Peran Ibu Tangguh Menentukan Pemimpin Masa Depan, Ini Kata dr. Aisah Dahlan

Peran Ibu Tangguh Menentukan Pemimpin Masa Depan, Ini Kata dr. Aisah Dahlan

Lanskap, Jakarta  – SDIT Gema Nurani bersama Quba Islamic School menggelar Kajian Keislaman bagi orang tua murid bertema “Membentuk Ibu yang Tangguh dalam Menyiapkan Pemimpin Sholeh dan Sholehah” di Masjid Raya Ulul Albaab, Rabu (6/5). Kegiatan ini menghadirkan narasumber nasional, dr. Aisah Dahlan, seorang dokter, praktisi neuroparenting, konsultan penanggulangan narkoba, serta clinical hypnotherapist.

Dalam paparannya, dr. Aisah Dahlan menegaskan bahwa peran ibu sangat menentukan dalam membentuk karakter anak sebagai calon pemimpin masa depan. Ketangguhan ibu, menurutnya, tidak hanya soal kesabaran, tetapi juga kemampuan memahami cara kerja otak, emosi, serta pola komunikasi dalam keluarga.

“Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Apa yang ibu ucapkan dan lakukan akan direkam oleh otak anak dan menjadi fondasi kepribadiannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan neuroparenting menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pengasuhan di era digital. Anak-anak masa kini, kata dia, memiliki pola perkembangan yang berbeda akibat paparan teknologi, sehingga orang tua perlu memperbarui cara mendidik.

Selain aktif sebagai pembicara nasional, dr. Aisah Dahlan juga dikenal sebagai pendiri layanan kesehatan holistik Hobiis Rumah Sehat, yang menyediakan berbagai terapi seperti hipnoterapi, konseling, hingga terapi berbasis relaksasi. Pendekatan ini sejalan dengan gagasannya yang mengintegrasikan kesehatan mental, emosional, dan spiritual dalam kehidupan keluarga.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang sering diselenggarakan SIT Gema Nurani dan juga Quba Islamic School dalam membangun ekosistem pendidikan yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada siswa, tetapi juga pada penguatan peran orang tua.

Perwakilan sekolah menyampaikan bahwa kajian keislaman merupakan program unggulan yang secara rutin menghadirkan narasumber kompeten dengan materi yang relevan dengan tantangan keluarga masa kini.

“Keunggulan kami bukan hanya pada pendidikan akademik dan tahfiz, tetapi juga pada pembinaan orang tua. Kami ingin memastikan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah selaras dengan pola asuh di rumah,” ujarnya.

Kajian berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Banyak orang tua memanfaatkan sesi tanya jawab untuk berkonsultasi langsung terkait persoalan pengasuhan, kesehatan mental anak, hingga dinamika hubungan dalam keluarga.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para ibu semakin memahami perannya sebagai pilar utama dalam mencetak generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional, spiritual, dan berakhlak mulia.  (**)