“Trash to Action”, WCD Jawa Barat Dorong Aksi Nyata Pemuda Jaga Lingkungan
2 mins read

“Trash to Action”, WCD Jawa Barat Dorong Aksi Nyata Pemuda Jaga Lingkungan

1 Kali Dibaca

Lanskap, Purwakarta – Menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah yang sudah berserakan. Perubahan kebiasaan dan pengelolaan sampah setelah dikumpulkan juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan.

Pesan tersebut muncul dalam talkshow “Trash to Action: Saatnya Pemuda Ambil Aksi!” yang menjadi bagian dari puncak World Cleanup Day (WCD) Jawa Barat 2026 di Alun-Alun Purwakarta.

Diskusi tersebut mempertemukan empat penggerak lingkungan muda, yakni Dimas Dwi Pangestu, Fajar Amali Kurniawan, Umar Rahidin, dan Fika Nur Sabrina.

Aksi Lingkungan Bisa Dimulai dari Hal Sederhana

Founder Trash Ranger Indonesia, Dimas Dwi Pangestu, mengatakan organisasinya telah berkolaborasi dengan WCD sejak awal berdiri.

Ia menilai aksi nyata menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pandangan tersebut kemudian dilengkapi Fajar Amali Kurniawan. Leader WCD Jawa Barat itu mengajak masyarakat tidak menunggu sampai mampu melakukan gerakan besar.

Menurut Fajar, tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten tetap dapat memberikan dampak.

Dari Cleanup Menuju Ekonomi Sirkular

Persoalan sampah juga tidak berhenti ketika sampah sudah dikumpulkan.

Co-Founder Better Life Indonesia, Umar Rahidin, menjelaskan pentingnya melanjutkan proses tersebut dengan pengolahan limbah.

Better Life Indonesia, antara lain, berfokus pada pengelolaan minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat.

Umar menyebut pengolahan limbah menjadi produk baru dapat menjadi langkah lanjutan dari kegiatan cleanup sekaligus berkaitan dengan konsep ekonomi sirkular.

Mencegah Timbulan Sampah

Fika Nur Sabrina kemudian membawa pembahasan pada perubahan gaya hidup.

Pemenang Duta Lingkungan Jawa Barat tersebut mendorong masyarakat mengurangi penggunaan produk sekali pakai. Ia mencontohkan beeswax wrap sebagai salah satu alternatif pembungkus makanan untuk mengurangi penggunaan plastik.

Menurut Fika, menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan dengan membersihkan sampah, tetapi juga dengan mengurangi sampah yang dihasilkan sejak awal.

Pemuda dan Tantangan Literasi Lingkungan

Sesi tanya jawab membuat diskusi semakin interaktif. Peserta bernama Azzam menanyakan apakah bumi dapat kembali pulih dan bagaimana pemuda menyampaikan literasi lingkungan kepada generasi yang lebih tua.

Para panelis menekankan bahwa persoalan lingkungan membutuhkan kerja bersama. Perbedaan latar belakang maupun organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk melakukan aksi lingkungan.

Pesan tersebut kemudian dirangkum melalui semangat “Beyond Cleanup”.

Artinya, gerakan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah. Ada langkah berikutnya berupa mencegah timbulan sampah, mengolah limbah, mengubah kebiasaan, dan merawat lingkungan secara berkelanjutan.

Talkshow tersebut menjadi salah satu ruang dalam rangkaian WCD Jawa Barat 2026 untuk mendorong pemuda melihat persoalan sampah secara lebih luas sekaligus menemukan bentuk aksi yang dapat dilakukan dari lingkungan masing-masing. (Rnie)