Ketika Pembengkakan Tak Kunjung Pergi, Mengenal Limfedema dan Sistem Getah Bening
3 mins read

Ketika Pembengkakan Tak Kunjung Pergi, Mengenal Limfedema dan Sistem Getah Bening

0 Kali Dibaca

Lanskap, Bogor โ€“ Tidak semua pembengkakan tubuh datang dengan rasa sakit. Sebagian muncul perlahan, kemudian menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Lengan terasa lebih berat. Tungkai menjadi lebih kaku. Jam tangan yang biasanya longgar mulai terasa sempit. Pakaian pun terasa berbeda.

Perubahan-perubahan kecil tersebut dapat menjadi tanda gangguan pada sistem limfatik yang dikenal sebagai limfedema.

Limfedema terjadi ketika aliran cairan limfe di dalam sistem getah bening terganggu sehingga cairan menumpuk di jaringan tubuh. Kondisi ini dapat berlangsung kronis dan memengaruhi fungsi anggota tubuh serta aktivitas sehari-hari.

Sistem yang Bekerja di Balik Tubuh

Sistem limfatik merupakan bagian dari mekanisme tubuh yang membantu mengalirkan cairan limfe. Ketika sistem tersebut mengalami gangguan, cairan dapat menumpuk dan menyebabkan pembengkakan.

Limfedema dapat terjadi karena kelainan bawaan atau akibat kerusakan sistem limfatik. Infeksi, trauma, operasi, terapi radiasi, dan penyakit tertentu seperti kanker dapat menjadi penyebab limfedema sekunder.

Pada pasien kanker, kondisi ini terutama perlu diperhatikan setelah pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi.

Yang membuatnya tidak selalu mudah dikenali adalah waktu kemunculannya. Limfedema dapat muncul tidak hanya segera setelah pengobatan, tetapi juga beberapa bulan hingga bertahun-tahun kemudian.

Tanda-Tanda yang Datang Perlahan

Gejala limfedema dapat berbeda pada setiap orang.

Pembengkakan pada lengan atau tungkai menjadi salah satu tanda yang paling mudah terlihat. Namun, ada pula perubahan yang terasa lebih samar, seperti anggota tubuh terasa berat, kaku, atau kulit menjadi lebih kencang.

Perhiasan, jam tangan, dan pakaian yang terasa semakin sempit juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Ketika kondisi berkembang lebih jauh, pergerakan anggota tubuh dapat ikut terbatas.

Risiko Setelah Perawatan Kanker

Spesialis onkologi dari SWICC, RS Sentra Medika Cibinong, dr. I Wayan Wisnu Brata, Sp.B., Subsp.Onk(K), menjelaskan bahwa limfedema merupakan salah satu komplikasi yang dapat dijumpai setelah tindakan onkologi, khususnya pengangkatan kelenjar getah bening.

Menurutnya, penanganan sejak dini penting karena pada tahap awal pembengkakan masih dapat lebih responsif terhadap terapi konservatif.

Keterlambatan penanganan dapat membuat kondisi menjadi kronis dan meningkatkan risiko komplikasi, termasuk infeksi berulang.

Selain riwayat kanker dan pengobatannya, risiko limfedema juga dapat meningkat pada orang dengan kelainan bawaan sistem limfatik, obesitas, infeksi berulang, serta cedera atau trauma pada sistem limfatik.

Merawat Kondisi yang Bersifat Kronis

Limfedema bukan sekadar persoalan perubahan bentuk anggota tubuh. Ketika berkembang, pembengkakan dapat semakin berat, kulit dapat mengalami penebalan atau fibrosis, dan infeksi kulit seperti selulitis dapat terjadi berulang.

Karena itu, kondisi ini membutuhkan pengelolaan dalam jangka panjang.

Di Cibinong, Sentra Medika Hospital melalui Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) menghadirkan Limfedema Center yang menyediakan layanan deteksi dini, evaluasi, terapi, edukasi, dan pendampingan pasien.

Layanan tersebut didukung tim dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi, yaitu M. Yadi Permana, I Wayan Wisnu Brata, dan Rian Fabian Sofyan.

Pada akhirnya, mengenali perubahan kecil pada tubuh merupakan bagian dari menjaga kesehatan. Pembengkakan yang menetap atau semakin memburuk tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan biasa.

Pemeriksaan oleh tenaga medis dapat membantu menemukan penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai. (Hnd)