Mengenal Cahaya Manthovani, Perempuan Muda yang Satukan Industri Kreatif dan Kepedulian Sosial
3 mins read

Mengenal Cahaya Manthovani, Perempuan Muda yang Satukan Industri Kreatif dan Kepedulian Sosial

Lanskap, Jakarta – Di tengah berkembang pesatnya industri kreatif Indonesia, muncul sosok perempuan muda yang berhasil menarik perhatian lewat kombinasi kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Sosok tersebut adalah Cahaya Manthovani.

Di usianya yang masih muda, Cahaya dipercaya memimpin berbagai event nasional melalui PT Navaswara Bhuwana Kencana. Namun, yang membuat kiprahnya berbeda bukan hanya kemegahan acara yang diselenggarakan, melainkan bagaimana setiap event selalu membawa pesan sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Lulusan architectural design di Korea Selatan ini mengaku perjalanan kariernya di industri kreatif berawal dari proses yang mengalir secara alami. Menurutnya, pengalaman belajar di Korea Selatan menjadi salah satu titik penting yang membentuk cara pandangnya terhadap kreativitas dan inovasi.

“Dunia industri kreatif memang sudah ada di dalam diri saya sejak lama. Sedangkan event adalah bagian dari perjalanan hidup yang akhirnya saya jalani dengan penuh komitmen,” ujar Cahaya Manthovani.

Berkat konsistensinya, Cahaya dipercaya memimpin sejumlah agenda nasional seperti Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, hingga Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026.

Bagi Cahaya, event bukan sekadar hiburan atau seremoni semata. Ia menjadikannya sebagai medium untuk membangun percakapan publik tentang budaya, inklusivitas, dan pemberdayaan sosial. Pendekatan tersebut membuat Navaswara berkembang sebagai sebuah creative movement yang menghadirkan pengalaman sekaligus makna.

Salah satu program yang menjadi sorotan adalah Suara Nusantara, yang diinisiasi untuk mendorong generasi muda lebih percaya diri sekaligus mengenal kembali cerita rakyat Indonesia.

“Peserta wajib membaca dan memahami cerita rakyat daerah Indonesia. Dampaknya bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi mereka,” katanya.

Tak hanya aktif di industri kreatif, Cahaya juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu inklusivitas. Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menginisiasi berbagai program sosial untuk anak-anak disabilitas.

Salah satu program yang mendapat perhatian publik adalah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus/disabilitas di Provinsi Banten yang melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.

Selain itu, Cahaya juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland dalam rangka Hari Disabilitas Internasional. Acara tersebut menghadirkan ruang inklusif yang mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga masyarakat umum.

Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan tersebut juga pernah bertugas sebagai CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Dalam ajang tersebut, kontingen Indonesia sukses meraih 59 medali terdiri dari 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.

Bagi Cahaya, keberhasilan tidak pernah dibangun sendirian. Ia percaya kolaborasi menjadi kunci utama menciptakan dampak yang lebih luas.

“Indonesia punya banyak orang hebat di bidangnya masing-masing. Saya selalu membuka diri untuk belajar dan berkolaborasi bersama,” ungkapnya.

Di balik pencapaiannya, Cahaya mengakui tantangan terbesar yang dihadapinya adalah penilaian orang terhadap usianya yang terlihat jauh lebih muda. Namun, hal tersebut justru dijadikannya sebagai motivasi untuk membuktikan kualitas kerja dan komitmennya.

Konsistensi Cahaya di industri kreatif dan kegiatan sosial pun membawanya meraih sejumlah penghargaan bergengsi seperti Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kompas TV serta penghargaan The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.

Di tengah kesibukannya memimpin berbagai proyek kreatif, Cahaya terus mendorong generasi muda Indonesia untuk berani berkembang, belajar, dan membangun kapasitas diri.

“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang instan. Perlu waktu, ketekunan, percaya diri, dan konsistensi untuk terus berkembang,” tutupnya.

Bagi banyak anak muda, Cahaya Manthovani kini menjadi representasi generasi baru pemimpin industri kreatif Indonesia yang adaptif, visioner, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat. (Hnd)