
Ekonom: Kenaikan BI Rate Bukan Solusi Tunggal untuk Perkuat Rupiah
Lanskap, Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate dinilai belum cukup untuk mengembalikan penguatan nilai tukar rupiah secara berkelanjutan. Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan bahwa efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada berbagai faktor pendukung yang mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Menurut Josua, kenaikan BI Rate lebih tepat dipandang sebagai instrumen untuk meredam tekanan jangka pendek di pasar keuangan, bukan sebagai solusi utama dalam memperkuat rupiah.
“Karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah,” ujar Josua dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Ia menjelaskan terdapat tiga faktor penting yang harus berjalan bersamaan agar kebijakan suku bunga mampu memberikan dampak optimal terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Pertama, kenaikan suku bunga perlu diikuti masuknya kembali aliran modal asing ke instrumen keuangan domestik, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Arus dana asing tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap rupiah sekaligus membantu meredam tekanan di pasar valuta asing.
Kedua, diperlukan koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas likuiditas sektor keuangan. Pengetatan kebijakan moneter, menurutnya, harus diimbangi dengan langkah-langkah yang memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga agar aktivitas kredit dan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu.
Ketiga, pemerintah perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, komunikasi kebijakan yang konsisten, serta upaya menjaga iklim investasi yang kondusif. Faktor-faktor tersebut dinilai berperan besar dalam membentuk persepsi investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Jika tiga hal ini berjalan, rupiah berpeluang lebih stabil. Jika tidak, kenaikan suku bunga hanya akan membeli waktu dengan biaya yang semakin mahal,” tegasnya.
Sementara itu, kritik terhadap kebijakan Bank Indonesia juga datang dari Direktur Eksekutif Centre for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi. Ia menilai berbagai langkah yang ditempuh bank sentral belum mampu mengatasi tekanan terhadap rupiah secara mendasar.
Uchok bahkan mendesak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya. Menurutnya, kebijakan kenaikan BI Rate dan SRBI hanya bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi perekonomian.
Ia juga menyoroti penggunaan cadangan devisa untuk intervensi pasar valuta asing yang dinilai perlu diawasi secara transparan. Menurut Uchok, ketergantungan pada intervensi jangka pendek berisiko mengurangi efektivitas kebijakan jika tidak diimbangi dengan langkah-langkah struktural yang lebih kuat.
Perdebatan mengenai efektivitas kebijakan moneter tersebut muncul di tengah upaya menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan global. (Asm)



