Hackathon UI 2026 Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi Teknologi untuk Kebutuhan Industri
4 mins read

Hackathon UI 2026 Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi Teknologi untuk Kebutuhan Industri

1 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Dunia industri membutuhkan talenta yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu menerjemahkan persoalan di lapangan menjadi solusi yang dapat diterapkan. Kebutuhan tersebut coba dijembatani Universitas Indonesia (UI) melalui Hackathon UI 2026.

Digelar pada 17–18 September 2026 di Ballroom Hotel RA Suites Simatupang, Jakarta, ajang tersebut mempertemukan 30 tim mahasiswa UI untuk mengembangkan solusi teknologi berdasarkan tantangan yang diberikan oleh mitra industri.

Hackathon UI 2026 mengusung tema “Securing the Digital Frontier & Automating the Future Supply Chain”. Tema tersebut membawa dua isu yang semakin dekat dengan perkembangan dunia usaha, yakni keamanan digital dan otomasi rantai pasok.

Berbeda dengan kompetisi yang hanya berhenti pada pengembangan ide, peserta Hackathon UI 2026 didorong membawa gagasannya ke tahap yang lebih konkret. Mereka harus memahami persoalan industri, menyusun solusi, mengembangkan prototipe atau minimum viable product (MVP), kemudian mempresentasikan hasilnya di hadapan dewan juri.

AI dan Keamanan Data Jadi Perhatian

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kemahasiswaan dan Alumni UI, Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si., Psikolog, mengatakan pemilihan tema Hackathon UI 2026 tidak terlepas dari perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial atau AI.

Menurutnya, semakin luasnya pemanfaatan AI juga membuat persoalan keamanan data menjadi semakin penting. Teknologi tersebut mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat sehingga aspek perlindungan data perlu mendapat perhatian.

“Tema ini dipilih karena perkembangan teknologi termasuk munculnya AI (kecerdasan artifisial) yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Perkembangan teknologi AI tidak dapat dipisahkan dari keamanan data yang sangat penting,” ujar Hamdi saat ditemui di sela-sela Hackathon UI 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Selain keamanan digital, otomasi rantai pasok menjadi isu lain yang diangkat dalam kompetisi tersebut.

Hamdi mengatakan perkembangan otomasi perlu diikuti oleh dunia usaha di Indonesia agar dapat menghadapi perubahan teknologi dan mempertahankan daya saing.

“Otomasi tidak dapat lagi dicegah dan seluruh ekonomi kita seharusnya berbasis pada perkembangan tersebut. Jangan sampai kita tertinggal karena produk kita pasti kalah dan tidak kompetitif ketika negara lain sudah menggunakan otomasi sementara kita masih mengandalkan cara manual,” jelasnya.

Mahasiswa Berhadapan Langsung dengan Persoalan Industri

Keterlibatan industri menjadi salah satu aspek penting dalam Hackathon UI 2026.

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) UI, Chairul Hudaya, Ph.D., mengatakan pendekatan berbasis kebutuhan industri menjadi salah satu pembeda penyelenggaraan tahun ini.

“Keterlibatan industri dalam Hackathon UI 2026 kami dorong untuk memastikan kompetisi ini menghasilkan real impact. Dari 30 tim yang mengikuti kompetisi, kami berharap akan muncul solusi yang benar-benar dapat menjawab kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh mitra industri,” kata Chairul.

Tahun ini, Hackathon UI melibatkan lima mitra industri, yaitu PT IDSurvey, PT Sucofindo, PT Paragon Technology and Innovation, BNI Ventures, dan PT Aplikanusa Lintasarta.

Kehadiran mitra tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berhadapan langsung dengan persoalan yang dihadapi dunia usaha. Dari sana, peserta tidak hanya mengembangkan teknologi berdasarkan asumsi, tetapi juga mencoba memahami kebutuhan pengguna dan konteks penerapannya.

Chairul mengatakan keterlibatan industri juga diharapkan tidak berhenti ketika kompetisi selesai. Solusi yang dihasilkan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi antara mahasiswa, mitra industri dan UI.

146 Mahasiswa Kembangkan Ide Menjadi Prototipe

Selama dua hari pelaksanaan, sebanyak 146 mahasiswa UI mengikuti proses pengembangan solusi secara intensif.

Mereka mengolah tantangan yang diberikan menjadi gagasan, kemudian mengembangkannya menjadi prototipe atau MVP sebelum dipresentasikan kepada dewan juri.

Proses tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan problem solving. Di saat yang sama, mereka juga belajar memahami kebutuhan industri, bekerja dalam tim, mengembangkan produk dan menyampaikan solusi secara terstruktur.

Pengalaman semacam ini menjadi bagian penting karena kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami persoalan dan berkolaborasi untuk mencari jalan keluar.

Ada Kesempatan Masuk Program Inkubasi

Selain menjadi ruang pengembangan inovasi, Hackathon UI 2026 juga memberikan apresiasi kepada tim-tim terbaik.

Para peserta berkesempatan memperoleh hadiah dengan nilai total ratusan juta rupiah. Selain itu, terdapat Golden Ticket untuk mengikuti program UI INCUBATE.

Kesempatan tersebut dapat menjadi tahap lanjutan bagi peserta yang ingin membawa solusi hasil hackathon ke proses pengembangan berikutnya.

Melalui Hackathon UI 2026, UI berupaya mempertemukan kemampuan mahasiswa dengan kebutuhan nyata dunia industri. Bukan hanya menghasilkan ide teknologi, ajang ini diarahkan agar inovasi yang lahir dari lingkungan kampus memiliki peluang untuk berkembang menjadi solusi yang relevan dan dapat diterapkan. (Hnd)