Kalbe Dukung Kolaborasi Strategis Penanganan Diabetes di Indonesia

Kalbe Dukung Kolaborasi Strategis Penanganan Diabetes di Indonesia

Lanskap, Jakarta – PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) mendukung kolaborasi strategis antara pemerintah, industri kesehatan, akademisi dan tenaga kesehatan serta masyarakat dalam penanganan diabetes di Indonesia, melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kalbe dalam menghadapi tantangan terhadap meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10.9 persen sesuai data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018.

Kalbe percaya bahwa penanganan diabetes membutuhkan solusi yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada terapi, tetapi juga edukasi dan pencegahan. Langkah ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendukung pengendalian penyakit tidak menular. Kalbe berkomitmen untuk terus mendukung penanganan diabetes melalui solusi yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Kalbe secara konsisten mendukung perluasan akses kesehatan, peningkatan kemandirian dan ketahanan kesehatan di Indonesia. Penanganan diabetes tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat. Untuk itu, Kami terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulialie.

“Salah satu bentuk dukungan Kalbe terhadap penanganan diabetes yang terintegrasi yaitu Kalbe Diabetes Total Solution, yakni pendekatan terintegrasi mulai pencegahan, deteksi dini, terapi, nutrisi, dan edukasi berkelanjutan dalam suatu ekosistem kesehatan. Kami percaya bahwa pendekatan yang terintegrasi ini akan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. “ tambah Mulialie.

Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Jumlah penyandang diabetes pada 2024, mencapai 20,4 juta orang dan menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan diabetes membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Selain itu, tren peningkatan kasus terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperkuat urgensi intervensi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Bahkan berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada usia lebih dari 15 tahun mencapai 11,7 persen. Yang artinya ada 30 juta penderita Diabetes di Indonesia tetapi yang baru terdiagnosis antara 10-15 juta pasien DM. Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Perlahan tapi pasti, diabetes mulai menyerang orang berusia produktif hingga anak-anak. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tidak seimbang dapat memperburuk risiko. Oleh karena itu, edukasi masyarakat menjadi langkah penting dalam pengendalian diabetes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menyampaikan bahwa diabetes memberikan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan nasional. Diabetes menjadi penyebab penyakit lainnya seperti hipertensi, bahkan bila tidak diobati dengan baik akan berakibat menjadi penyakit ginjal, jantung, katarak dan penyakit lainnya. Ia menjelaskan bahwa peningkatan kasus diabetes berbanding lurus dengan meningkatnya beban pembiayaan kesehatan. Data BPJS menunjukkan adanya peningkatan kasus DM 40 persen dan peningkatan biaya gagal ginjal sebesar 476 persen. Menurutnya, pendekatan promotif dan preventif perlu diperkuat. Ia juga menekankan pentingnya peran berbagai pihak dalam mendukung upaya ini. Dengan kolaborasi yang kuat, penanganan diabetes dapat dilakukan secara lebih efektif.

“Penanganan diabetes membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari faktor resikonya, deteksi dini dan pengobatan. Pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan, khususnya pada aspek promotif dan preventif. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian diabetes. Selain itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk memperluas jangkauan program. Dengan sinergi yang baik, kita dapat menekan angka prevalensi diabetes di Indonesia,” tutur dr. Nadia.

Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini, karena masih banyak kasus diabetes yang tidak terdiagnosis sejak awal. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting dalam pencegahan. Risiko komplikasi pun dapat ditekan secara signifikan. “Deteksi dini merupakan langkah penting dalam pengendalian diabetes. Maka masyarakat perlu lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan diagnosis yang lebih cepat, intervensi dapat dilakukan lebih optimal. Hal ini juga dapat mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan harus terus dilakukan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., menyampaikan bahwa pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini masih perlu ditingkatkan. Di sisi lain, diabetes merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Lantaran demikian, perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes.

“Diabetes bukan hanya tentang kadar gula darah, tetapi juga berkaitan dengan risiko komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh. Pasien perlu memahami pentingnya pola hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan. Edukasi menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi. Dengan pengelolaan yang baik, pasien dapat tetap produktif,” jelas Prof. Yunir.

“Pencegahan diabetes harus dimulai sejak dini dengan membangun kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko. Skrining rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi sejak awal. Dengan intervensi yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalkan secara signifikan. Selain itu, kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan industri sangat diperlukan. Edukasi berkelanjutan akan menjadi fondasi utama dalam pengendalian diabetes di Indonesia,” tutupnya. (Hnd)