Delapan Tahun Kemudian, RUCI Art Wall Kembali Membuka Ruang bagi Seniman Baru
4 mins read

Delapan Tahun Kemudian, RUCI Art Wall Kembali Membuka Ruang bagi Seniman Baru

4 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Delapan tahun adalah waktu yang cukup panjang.

Dalam rentang tersebut, banyak hal berubah dalam dunia seni rupa. Nama-nama baru muncul, ruang seni bertambah, cara seniman bekerja berkembang, dan publik menemukan cara baru untuk berinteraksi dengan karya.

Namun satu kebutuhan tampaknya tetap sama: ruang untuk memulai.

Kebutuhan itulah yang kembali dihadirkan RUCI Art Space melalui RUCI Art Wall (RAW) Vol. 2.

Pameran ini mempertemukan 21 seniman terpilih dari lebih dari 300 proposal yang masuk melalui open submission.

RAW Vol. 2 berlangsung pada 9 Agustus hingga 27 September 2026 di RUCI Art Space, Jakarta.

Sebuah Ruang untuk Memulai

RAW pertama kali diperkenalkan pada November 2018.

Gagasannya sederhana: memberikan kesempatan kepada seniman yang sedang membangun praktiknya untuk memperkenalkan karya kepada publik dan merasakan secara langsung bagaimana sebuah karya bekerja dalam ruang galeri.

Delapan tahun kemudian, gagasan tersebut kembali.

Namun kali ini dengan sebuah angka yang cukup berbicara: lebih dari 300 proposal.

Di tengah semakin banyaknya ruang seni dan pameran di Indonesia, jumlah tersebut memperlihatkan bahwa masih banyak seniman yang membutuhkan tempat untuk memulai percakapan dengan publik.

“RAW Vol. 2 mempertemukan dua bentuk ‘kemudaan’,” ujar Rio Pasaribu, Gallery Director dan Co-Founder RUCI Art Space.

Menurutnya, ada seniman yang masih muda secara usia, tetapi ada pula mereka yang telah lama berkarya dan baru menemukan kesempatan untuk memulai perjalanan berpameran.

Yang menjadi perhatian bukan semata usia maupun medium, tetapi keberanian untuk membawa pengalaman yang dekat dengan kehidupan masing-masing ke dalam karya.

Ketika Musik Menjadi Lukisan

Salah satu contoh datang dari Elfa Zulham.

Selama ini, ia lebih dikenal sebagai pemain drum jazz Indonesia. Dalam RAW Vol. 2, pengalaman musikal tersebut berpindah ke kanvas.

Billie Holiday dan Miles Davis muncul dalam karyanya. Tetapi bukan dalam representasi yang konvensional.

Keduanya mengenakan jersey basket dan ditempatkan di atas lembaran partitur dari karya musik mereka.

Jazz bertemu kultur populer. Musik bertemu seni rupa.

Bagi Zulham, pertemuan tersebut menjadi bentuk penghormatan personal terhadap musisi yang memiliki peran dalam perjalanan musikalnya.

Kayu yang Menyimpan Ingatan

Berbeda lagi dengan Rosa Guerinoni.

Ia memilih kayu reklamasi dari rumah-rumah tua sebagai bidang lukis.

Material tersebut membawa sejarahnya sendiri.

Lapisan cat, goresan, dan tanda-tanda usia tidak dihilangkan. Justru jejak tersebut menjadi bagian dari karya.

“Setiap panel membawa jejak kehidupan sebelumnya,” kata Rosa.

Latar belakangnya dalam classical sculpture di Academy of Fine Arts di Florence turut membentuk praktik yang mempertemukan material, figur manusia, identitas, dan memori.

Sementara itu, Labaika Adkha Maharani membawa perhatian pada sesuatu yang lebih sederhana melalui karya Belajar dari Yang Kecil.

Figur resin dalam karya tersebut seakan menawarkan sesuatu kepada penonton.

Bukan benda, melainkan pengalaman kecil yang mungkin pernah begitu dekat ketika masih anak-anak, tetapi perlahan terlupakan ketika seseorang tumbuh dewasa.

Tidak Ada Satu Cerita

RAW Vol. 2 tidak berusaha menyatukan 21 seniman dalam satu narasi.

Justru sebaliknya.

Perbedaan menjadi cara pameran ini berbicara.

Alfan Manthovani, Anady Aria, Anzi Matta, Bismar Siagian, Elfa Zulham, Jerojerrr, Fitra Rahardjo, Gusti Kade, Iqbal Dwi Priatna, Jaz Abraham Pratama, Labaika Adkha Maharani, Lowpop, M. Rizky Aditya, Raymond Gandayuwana, R. Dewa, Rosa Guerinoni, MivetBoi, Shavira Mada, Suwandi Waeng, Svkmatra, dan Trio Muharam membawa pengalaman mereka masing-masing.

Ada musik. Ada identitas. Ada keluarga. Ada ingatan. Ada tubuh. Ada masa kanak-kanak. Ada pengalaman menjadi dewasa.

Tidak semuanya harus dibaca dengan cara yang sama.

Ketika Galeri Menjadi Titik Awal

Bagi RUCI Art Space, RAW bukan sekadar proyek untuk menemukan nama-nama baru.

Ia adalah tentang memberikan titik awal.

Sebuah tempat di mana karya pertama kali bertemu dengan publik. Tempat percakapan dimulai. Tempat seorang seniman mendapatkan pengalaman yang mungkin menjadi bagian penting dari perjalanan berikutnya.

Neysa Soediro, Marketing Director RUCI Art Space, melihat respons terhadap open submission sebagai tanda bahwa ruang seperti RAW masih dibutuhkan.

“Begitu banyak seniman memiliki karya dan gagasan yang ingin mereka sampaikan, tetapi belum tentu memiliki ruang untuk memperlihatkannya,” ujarnya.

Mungkin pada akhirnya, arti penting RAW Vol. 2 bukan hanya terletak pada 21 nama yang dipilih tahun ini.

Tetapi pada 300 lebih seniman yang berani mengirimkan proposal dan mengatakan: ini karya saya, dan saya ingin seseorang melihatnya.

Di situlah sebuah perjalanan seni bisa dimulai.

RUCI Art Wall Vol. 2 berlangsung 9 Agustus–27 September 2026 di RUCI Art Space, Jakarta. (Firda)