Golok Road to UNESCO, Perjuangan Gatut Susanta Merawat Ingatan Budaya Nusantara
5 mins read

Golok Road to UNESCO, Perjuangan Gatut Susanta Merawat Ingatan Budaya Nusantara

6 Kali Dibaca

Lanskap.id, Bogor –  Sebuah golok tidak hanya menyimpan fungsi sebagai perkakas atau alat pertahanan. Di balik bentuk dan proses pembuatannya, terdapat sejarah, keterampilan, filosofi, serta pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Nilai-nilai itulah yang ingin diangkat Ki Gatut Susanta melalui gerakan Golok Road to UNESCO. Bersama komunitas pelestari golok dan pedang dari berbagai daerah, ia berupaya memperkuat dokumentasi dan pengenalan golok sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.

Gagasan tersebut menguat setelah Gatut mengunjungi perpustakaan UNESCO di Paris pada 2024. Pengalaman itu menjadi dorongan untuk membangun gerakan yang tidak hanya berorientasi pada pengakuan internasional, tetapi juga pada pelestarian pengetahuan dan tradisi yang hidup di masyarakat.

Buku sebagai upaya menjaga pengetahuan

Perjalanan Gatut dalam mendokumentasikan golok diwujudkan melalui penerbitan buku Golok antara Pesona dan Legenda, disusul Pesona Golok Pasundan. Keduanya menjadi upaya mencatat sejarah, keragaman bentuk, dan filosofi golok yang berkembang di wilayah Pasundan.

Proses penyusunan buku dilakukan melalui penelusuran informasi, silaturahmi, dan pertemuan dengan para sesepuh di berbagai daerah. Gatut menyebut sembilan profesor dari Jakarta, Jawa Barat, dan Banten turut memberikan dukungan terhadap penerbitan bukunya.

Dalam pemberitaan BarayaNews mengenai peluncuran Pesona Golok Pasundan, Gatut menjelaskan:

“Kami berkunjung ke kampung-kampung, bertemu para sepuh untuk menggali filosofi di balik golok Pasundan yang berbeda-beda di masing-masing daerah.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan pentingnya pengetahuan yang diwariskan secara lisan. Cerita para sesepuh, filosofi, teknik pembuatan, dan tradisi penggunaan golok perlu dicatat agar tidak hilang seiring perubahan zaman.

Memperluas pemahaman tentang pusaka

Gatut juga berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap golok. Dalam kegiatan Mahakarya Pusaka Nusantara di Botani Square, Kota Bogor, pada Agustus 2025, ia mengingatkan bahwa golok kerap dipahami hanya berdasarkan fungsi praktisnya.

“Jadi kalau orang denger golok apa yang ada di otak kita? Itu pasti hanya alat potong pemecah kelapa, daging.”

Padahal, golok memiliki dimensi kebudayaan yang lebih luas. Sejarah, estetika, simbolisme, dan keterampilan para pembuatnya merupakan bagian dari nilai yang perlu dikenali.

Dalam berbagai kesempatan, Gatut menjelaskan perjalanan fungsi golok dari alat untuk mendukung kehidupan sehari-hari, alat pertahanan, hingga pusaka budaya.

“Golok dulu menjadi alat ketahanan pangan, kemudian alat pertahanan, dan sekarang menjadi pusaka.”

Kampus dan komunitas menjadi ruang pelestarian

Gerakan Golok Road to UNESCO juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi. Pada November 2025, Gatut menjalin kerja sama dengan Universitas Taman Siswa Yogyakarta. Kemudian, pada Januari 2026, ia membangun sinergi dengan Universitas Pakuan Bogor melalui program Golok Goes to Campus.

Program tersebut melibatkan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya untuk memperkuat kajian dan edukasi mengenai golok sebagai warisan budaya.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah Munggahan dan Sarasehan Pelestari Golok pada 14 Februari 2026. Sekitar 300 koleksi golok dari berbagai periode sejarah ditampilkan dalam kegiatan tersebut.

