Ketika Persoalan Lingkungan Menjadi Ruang Inovasi Siswa
3 mins read

Ketika Persoalan Lingkungan Menjadi Ruang Inovasi Siswa

3 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Keterbatasan air bersih, persoalan limbah, pencemaran lingkungan hingga kebutuhan energi alternatif menjadi sejumlah persoalan yang diangkat siswa SMA dalam National Innovation Challenge.

Kompetisi tersebut mempertemukan 10 tim finalis dalam babak puncak program Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition, kolaborasi BASF Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia (PJI).

Final kompetisi digelar di kantor BASF Indonesia, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Sebanyak 50 siswa mempresentasikan gagasan mereka di hadapan dewan juri dari unsur dunia usaha, pendidikan, dan praktisi keberlanjutan.

Program yang dimulai sejak April 2026 tersebut sebelumnya melibatkan 100 siswa dalam 20 tim dari 16 SMA di Jabodetabek.

Yang menarik, gagasan para siswa tidak berangkat dari persoalan yang jauh dari kehidupan mereka. Mereka mengamati lingkungan sekolah dan masyarakat, kemudian mencoba memahami persoalan yang muncul sebelum merumuskan solusi.

Dari Persoalan Sehari-hari Menjadi Prototipe

Melalui pendekatan design thinking, siswa diajak mengidentifikasi masalah, memahami siapa yang terdampak, melakukan riset, kemudian mengembangkan gagasan.

Pendekatan tersebut dipadukan dengan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Hasilnya, muncul berbagai gagasan yang memanfaatkan teknologi, material sisa, sensor, kecerdasan buatan, aplikasi digital hingga analisis data.

Enam tema menjadi fokus inovasi peserta, yakni Aksi Iklim, Air dan Sanitasi, Konsumsi Bertanggung Jawab, Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Limbah, Energi Berkelanjutan, serta Solusi Digital untuk Keberlanjutan.

Dalam tahap final, setiap tim harus menjelaskan persoalan yang ingin diselesaikan, konsep dan manfaat solusi, target pengguna serta rencana pengembangan prototipe.

Bagi Rurry Fatchurrachman, Kasubtim Peserta Didik, Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, proses tersebut memberikan kesempatan bagi siswa untuk menghubungkan pengetahuan dengan aksi.

“Program ini memberi ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” kata Rurry.

O2H dan Persoalan Akses Air

Salah satu gagasan yang kemudian menjadi pemenang adalah O2H: Atmospheric Water Harvesting System dari Tim Gen V SMAN 21 Jakarta.

Tim tersebut mengangkat persoalan akses air bersih yang masih menjadi tantangan bagi sejumlah rumah tangga dan komunitas, terutama ketika musim kemarau.

Perwakilan Tim Gen V, Muhammad Rizqi Sugianto, mengatakan timnya mengembangkan konsep perangkat ringkas untuk mengubah kelembapan udara menjadi air melalui proses penyaringan dan sterilisasi.

“O2H berawal dari kepedulian kami terhadap keterbatasan akses air bersih yang dialami sejumlah rumah tangga dan komunitas, terutama saat musim kemarau,” ujar Rizqi.

Kemenangan tersebut, lanjutnya, menjadi dorongan bagi tim untuk terus mempelajari dan menyempurnakan gagasan yang mereka kembangkan.

Belajar Memecahkan Masalah

Presiden Direktur BASF Indonesia Dr. Christofer Arisandy mengatakan keberlanjutan tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi, tetapi juga generasi muda yang mampu memahami tantangan dan melihat peluang untuk menciptakan solusi.

“Melalui program Young Voices for a Sustainable Future, para siswa dipacu untuk menunjukkan bahwa inovasi dapat berawal dari permasalahan sehari-hari dan berkembang menjadi gagasan yang memberikan dampak nyata melalui riset, kreativitas, dan kolaborasi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati menilai pengalaman mencari solusi secara langsung dapat membantu siswa memahami hubungan antara pelajaran dan kebutuhan masyarakat.

“Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang masalah lingkungan. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu penyebab masalah, mencoba berbagai gagasan, bekerja sama, menerima masukan, dan memperbaiki solusi yang mereka kembangkan,” kata Utami.

Sepanjang program, para siswa juga memperoleh pendampingan dari mentor BASF untuk mempertajam perumusan masalah, menentukan target pengguna, mengembangkan proposal, dan menyusun rencana prototipe.

Dari proses tersebut, kompetisi tidak hanya menjadi ruang untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi pengalaman belajar bagi siswa dalam melakukan riset, berkolaborasi, mengomunikasikan gagasan, serta menghadapi persoalan secara lebih terstruktur.

Melalui Young Voices for a Sustainable Future, BASF Indonesia dan PJI mendorong agar persoalan lingkungan dan sosial dapat dilihat sebagai ruang pembelajaran sekaligus peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan. (Hnd)