Purna Tugas Dr. H.M. Suaidi dan Jejak Pembinaan Guru PAI di Kecamatan Makasar
3 mins read

Purna Tugas Dr. H.M. Suaidi dan Jejak Pembinaan Guru PAI di Kecamatan Makasar

6 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Masa purna tugas bagi seorang pendidik atau pengawas bukan semata-mata akhir dari sebuah perjalanan profesional. Di dalamnya terdapat jejak pengabdian, relasi, dan nilai-nilai yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.

Hal tersebut tercermin dalam acara “Purna Tugas Pengawas PAI dan Silaturahmi GPAI Kec. Makasar” yang digelar Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Makasar di SD Angkasa 9, Jalan Gatot Kaca II, Komplek Dirgantara II, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) untuk memberikan penghormatan kepada Dr. H.M. Suaidi, M.Ag., yang memasuki masa purna tugas setelah menjalankan amanah sebagai Pengawas PAI Kecamatan Makasar.

Ketua KKG PAI Kecamatan Makasar, Ust. Mahmudin, S.Pd.I, menyebut acara tersebut sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian yang telah diberikan Dr. H.M. Suaidi.

“Acara ini bukan sekadar seremonial perpisahan, melainkan manifestasi dari rasa hormat dan terima kasih yang mendalam atas pengabdian Dr. Kyai Suaidi dalam membina, mengawal, dan meningkatkan kualitas guru-guru PAI di wilayah Kecamatan Makasar,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Pembinaan Administratif

Dalam perjalanan tugasnya, Dr. H.M. Suaidi dinilai tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan dari sisi administratif.

Ust. Juwahir, S.Pd.I, yang mewakili Guru PAI Kecamatan Makasar sekaligus Ketua KKG PAI Jakarta Timur (JT) II, mengatakan Dr. H.M. Suaidi memberikan perhatian terhadap berbagai aspek pengembangan guru.

Mulai dari kompetensi pedagogik, spiritual, hingga karakter pendidik menjadi bagian dari pembinaan yang dilakukan.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang bersedia hadir di tengah para guru, memberikan masukan konstruktif dan menjadi tempat berkonsultasi ketika para pendidik menghadapi persoalan dalam proses pembelajaran.

Kepribadian yang rendah hati, bijaksana, dan penuh empati membuat hubungan yang terbangun tidak berhenti pada relasi formal antara pengawas dan guru.

Ada hubungan kemanusiaan dan kebersamaan yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan para pendidik di Kecamatan Makasar.

Silaturahmi sebagai Ruang Melanjutkan Nilai

Purna tugas juga menjadi momentum untuk melihat kembali arti penting silaturahmi dalam komunitas pendidikan.

Bagi KKG PAI Kecamatan Makasar, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah islamiyah sekaligus menjaga solidaritas antar-guru.

Dinamika pendidikan yang terus berkembang, termasuk perubahan kurikulum dan meningkatnya tuntutan profesionalisme, membuat kerja bersama antarpedidik menjadi semakin penting.

Dalam konteks tersebut, jejak pembinaan seorang pengawas dapat terus hidup melalui praktik dan nilai yang diterapkan oleh para guru yang pernah dibimbingnya.

“Purna tugas Dr. Kyai Suaidi adalah titik balik bagi kelompok kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) untuk melanjutkan estafet pembinaan dengan semangat baru, sembari tetap mengenang jejak langkah beliau yang telah mewarnai landscape pendidikan agama di Kecamatan Makasar Jakarta Timur,” kata Juwahir.

Melanjutkan Estafet Pendidikan PAI

Dengan berakhirnya masa tugas Dr. H.M. Suaidi, KKG PAI Kecamatan Makasar menyatakan komitmennya untuk menjaga kesinambungan visi dan misi pendidikan agama Islam.

Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat solidaritas guru agar mampu menghadapi berbagai tantangan pendidikan di era modern.

Acara silaturahmi turut dihadiri Nuri Rahmawati, Kasatlak Kecamatan Makasar; Erpin Sulistio, Operator Kemenag Jakarta Timur; Ketua Binaan 1 sampai 4; serta para Guru Agama Islam Kecamatan Makasar.

Purna tugas pada akhirnya bukan tentang berhentinya kontribusi. Bagi komunitas pendidikan, pengalaman, keteladanan, dan nilai yang telah diwariskan seorang pengawas dapat terus menemukan bentuk baru melalui para guru yang melanjutkan tugas mendidik.

Di situlah sebuah pengabdian memperoleh makna yang lebih panjang: ketika apa yang pernah diajarkan tetap hidup dalam tindakan orang-orang yang meneruskannya. (Hnd)