
Dia Sudah Pergi… Tapi Diary Ini Menyimpan Rahasia yang Nggak Siap Aku Tahu
Aku kira waktu bisa menyembuhkan segalanya. Tapi hari itu aku sadar, ada luka yang tidak pernah benar-benar hilang—hanya menunggu sesuatu, sekecil sebuah diary, untuk membukanya kembali.
Sahabatku Adalah Inspirasiku (Chapter 1 bagian 8)
Lanskap – Aku menarik buku diary ku dari tangannya.
“Aku selesaiin sekarang aja ya, biar idenya nggak hangus.”
Nathania menghela nafas pelan.
“Oke deh, semangat ya.”
Aku beranjak dari kursi dan duduk lesehan di dekat meja pendek yang ada di sana. Mengeluarkan pulpen yang biasa aku pakai khusus untuk menulis cerita. Tanganku bergerak cepat, membentuk tulisan-tulisan kecil yang lebih mirip kawanan semut yang aku lihat saat bersama dengan Nathalia siang tadi.
“Saat ini, gadis itu sedang berdiri di hadapan rumah besar yang lebih mirip istana kerajaan dibandingkan dengan rumah seorang pengacara biasa di zaman modern. Sebelum ia sempat mengetuk pintu, pintu berdaun dua itu terbuka dari dalam. Siluet seorang laki-laki paruh baya terlihat begitu pintu terbuka sepenuhnya.
Tatapan mereka berdua bertemu. Langkah laki-laki paruh baya berjas hitam itu terhenti. “Claressa ada di dalam, masuklah.”
Gadis itu menunduk sopan. “Terima kasih, Om Clarick.”
Om Clarick hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya begitu gadis itu menyingkir ke samping. Gerbang besar rumah itu terbuka lebar, mengantar kepergian mobil yang dikendarai oleh Om Clarick, ayah Arvalia.
Maid tersenyum sopan. “Silahkan masuk, Nona Varellia. Nyonya Claressa sedang bersantai di taman belakang.”
Varellia mengangguk mengerti dan melangkah masuk. Melewati lorong panjang yang lengang. Beberapa maid menyapanya saat mereka bertatapan. Ia melanjutkan langkahnya menuju taman belakang, tempat ibunda tercinta Arvalia itu berada saat ini.
Sesampainya di taman belakang, ratusan aroma bunga yang sedang mekar tercium di indra penciumannya. Nyonya Claressa tampak sedang duduk di dalam sebuah kubah kaca yang memantulkan sinar matahari. Ditemani oleh camilan kering dan teh kesukaannya.
Varellia melangkah mendekat. “Lama tidak bertemu, Tante.”
Nyonya Claressa tersenyum lembut. “Duduklah, Varellia. Sudah lama sekali aku tidak melihatmu datang ke tempat ini. Andai Arvalia masih ada, dia pasti akan sangat senang.”
Varellia tersenyum tipis, teramat tipis. “Ya, andai dia masih ada. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padanya. Sayang sekali, aku tidak bisa melihatnya lagi.”
Nyonya Claressa menyentuh punggung tangan Varellia dan mengusapnya pelan. “Jangan terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan, Varellia. Kamu masih muda, jangan sia-siakan masa muda kamu karena Arvalia. Dia tidak akan senang melihatnya.”
“Aku tahu, Tante. Aku datang karena aku ingin menanyakan sesuatu. Tante harus jawab dengan jujur.”
Nyonya Claressa tertawa kecil. “Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Apakah Arvalia menitipkan pesan untukku?”
Nyonya Claressa terdiam beberapa saat. “Dia memang menitipkan pesan padamu. Apa kamu ingin melihatnya?”
Varellia mengangguk cepat. “Ya, aku mau.”
Nyonya Claressa memanggil seorang maid untuk mendekat. Maid tersebut datang dengan cepat dan membungkuk sopan. “Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”
“Ambilkan sebuah buku milik Arvalia di meja belajarnya. Buku itu berbentuk bulat dengan gantungan bulan sabit perak di penanda halamannya. Jangan lupa kunci kembali pintu kamarnya. Jangan biarkan siapapun masuk setelah kamu keluar dari sana.”
Maid tersebut mengangguk mengerti. “Baik, Nyonya.”
Langkahnya terdengar pelan dan hilang di ujung lorong. Nyonya Claressa tersenyum lembut ketika bertemu tatap dengan Varellia. Tangannya dengan terampil menuangkan teh ke dalam cangkir baru dan mendorongnya ke hadapan gadis itu. “Minumlah, kamu pasti haus setelah melewati perjalanan panjang untuk sampai ke tempat ini.”
Varellia meraih cangkir itu dan menyesapnya pelan tanpa menimbulkan suara. Nyonya Claressa tersenyum tipis. Tidak banyak berubah dari terakhir kali mereka menghabiskan waktu bersama. Tak lama kemudian maid itu kembali dengan sebuah kotak di tangannya.