Kehadiran kampus menjadi penting karena pelestarian budaya memerlukan dokumentasi dan penelitian yang kuat. Di sisi lain, lingkungan pendidikan juga menjadi ruang untuk memperkenalkan pusaka kepada generasi muda.

Membangun kekuatan lintas wilayah

Pada 28 Januari 2026, Gatut bersama para pelestari golok mempresentasikan program Golok Road to UNESCO kepada Kementerian Kebudayaan. Pertemuan tersebut membahas langkah yang telah dilakukan, termasuk koordinasi lintas institusi dan sosialisasi kepada komunitas budaya di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.

Gatut mendorong ketiga wilayah tersebut membangun narasi bersama karena memiliki keterkaitan sejarah dan tradisi golok.

Dalam pemberitaan Radar Bogor pada tanggal yang sama, ia menyampaikan semangat perjuangannya:

“Pejuang tidak tahu kapan akan merdeka, tapi yang jelas perjuangan sudah mulai dan ada titik awalnya bukan hanya bermimpi.”

Penguatan kolaborasi kembali disuarakan dalam Temu Rasa Pelestari Golok pada Juni 2026, yang menjadi bagian dari Mahakarya Pesona Pusaka Nusantara di Pasar Gembrong. Kegiatan tersebut diikuti pelestari tosan aji dari sembilan provinsi.

Dalam kesempatan itu, Gatut menyebut pengakuan nasional terhadap sejumlah jenis golok dari Banten, Jawa Barat, dan Betawi sebagai modal untuk memperkuat langkah bersama.

“Semoga dengan modal golok dari 3 provinsi ini bisa menjadi kekuatan kita untuk mendorong golok bisa segera diusulkan ke UNESCO dan bisa segera disahkan,” ujarnya.

Melibatkan generasi muda

Pelestarian warisan budaya membutuhkan keterlibatan generasi penerus. Karena itu, Gatut mendorong pengenalan golok melalui pameran, sarasehan, pendidikan, penelitian, dan kegiatan kreatif.

Festival seni kreasi silat golok serta peragaan busana bertema golok menjadi salah satu pendekatan untuk mempertemukan tradisi dengan ekspresi budaya masa kini.

Pemerintah Kota Bogor turut memberikan dukungan terhadap gerakan tersebut. Dalam kegiatan Lebaran Golok di Setu Babakan, Kampung Betawi, pada April 2026, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menekankan bahwa golok memiliki nilai filosofis, historis, dan estetika yang perlu dipahami generasi penerus.

Dedie juga menyampaikan dukungannya terhadap perjuangan Gatut.

“Beliau punya keinginan yang gigih dan tulus dengan segala daya upaya. Insyaallah Pemkot Bogor akan membersamai beliau sampai ke UNESCO, dari Bogor untuk Indonesia dan dari Bogor untuk dunia.”

Pengakuan dunia dan tanggung jawab pelestarian

Golok Road to UNESCO merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan dokumentasi, penelitian, koordinasi, dan keterlibatan masyarakat. Pengakuan internasional menjadi salah satu tujuan, tetapi pelestarian pengetahuan dan tradisi tetap menjadi pekerjaan utama.

Melalui buku, pameran, kerja sama perguruan tinggi, dan jejaring komunitas, Gatut Susanta berupaya menjaga agar sejarah golok tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Sebab, yang diwariskan bukan hanya benda, melainkan juga pengetahuan para pembuatnya, filosofi para pendahulu, serta identitas masyarakat yang hidup bersama tradisi tersebut.

Dari Bogor, gerakan ini mengajak masyarakat untuk kembali mengenali dan merawat pusaka Nusantara. Perjalanan menuju UNESCO mungkin panjang, tetapi upaya menjaga warisan budaya dapat dimulai dari langkah nyata hari ini. (Ckr03/red)