
PHEV dan Masa Depan Mobilitas, Apa yang Perlu Dipahami Konsumen Indonesia?
Lanskap.id, Jakarta – Perkembangan kendaraan elektrifikasi menghadirkan semakin banyak pilihan bagi konsumen Indonesia. Selain mobil listrik berbasis baterai dan hybrid konvensional, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menawarkan pendekatan yang menggabungkan tenaga listrik dengan mesin konvensional.
Teknologi ini memungkinkan kendaraan menggunakan tenaga listrik untuk perjalanan tertentu, sementara mesin konvensional tetap tersedia untuk mendukung perjalanan lebih jauh. Namun, manfaatnya sangat bergantung pada karakteristik kendaraan dan kebiasaan penggunaan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang diberitakan ANTARA mencatat distribusi gabungan BEV, HEV, dan PHEV sebesar 175.144 unit pada 2025, meningkat dari 103.228 unit pada 2024. Distribusi PHEV naik dari 136 menjadi 5.270 unit dalam periode tersebut.
Memahami Tiga Teknologi Elektrifikasi
BEV mengandalkan motor listrik dan baterai yang diisi melalui sumber listrik eksternal. Berbeda dengan BEV, HEV menggabungkan motor listrik dan mesin konvensional, dengan baterai yang umumnya tidak memerlukan pengisian dari luar kendaraan.
PHEV berada di antara dua pendekatan tersebut. Kendaraan ini memiliki motor listrik dan mesin konvensional, serta baterai yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.
Kapasitas baterai PHEV memungkinkan penggunaan tenaga listrik dalam jarak yang umumnya lebih jauh dibandingkan HEV konvensional. Meski demikian, jarak aktual bergantung pada spesifikasi kendaraan, tingkat pengisian baterai, kondisi jalan, dan gaya berkendara.
Kebiasaan Pengguna Menentukan Efisiensi
PHEV dapat dimanfaatkan untuk perjalanan rutin, terutama ketika jarak harian masih berada dalam jangkauan listrik kendaraan. Pengisian daya secara konsisten di rumah atau tempat kerja membantu pemilik memaksimalkan penggunaan tenaga listrik.
Sebaliknya, baterai yang jarang diisi membuat mesin konvensional lebih sering digunakan. Karena itu, konsumen perlu menilai akses pengisian daya sebelum membeli kendaraan jenis ini.
Pertimbangan lain meliputi biaya listrik dan bahan bakar, servis berkala, garansi baterai, nilai jual kembali, serta kebutuhan ruang dan kenyamanan kabin. Teknologi elektrifikasi sebaiknya dipilih berdasarkan pola penggunaan, bukan semata-mata karena menawarkan fitur terbaru.
DFSK E5 Plus sebagai Contoh PHEV
DFSK E5 Plus merupakan SUV PHEV dengan konfigurasi enam tempat duduk. Spesifikasi resmi DFSK mencantumkan baterai berkapasitas 25 kWh, jarak tempuh listrik murni hingga 140 kilometer, serta jarak tempuh gabungan hingga 1.400 kilometer berdasarkan standar NEDC.
Angka pengujian tersebut bukan jaminan jarak tempuh dalam semua kondisi. Penggunaan nyata dapat dipengaruhi oleh kondisi jalan, muatan, gaya berkendara, dan pemakaian pendingin udara.
E5 Plus juga menawarkan captain seat pada baris kedua, layar hiburan belakang 15,6 inci, ventilated seats di baris pertama dan kedua, serta fitur Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Sejumlah mode pengoperasian tersedia untuk mengatur penggunaan tenaga listrik dan mesin konvensional. Pengemudi tetap perlu memahami cara kerja dan batasan fitur melalui buku panduan kendaraan.
Menentukan Pilihan Berdasarkan Kebutuhan
PHEV dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin memanfaatkan tenaga listrik untuk aktivitas harian tanpa sepenuhnya meninggalkan mesin konvensional. Namun, teknologi ini bukan solusi yang otomatis paling efisien bagi setiap pengguna.
Akses pengisian daya, pola perjalanan, biaya kepemilikan, dan kebutuhan keluarga perlu dinilai secara menyeluruh. Dengan memahami perbedaan teknologi serta batasan setiap kendaraan, konsumen dapat mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mobilitasnya. (Rnie)