Kotak itu diletakkan di atas meja kaca. Maid itu mundur teratur dan melangkah pergi begitu Nyonya Claressa melambaikan tangannya. Varellia menatap kotak itu. Nyonya Claressa yang menangkap gerakan kecil itu memintanya untuk membuka kotak itu. “Bukalah, itu untukmu.”
Varellia mengangguk dan membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah buku yang sama seperti yang digambarkan oleh Nyonya Claressa. Tangannya terulur mengusap buku itu dan membuka halaman pertama. Di sana terdapat sebuah tulisan tangan yang sangat familiar.
“Aku tidak tahu seperti apa cuaca di sana saat ini. Aku juga tidak tahu hari apa kamu membaca buku ini. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal, Ellia. Saat kamu membaca buku ini, aku sudah tidak ada di sini lagi. Aku sudah pergi meninggalkan dunia ini. Maafkan aku karena aku tidak memberitahumu lebih awal. Aku hanya tidak ingin menambah lukamu di saat kamu belum siap untuk kembali kehilangan.”
Tangannya sedikit gemetar saat membaca kalimat ketiga dan keempat itu. Matanya sedikit memanas. Gadis itu membuka halaman berikutnya. Nyonya Claressa hanya diam dan memperhatikan bunga-bunga miliknya yang bermekaran indah di bawah cahaya matahari. Dengan kata lain, cosplay menjadi udara yang bisa minum teh dan makan camilan.
“Pembukaan yang berat untuk hari yang berat. Bagaimana kabarmu sekarang? Aku lupa menanyakan sesuatu. Apa kamu melihat sosok yang menyerupai diriku? Ketahuilah, Varellia. Jika kamu benar-benar melihatnya, itu bukan aku. Itu adalah jin yang menyerupai aku. Meskipun dia muncul di dekat kuburan ku sekalipun, dia bukan aku. Dia bukan aku yang kamu kenal. Jika kamu benar-benar melihatnya di sana, abaikan saja.”
Varellia membuka halaman berikutnya. Nyonya Claressa masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Meskipun dalam hati bertanya-tanya tentang apa isi buku diary itu.
“Aku merindukanmu, Varellia. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku marah saat kamu pergi meninggalkanku. Tapi kemudian aku tahu bahwa kamu memang seharusnya pergi saat itu. Maafkan aku karena sempat berburuk sangka padamu. Terima kasih atas kasih sayang yang kamu berikan padaku selama ini. Aku tahu aku tidak seharusnya mengatakan ini di saat kita sudah tidak mungkin lagi untuk bertemu.”
Tulisan tangan itu berhenti di sana. Bercak darah terlihat di atas halaman yang hanya terisi setengah itu. Sepertinya Arvalia sempat muntah darah sebelum ia menyelesaikan tulisannya di halaman itu. Varellia membuka halaman berikutnya.
“Cukup sampai di sini, Ellia. Jangan cari tahu apapun tentang apa yang terjadi padaku. Jangan ikut campur lebih jauh. Aku tidak mau kamu kehilangan lagi. Hiduplah dengan damai dan bahagia, Ellia. Tolong sampaikan salamku pada kedua orangtuamu. Mereka tidak perlu lagi mencari tahu tentang kematianku. Semuanya akan selesai malam ini dalam duniamu. Selamat tinggal, aku menyayangimu.”
Varellia menutup buku diary milik Arvalia itu dan menaruhnya kembali ke dalam kotak. Nyonya Claressa meliriknya. Ekspresi wajah gadis itu rumit, tatapannya dalam dan gelap. Nyonya Claressa menyesap cangkir tehnya.
Varellia mengangkat kepalanya dan menatap Nyonya Claressa. “Tante tahu sesuatu?”
“Justru Tante ingin tahu apa yang Arvalia tulis di dalam buku itu. Semasa dia hidup, dia tidak membiarkan siapapun membuka buku itu. Dia bilang hanya kamu yang boleh membacanya.”
“Aku akan membawanya pulang bersamaku. Aku ingin menjaga apa yang dia titipkan dengan tanganku sendiri. Apa Tante keberatan dengan permintaan kecilku ini?”
Nyonya Claressa meletakkan cangkirnya dan tersenyum hangat. “Tentu saja, tidak. Bawalah buku itu bersamamu. Akan jauh lebih aman jika kamu yang menjaganya.”
“Terima kasih, Tante.”
“Ya, bukan masalah besar.”

Rananzy Ninxy Halstera adalah pelajar SMA yang aktif menulis cerita fiksi remaja dengan sentuhan emosional dan inspiratif. Ia bercita-cita menjadi penulis novel yang karyanya dapat menyentuh hati banyak orang. (Red)



