
Hari Kesaktian Pancasila, Sawala Putra Bangsa #2 Bahas Jarak Nilai dan Realitas
Lanskap, Bogor – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum Yayasan Daya Putra Bangsa untuk mengajak masyarakat merefleksikan kembali posisi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi tersebut dibahas melalui Diskusi Publik Sawala Putra Bangsa #2 di Aula Kolam Renang Balong Kabayan, Kampung Ciranjang, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Sabtu (3/10/2026).
Mengusung format sarasehan, kegiatan menghadirkan pendidik, seniman, budayawan, aktivis sosial, pelajar, mahasiswa, serikat buruh, dan tokoh masyarakat.
Ketua Yayasan Daya Putra Bangsa Willy Kamawijaya mengatakan Pancasila perlu ditempatkan sebagai nilai yang diwujudkan dalam kehidupan, bukan sekadar bagian dari seremoni.
“Pancasila sering kali hanya kita ingat dan kita ucap dalam kegiatan seremonial. Karena itu, keteladanan dalam kehidupan harus dicontohkan oleh para pemimpin bangsa,” ujar Willy.
Seni dan Budaya sebagai Media Refleksi
Diskusi diawali dengan penampilan KPJ Bogor, menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila, dan doa bersama.
Peserta juga menyaksikan Teater Bocah Putra Bangsa yang dimainkan anak-anak dari Kampung Pasirangin, Cijeruk. Pertunjukan tersebut membawa pesan mengenai lima nilai utama Pancasila.
Pertunjukan Wayang Cepot oleh Ki Dalang Ceceng Arifin dengan iringan kacapi Ki Yayat Odoy kemudian menghadirkan Pancasila melalui humor dan kritik sosial dalam perspektif budaya Sunda.
Rangkaian tersebut menjadi jembatan menuju diskusi bersama Dr. Heri Santoso dan Prof. Dr. Ir. Sedarnawati Yasni, M.Agr.
Menjembatani Idealisme dan Realitas
Heri Santoso mengangkat persoalan mengenai jarak antara idealisme Pancasila dengan realitas kehidupan. Menurutnya, Pancasila tidak seharusnya hanya dipertahankan melalui slogan dan retorika.
Ia menawarkan gagasan “revolusi spiritual” sebagai proses perubahan kesadaran secara damai dari minaz-zulumati ilan-nur, atau dari kegelapan menuju cahaya.
Sementara itu, Sedarnawati Yasni membahas pentingnya pendidikan Pancasila sebagai proses internalisasi nilai bagi generasi muda.
Menurut Sedarnawati, pemahaman Pancasila harus dibarengi keteladanan. Ia mendorong setiap orang untuk memulai dari dirinya sendiri.
“Didik diri kita untuk menjadi teladan hingga jika suatu hari mendapat amanah mengelola negara, kita mampu memberikan keteladanan dalam pelaksanaan Pancasila,” katanya.
Kesaktian Pancasila Diuji dalam Realitas
Dalam sesi tanya jawab, peserta dari berbagai latar belakang menyampaikan pandangan mengenai penerapan Pancasila dalam kehidupan sosial, politik, pendidikan, dan kebudayaan.
Moderator Heri Cokro mengingatkan bahwa Hari Kesaktian Pancasila semestinya menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai penerapan nilai-nilai tersebut.
“Di mana Pancasila dalam kehidupan kita hari ini?” ujarnya.
Menurut Heri, kesaktian Pancasila tidak cukup dibuktikan melalui slogan. Nilai tersebut diuji ketika berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, ketidakadilan, perbedaan, dan persoalan nyata kehidupan masyarakat.
Sawala Putra Bangsa #2 diikuti sekitar 50 peserta. Kegiatan ditutup dengan pemberian karya seni bertema Pancasila kepada kedua narasumber, foto bersama, dan ramah tamah.
Melalui sarasehan tersebut, Yayasan Daya Putra Bangsa berupaya membuka ruang pertemuan antara gagasan, pendidikan, seni, budaya, dan pengalaman masyarakat untuk membicarakan persoalan kebangsaan. (Ckr03/red)



