
ACT! Project Dorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Pasar Domestik
Lanskap.id, Tangerang – Konsumsi produk berkelanjutan di Indonesia dinilai memiliki peluang untuk terus berkembang, seiring meningkatnya perhatian terhadap asal-usul produk dan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab. Melalui ACT! (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) Project, sejumlah organisasi mendorong keterhubungan antara petani, pelaku usaha, dan konsumen agar produk berkelanjutan semakin mudah diakses di pasar domestik.
Inisiatif tersebut diperkenalkan melalui partisipasi konsorsium ACT! Project dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Hall B, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Pada 14–15 Oktober 2026, konsorsium menggelar dua talk show yang membahas praktik produksi berkelanjutan, kebutuhan pasar, serta kesiapan komoditas Indonesia menghadapi persyaratan perdagangan global.
ACT! Project berfokus pada empat komoditas utama, yakni kopi, kakao, teh, dan kelapa sawit. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, konsorsium ingin menunjukkan bahwa praktik berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan standar ekspor, tetapi juga dapat menjadi peluang untuk memperluas pasar di dalam negeri.
Edukasi Konsumen dan Pelaku Industri
Di TEI 2026, ACT! Project menghadirkan booth interaktif yang menyediakan materi edukasi, ruang diskusi bersama tim konsorsium, pengalaman virtual reality di perkebunan kopi, serta sesi mencicipi kopi berkelanjutan bersama barista.
Managing Director Asia Pacific Rainforest Alliance, Chandra Panjiwibowo, mengatakan praktik berkelanjutan pada komoditas utama Indonesia dapat membuka peluang akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing dalam rantai pasok.
Menurutnya, keterlibatan pelaku industri dan petani menjadi bagian penting untuk mendorong penerapan praktik produksi yang lebih berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), Ade Aryani, menambahkan bahwa sektor hotel, restoran, dan kafe (HoReKa) memiliki peran strategis dalam memperluas akses konsumen terhadap produk berkelanjutan, termasuk kopi.
Ia menilai penguatan kolaborasi di sepanjang rantai nilai dan ketertelusuran produk dapat membantu menjadikan keberlanjutan sebagai pertimbangan dalam pengadaan oleh pelaku usaha maupun pemilihan produk oleh konsumen.
Praktik Petani dan Kebutuhan Pasar
Talk show pertama, bertajuk “Dari Sumber Berkelanjutan menuju Dampak Nyata: Cerita Petani & Pakar Sertifikasi dalam Menjawab Tren Ritel & Horeka Berkelanjutan”, berlangsung pada 14 Oktober 2026.
Diskusi tersebut menghadirkan Manager Consumer Campaign and Engagement Rainforest Alliance Margareth Meutia, petani kopi sekaligus Ketua Koperasi Serba Usaha Petani Kopi Toraja (KOPTAN PPKT) Thomas Upping, Cocoa & Coffee Programme Technical Advisor in Indonesia dari Rikolto Peni Agustijanto, serta Head of People and Coffee Solutions Anomali Group Donna Elvina Amelia.
Para pembicara membahas tantangan penerapan praktik pertanian berkelanjutan, kondisi rantai produksi, serta peluang bagi sektor ritel dan HoReKa untuk menerapkan pengadaan berkelanjutan dan sertifikasi. Pembahasan juga mencakup upaya memperluas distribusi dan promosi kopi, teh, cokelat, serta minyak kelapa sawit berkelanjutan.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya hubungan antara praktik di tingkat petani dan kebutuhan pasar. Produk berkelanjutan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar tidak berhenti pada proses produksi, tetapi juga memiliki jalur pemasaran yang jelas.
Ketertelusuran Jadi Perhatian Pasar Global
Talk show kedua berlangsung pada 15 Oktober 2026 dengan tema “Keterlacakan sebagai Nilai Tambah: Membuktikan Kesiapan 4 Komoditas Indonesia Menghadapi EUDR dan Menembus Pasar Global”.
Sesi ini menghadirkan Chandra Panjiwibowo, petani kakao sekaligus Ketua Koperasi Kertasemaya Samaniya (KKS) I Ketut Wiadnyana, serta Data Analyst and Certification Manager Olam Food Ingredients Florindo Michael Bell.
Pembahasan berfokus pada Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR), perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia–Uni Eropa (IEU-CEPA), serta ketentuan ekspor lain yang berkaitan dengan keberlanjutan.
Salah satu aspek yang disoroti adalah ketertelusuran atau kemampuan melacak asal-usul produk melalui rantai pasok. Pemetaan batas lahan, geolokasi, dan pencatatan rantai pasok menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapan produsen menghadapi persyaratan pasar.
ACT! Project memandang persyaratan keberlanjutan dalam perdagangan global sebagai peluang bagi petani dan produsen untuk memperkuat praktik produksi, memanfaatkan teknologi ketertelusuran, dan meningkatkan daya saing komoditas Indonesia.
Target Edukasi 800 Ribu Konsumen hingga 2028
ACT! Project menilai produk dengan asal-usul yang jelas berpotensi menjangkau pasar ekspor maupun konsumen dalam negeri. Karena itu, penguatan ketertelusuran dan praktik produksi berkelanjutan perlu disertai upaya memperluas pemahaman konsumen serta akses pasar.
Untuk mendukung tujuan tersebut, ACT! Project mengembangkan perangkat komunikasi bagi sektor HoReKa dan ritel, mengadakan lokakarya dengan para pemangku kepentingan, serta melibatkan mahasiswa melalui kegiatan di sejumlah kampus, termasuk Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Udayana di Bali.
Hingga 2028, ACT! Project menargetkan edukasi kepada 800.000 konsumen, dengan 50 persen di antaranya perempuan, agar beralih ke produk kopi, cokelat, teh, dan minyak kelapa sawit bersertifikat. Program ini juga menargetkan pertumbuhan sebesar 5 persen dalam konsumsi dan produksi domestik produk bersertifikat.
Melalui rangkaian inisiatif tersebut, ACT! Project mendorong kolaborasi antara petani, pelaku usaha, sektor HoReKa, ritel, dan konsumen. Tujuannya adalah memperluas akses pasar bagi produk berkelanjutan sekaligus mendukung kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan. (Hnd)



