Lestari Tradisi: Bandung 1990 Teguhkan Identitas Budaya di Tengah Perubahan Zaman
3 mins read

Lestari Tradisi: Bandung 1990 Teguhkan Identitas Budaya di Tengah Perubahan Zaman

2 Kali Dibaca

Lanskap.id, Bandung –  Pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar upaya menjaga warisan masa lalu. Tradisi juga memerlukan ruang agar dapat dikenal, dinikmati, dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Semangat tersebut diangkat Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation melalui pagelaran Lestari Tradisi: Bandung 1990 di Bumi Sangkuriang, Bandung, Sabtu (17/10/2026).

Festival ini memadukan kesenian Sunda, musik populer, lomba kesenian, serta bazar kuliner dan kerajinan lokal. Format tersebut mempertemukan seniman, sanggar, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam ruang perayaan yang menghubungkan tradisi dengan kehidupan sehari-hari.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan pelestarian budaya perlu memberi kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung. Menurutnya, kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional menyimpan cerita serta nilai yang penting untuk diwariskan.

Melalui semangat Tumbuh Bersama Indonesia, kegiatan ini diharapkan dapat mendekatkan masyarakat dengan akar budaya sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap keberagaman tradisi.

Tradisi Tidak Harus Viral untuk Tetap Bernilai

Pendiri Titimangsa sekaligus produser Lestari Tradisi, Happy Salma, menyoroti kecenderungan masyarakat mengukur keberadaan suatu karya berdasarkan popularitas atau viralitasnya.

Ia menegaskan bahwa sesuatu yang bernilai tidak selalu harus viral. Menurutnya, keyakinan terhadap nilai budaya menjadi alasan penting untuk terus menghadirkan ruang bagi kesenian tradisional.

Bagi Happy, Lestari Tradisi juga merupakan bentuk penghargaan kepada para seniman yang konsisten menjaga dan mengembangkan warisan budaya. Tradisi, dalam pandangan tersebut, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kompas untuk memahami asal-usul dan menghadapi masa depan.

Pemilihan Bandung sebagai lokasi festival memperkuat konteks itu. Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, kota ini menjadi salah satu ruang berkembangnya perpaduan seni tradisi dan budaya populer, termasuk melalui jaipongan serta musik Pop Sunda.

Dari Jaipongan hingga Pop Sunda

Melalui tema Bandung 1990, festival menghadirkan kembali ingatan tentang periode ketika kesenian Sunda berinteraksi dengan bentuk hiburan populer. Doel Sumbang, Nining Meida, Bungsu Bandung, Dewi Gita, Candil, Yukie Pas Band, dan sejumlah seniman lain tampil dalam rangkaian acara bersama kelompok seni tradisi.

Saung Angklung Udjo, Jugala Jaipongan, SambaSunda, dan Studio Tari Indrawati Lukman turut mengambil bagian. Festival juga menghadirkan lomba kesenian yang melibatkan berbagai sanggar, sehingga ruang perayaan tidak hanya berisi pertunjukan, tetapi juga partisipasi komunitas seni.

Di luar panggung, bazar UMKM menawarkan kuliner khas seperti surabi, kupat tahu, mi kocok, dan cuanki, serta produk kerajinan, batik, busana tenun, aromaterapi, dan jamu tradisional. Unsur-unsur tersebut memperlihatkan bahwa budaya hadir bukan hanya melalui pertunjukan, melainkan juga lewat praktik kuliner, kerajinan, dan kehidupan masyarakat.

Dokumenter Mengangkat Para Penjaga Tradisi

Upaya mendokumentasikan pengetahuan budaya juga hadir melalui serial Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya), karya Happy Salma bersama rumah produksi Puri Aksara dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Serial tiga episode dengan durasi maksimal 15 menit itu mengangkat kisah para penjaga tradisi di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dokumenter ini menelusuri keterampilan menenun kain Futus, membuat perhiasan tradisional, serta memainkan dan mewariskan musik tradisi.

Felix K. Nesi terlibat sebagai penulis skenario sekaligus produser, sementara Ony W. Pahlevi turut menjadi produser. Serial tersebut dijadwalkan tayang di kanal YouTube Indonesia Kaya mulai 19 Oktober 2026.

Kehadiran festival dan dokumenter memperlihatkan dua pendekatan yang saling melengkapi: mempertemukan masyarakat dengan kesenian secara langsung serta merekam kisah para pelaku yang menjaga pengetahuan tradisional.

Melalui Lestari Tradisi, Titimangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation berupaya memberi ruang bagi warisan budaya agar tetap hadir dalam kehidupan masyarakat. Tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan ruang tersebut sehingga tradisi tidak berhenti sebagai perayaan sesaat, melainkan terus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan. (Firda)