Revibes Dorong Ekonomi Sirkular dari Sekolah lewat Collection Point Digital
2 mins read

Revibes Dorong Ekonomi Sirkular dari Sekolah lewat Collection Point Digital

7 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Konsep ekonomi sirkular mulai diperkenalkan dari lingkungan sekolah melalui pemanfaatan teknologi. Revibes mengembangkan Revibes Collection Point, sistem pengumpulan botol plastik berbasis digital yang menggabungkan pengelolaan limbah dengan edukasi keberlanjutan.

Salah satu titik pengumpulan tersebut berada di MTsN 36 Jakarta Barat. Dalam waktu sekitar satu minggu, hampir 300 botol plastik bekas berhasil dikumpulkan melalui partisipasi siswa, guru, dan staf sekolah.

Collection Point MTsN 36 merupakan bagian dari jaringan Revibes yang kini telah tersebar di lima lokasi di wilayah Jakarta dan Tangerang.

Founder Revibes, Carissa Handrian, mengatakan teknologi dan digitalisasi dapat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan pengelolaan limbah sekaligus memperkenalkan ekonomi sirkular sejak usia sekolah.

Kegiatan di MTsN 36 sendiri menjadi bagian dari rangkaian gerakan yang telah dimulai pada Desember 2025.

Program diawali dengan kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan dan pemberian kacamata gratis. Setelah itu, pengguna secara mandiri mengikuti daily check-in melalui aplikasi Revibes yang berisi edukasi tentang finansial, ekonomi, dan sustainability.

Pada 17 September 2026, Revibes memberikan apresiasi kepada pengguna paling aktif dengan memberikan kesempatan menukarkan Revibes Point menjadi sembako.

Setelah rangkaian tersebut, gerakan dilanjutkan melalui pengumpulan botol plastik secara mandiri dan berkelanjutan.

Membangun Kebiasaan dari Sekolah

Sistem Collection Point dibuat agar mudah digunakan oleh siswa, guru, maupun staf. Aktivitas pengumpulan botol plastik terhubung dengan fitur digital dalam aplikasi Revibes.

Dalam waktu sekitar satu minggu, hampir 300 botol plastik berhasil dikumpulkan di MTsN 36.

Menurut Carissa, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah cara pandang generasi muda terhadap limbah di lingkungan mereka.

“Kami ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap sampah di sekitar mereka. Melalui Collection Point di sekolah MTsN 36 ini, kami mengenalkan praktik ekonomi sirkular berbasis digital sejak dini,” ujarnya.

Carissa mengatakan botol plastik bekas sebenarnya masih dapat memiliki nilai ketika dikelola secara tepat.

“Botol plastik bekas pakai ini sebenarnya adalah aset. Jika dikumpulkan dan dikelola lewat sistem digital yang kami bangun, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh komunitas yang membutuhkan dan bahkan bisa mendukung riset ilmiah,” katanya.

Pendekatan tersebut menempatkan pengelolaan sampah dalam konteks yang lebih luas. Selain lingkungan, program juga menyentuh edukasi finansial, ekonomi, pemberdayaan komunitas, dan inovasi.

Perluasan Collection Point

Revibes menargetkan memiliki sedikitnya 15 Collection Point dalam satu tahun ke depan. Pengembangan tersebut akan diarahkan ke sekolah-sekolah dan komunitas masyarakat di kawasan padat penduduk.

Perluasan titik pengumpulan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan ekonomi sirkular berbasis digital secara lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui aplikasi Revibes, botol plastik yang terkumpul diharapkan dapat memiliki nilai lebih dari sekadar material buangan. Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun sumber pendanaan untuk kegiatan ekonomi dan sosial berkelanjutan serta mendukung riset sains.

Revibes merupakan organisasi non-pemerintah yang bergerak untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Organisasi ini memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan model ekonomi sirkular berbasis digital dengan melibatkan masyarakat dan komunitas. (Hnd)