
Hari Anak Nasional 2026, Suara Anak Indonesia Didorong Jadi Landasan Kebijakan yang Lebih Inklusif
Lanskap, Jakarta – Partisipasi anak dalam proses pembangunan menjadi salah satu fokus pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Melalui penyusunan Suara Anak Indonesia 2026, anak-anak dari berbagai latar belakang diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi yang akan menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan pemerintah.
Perwakilan Sekretariat Forum Anak Nasional sekaligus Koordinator Utama Lokakarya FAN 2026, Alya Alkautsar, menjelaskan bahwa dokumen tersebut disusun secara partisipatif dengan melibatkan Forum Anak Daerah, Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), hingga anak-anak Indonesia di luar negeri.
Pendekatan tersebut dilakukan agar berbagai perspektif anak dapat terwakili dalam proses penyusunan rekomendasi kebijakan.
“Kami ingin memastikan suara anak bukan hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan dan program yang menyangkut kehidupan anak,” ujarnya.
Berbagai isu strategis yang diangkat dalam lokakarya meliputi kesehatan mental, keamanan ruang digital, perlindungan dari kekerasan, pendidikan yang aman dan berkualitas, serta penyediaan ruang bermain yang mendukung tumbuh kembang anak.
Lokakarya Forum Anak Nasional 2026 berlangsung selama lebih dari satu bulan, mulai 13 Juni hingga 19 Juli 2026, sebagai bagian dari penguatan kapasitas Forum Anak Nasional dan Forum Anak Daerah.
Menurut Alya, Hari Anak Nasional harus dimaknai sebagai pengingat bahwa anak memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dalam setiap kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan mereka.
“Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa anak bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi juga subjek yang memiliki hak untuk didengar,” tuturnya.
Melalui penyusunan Suara Anak Indonesia 2026, diharapkan pembangunan yang berpihak pada anak dapat semakin terwujud sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045. (Rnie)



