
Tangis Pecah! Pelajar Thailand Ini Tak Mau Tinggalkan Leuwiliang
Lanskap, Bogor – Tangis itu pecah di akhir pertemuan. Bukan sekadar perpisahan biasa, tetapi perasaan yang sulit dijelaskan setelah kebersamaan yang begitu dekat.
Sebanyak 21 pelajar dari Tamavitaya Mulnity School harus mengakhiri program pertukaran pelajar selama dua pekan di Pesantren Modern Ummul Quro Al Islami, Leuwiliang pada Senin (20/4/2026).
Selama berada di Indonesia, mereka tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga menjalani kehidupan sehari-hari bersama para santri. Dari bangun pagi, belajar, hingga berbagi cerita di sela waktu luang—semua momen sederhana itu perlahan berubah menjadi kenangan yang melekat.
Di tempat yang awalnya terasa asing, mereka justru menemukan kehangatan. Lingkungan pesantren yang penuh kebersamaan membuat para pelajar merasa seperti memiliki keluarga baru.
Saat acara penutupan digelar di Universitas Islam Bogor, suasana haru tak terhindarkan. Tangis mulai pecah, pelukan demi pelukan terjadi, seolah waktu ingin dihentikan sejenak.
Salah satu pelajar, Taranda Paokaday, bahkan mengungkapkan keinginannya untuk tidak segera kembali ke negaranya. Ia merasa belum puas menikmati kebersamaan yang terjalin selama dua pekan tersebut.
“Belum siap pulang,” ungkapnya singkat, namun penuh makna.
Kisah ini menjadi bukti bahwa perbedaan bahasa dan budaya bukanlah penghalang untuk membangun kedekatan. Justru dari perbedaan itulah lahir rasa saling memahami dan menghargai.
Program pertukaran pelajar ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik, tetapi juga mempererat persahabatan lintas negara. Dalam waktu yang singkat, hubungan yang terjalin mampu meninggalkan kesan mendalam.
Dua pekan mungkin terdengar singkat. Namun bagi mereka, waktu itu cukup untuk menciptakan ikatan yang sulit dilupakan.
Dan di hari perpisahan itu, satu hal terasa jelas—Leuwiliang bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan rumah kedua yang akan selalu mereka kenang. (Byu)



