Di Antara Pelukan dan Air Mata, Ratusan Pegiat Seni Bogor Bertahan Menjaga Warisan yang Hampir Hilang

Di Antara Pelukan dan Air Mata, Ratusan Pegiat Seni Bogor Bertahan Menjaga Warisan yang Hampir Hilang

LanskapBogor, sore itu, tidak hanya dipenuhi suara tawa dan musik tradisional.

Ada yang lebih dalam dari itu—
sebuah rasa yang sulit dijelaskan, antara haru, rindu, dan ketakutan akan kehilangan.

Di Bumi Ageung Batu Tulis Pakwan Padjajaran, ratusan pegiat seni dan budaya berkumpul. Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara Halal Bihalal.

Mereka datang membawa satu hal yang sama:
cinta yang tak ingin kehilangan akar.

Ketika Budaya Tak Lagi Sekadar Cerita

Alunan kacapi suling mulai terdengar. Lembut… tapi menusuk.

Seolah mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlahan hilang—
tradisi yang mulai dilupakan, situs budaya yang terbengkalai, dan generasi yang mulai menjauh.

Di tengah itu semua, Forum Kabuyutan Pakwan Padjajaran mencoba berdiri.

Bukan dengan kemewahan.
Tapi dengan ketulusan.

Pelukan yang Lebih dari Sekadar Maaf

Satu per satu orang saling bersalaman.
Ada yang tersenyum.
Ada yang menahan tangis.

Karena mereka tahu… ini bukan sekadar momen saling memaafkan.

Ini adalah pertemuan orang-orang yang memiliki luka yang sama:
takut kehilangan warisan leluhur.

Di Antara Pelukan dan Air Mata, Ratusan Pegiat Seni Bogor Bertahan Menjaga Warisan yang Hampir Hilang

Keresahan yang Tak Bisa Lagi Dipendam

Ketua Umum Forum Kabuyutan Pakwan Padjajaran, TB. Lutfi Suyudi, menyampaikan sesuatu yang terasa begitu berat.

“Banyak situs budaya kita yang rusak, hilang, bahkan terlupakan…”

Kalimat itu menggantung di udara.
Sunyi sejenak.

Seolah semua yang hadir tahu—
ini bukan sekadar pernyataan, tapi kenyataan.

Antara Alam dan Warisan yang Terluka

Pesan itu semakin dalam ketika R. Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya Rusadi mengingatkan bahwa menjaga budaya tidak bisa dipisahkan dari menjaga alam.

Karena ketika alam rusak,
budaya pun ikut memudar.

Dan ketika budaya hilang,
kita kehilangan jati diri.

Secercah Harapan dari Generasi Kecil

Di tengah suasana haru, anak-anak tampil memainkan pencak silat.

Langkah mereka belum sempurna.
Gerakan mereka masih belajar.

Tapi justru di situlah harapan itu muncul.

Bahwa meski perlahan memudar,
budaya ini belum benar-benar hilang.

Masih ada yang mau belajar.
Masih ada yang mau melanjutkan.

Lagu Lama, Rasa yang Tak Pernah Usai

Saat lagu Bubuy Bulan dimainkan, suasana berubah.

Beberapa orang ikut bernyanyi pelan.
Ada yang menatap kosong ke kejauhan.
Ada yang diam… tapi matanya berkaca-kaca.

Lagu itu bukan sekadar nada.
Ia adalah kenangan.

Tentang masa lalu.
Tentang rumah.
Tentang sesuatu yang tak ingin hilang.

Bertahan, Meski Perlahan Hilang

Acara ditutup dengan foto bersama.
Senyum terlihat di wajah-wajah yang hadir.

Tapi di balik itu, ada satu perasaan yang sama:

mereka sedang berjuang.

Berjuang agar budaya tidak hanya menjadi cerita.
Berjuang agar warisan karuhun tetap hidup.

Dan berjuang… meski mereka tahu,
waktu tidak selalu berpihak.

Karena Pada Akhirnya…

Ini bukan hanya tentang acara.
Bukan hanya tentang budaya.

Ini tentang kita—
tentang siapa kita,
dan apakah kita masih peduli untuk menjaganya… sebelum semuanya benar-benar hilang. (Ckr03/red)