
IHDC Dorong Kebijakan Terpadu untuk Cegah Krisis Kognitif Anak Indonesia
Lanskap, Jakarta – Indonesia Health Development Center (IHDC) mengingatkan pentingnya menjadikan perkembangan kapasitas kognitif anak sebagai prioritas pembangunan nasional. Melalui Seri Kajian Strategis Nomor 4, lembaga tersebut memperkenalkan konsep Silent Cognitive Burden, yaitu penurunan kemampuan kognitif anak yang berlangsung secara perlahan akibat berbagai masalah kesehatan yang belum tertangani secara optimal.
Kajian tersebut mengidentifikasi empat determinan utama yang memengaruhi perkembangan otak anak, yakni gangguan refraksi mata yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, kekurangan protein, serta gangguan perilaku.
Menurut IHDC, jutaan anak Indonesia berpotensi mengalami hambatan belajar akibat kondisi tersebut. Gangguan refraksi bahkan diperkirakan dialami lebih dari delapan juta anak, sedangkan defisiensi zat besi diperkirakan terjadi pada lebih dari tujuh juta balita.
Ketua Dewan Pembina IHDC Prof. Nila F. Moeloek menegaskan bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya berfokus pada penurunan angka penyakit, tetapi juga harus memastikan setiap anak memiliki kapasitas berpikir, berkreasi, dan berinovasi secara optimal.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IHDC Dr. Ray Wagiu Basrowi mengusulkan pendekatan Community Framework, yaitu model pembangunan yang mengintegrasikan aspek biologis, fungsi sensorik, perilaku, lingkungan sosial, dan kemampuan neurokognitif dalam mendukung perkembangan anak.
IHDC berharap hasil kajian ini dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan nasional yang mengintegrasikan sektor kesehatan, pendidikan, dan pembangunan manusia guna memperkuat kualitas generasi Indonesia menuju 2045. (Hnd)



