Triwijaya, Usman, SE, GR, mengatakan sejarah perjalanan bangsa memperlihatkan besarnya peran kaum muda dalam perjuangan Indonesia.
“Semangat ini harus kita tanamkan dalam diri kita semua dalam mengisi kemerdekaan dengan upaya kerja keras, mempersiapkan diri sebaik mungkin.”
Menurutnya, tugas siswa dalam mengisi kemerdekaan dapat diwujudkan melalui prestasi akademik dan nonakademik, kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat.
Kebangsaan sebagai Bagian dari Pendidikan
Kepala SMK Triwijaya, Saepudin Suherman, S.Pd., SH., MM., melihat pendidikan tidak semata-mata bertugas mentransfer pengetahuan.
Sekolah juga memiliki tanggung jawab membangun karakter dan kesadaran kebangsaan generasi muda.
“Indonesia tidak lahir dari ruang hampa. Negara ini berdiri atas cita-cita luhur dan perjuangan seluruh rakyat Indonesia untuk membangun sebuah negara yang besar, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.”
Menurut Saepudin, komitmen tersebut perlu dijaga agar generasi muda memiliki semangat untuk meneruskan perjuangan melalui karya.
Karena itu, Triwijaya berkomitmen terus menghadirkan pendidikan yang menggabungkan kemampuan akademik dengan pembentukan karakter.
Rangkaian kegiatan kemerdekaan menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut. Nilai-nilai Pancawaluya yang menjadi bagian dari pembentukan karakter di Triwijaya diterjemahkan dalam kegiatan yang mendorong siswa menjadi pribadi yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Pada akhirnya, napak tilas dan upacara bukan hanya tentang memperingati masa lalu. Keduanya menjadi cara untuk menghubungkan sejarah perjuangan dengan tanggung jawab generasi muda hari ini: belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi bagi masa depan Indonesia. (Ckr03/red)



