Tangan Sering Kesemutan, Kenali Kemungkinan Gangguan Saraf dari Pergelangan hingga Leher
3 mins read

Tangan Sering Kesemutan, Kenali Kemungkinan Gangguan Saraf dari Pergelangan hingga Leher

0 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Kesemutan pada tangan kerap dianggap sebagai keluhan sederhana akibat posisi tidur. Namun, ketika terjadi berulang, semakin sering, atau disertai keluhan lain, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan gangguan saraf.

Dua kondisi yang memiliki gejala serupa adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dan gangguan saraf yang berasal dari leher atau radikulopati servikal. Perbedaannya terletak pada lokasi saraf yang mengalami gangguan.

CTS terjadi ketika saraf yang melewati area pergelangan tangan mengalami tekanan. Keluhan umumnya dirasakan pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis.

“Keluhan CTS biasanya berupa kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan ini sering lebih terasa pada malam hari dan bahkan dapat membuat pasien terbangun dari tidur,” jelas dr. Puspasari, Sp.N, FIOM, FEEG, FPSG, F.Neurosomnologi, FEMG, KHS.

Sementara itu, gangguan saraf yang berasal dari leher dapat menimbulkan keluhan yang menjalar dari leher menuju bahu, lengan, hingga jari tangan. Pada kondisi tertentu, pasien juga dapat mengalami kelemahan pada kelompok otot tertentu.

“Jika sumber gangguan berasal dari leher, keluhan dapat berupa nyeri yang berawal dari leher kemudian menjalar ke bahu, lengan, hingga jari-jari tangan. Kesemutan atau kebas juga dapat muncul pada area tertentu sesuai dengan saraf yang mengalami gangguan,” ujarnya.

Pemeriksaan untuk Menentukan Sumber Gangguan

Lokasi kesemutan dapat menjadi petunjuk, tetapi belum cukup untuk menentukan diagnosis. Dokter perlu melihat pola keluhan serta melakukan pemeriksaan terhadap fungsi saraf, kekuatan otot dan refleks.

Pada kondisi tertentu, pemeriksaan EMG/NCS dapat digunakan untuk membantu menilai fungsi saraf dan otot.

NCS menilai bagaimana sinyal listrik berjalan melalui saraf, sedangkan EMG mengevaluasi aktivitas listrik pada otot. Pemeriksaan tersebut dapat membantu mengetahui lokasi dan tingkat gangguan saraf.

Sementara itu, MRI memberikan gambaran mengenai struktur tubuh. Karena memiliki fungsi berbeda, MRI dan EMG/NCS pada kondisi tertentu dapat digunakan secara saling melengkapi.

“Tujuannya bukan hanya menemukan kelainan, tetapi memahami apakah kelainan tersebut sesuai dengan keluhan pasien,” kata dr. Puspasari.

Pendekatan tersebut penting karena temuan pada pemeriksaan pencitraan tidak selalu menjadi penyebab utama keluhan. Hasil pemeriksaan perlu dikaitkan dengan kondisi klinis pasien.

Jangan Abaikan Kesemutan yang Berulang

Kesemutan sesekali akibat posisi tangan saat tidur dapat membaik setelah posisi diubah. Namun, keluhan yang berulang, semakin sering, membuat seseorang terbangun pada malam hari, tidak membaik, disertai nyeri menjalar atau kelemahan tangan, perlu dievaluasi lebih lanjut.

Bethsaida Hospital Gading Serpong melalui Neuroscience Center menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan berbagai gangguan saraf secara terintegrasi, termasuk EMG/NCS sesuai kebutuhan pasien.

“Gangguan saraf tidak selalu dapat dipahami hanya dari satu hasil pemeriksaan. Kami berkomitmen menghadirkan layanan neurologi yang terintegrasi, karena setiap keluhan memiliki penyebab dan kebutuhan penanganan yang dapat berbeda pada setiap pasien,” ujar dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Kesemutan merupakan gejala, bukan diagnosis. Karena itu, evaluasi medis diperlukan untuk mengetahui sumber gangguan dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. (Firda)