Satu Dekade Rumah Singgah Al-Fatih: Mendampingi Anak Sakit, Menguatkan Keluarga
3 mins read

Satu Dekade Rumah Singgah Al-Fatih: Mendampingi Anak Sakit, Menguatkan Keluarga

0 Kali Dibaca

Lanskap.id, Bandung –  Perjalanan pengobatan anak dari keluarga kurang mampu tidak selalu berhenti pada akses rumah sakit. Bagi keluarga yang datang dari luar kota, biaya tempat tinggal, transportasi, makanan, dan obat-obatan juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan berdirinya Rumah Singgah Al-Fatih (RSAF) pada 10 Oktober 2016. Selama satu dekade, lembaga di bawah naungan Cinta Quran Foundation itu telah mendampingi lebih dari 550 Pejuang Kesembuhan dari 35 kabupaten dan kota.

RSAF menyediakan tempat tinggal sementara dan berbagai bantuan gratis bagi keluarga yang mendampingi anak menjalani pengobatan di Bandung. Perjalanan sepuluh tahun itu diperingati pada 18 Oktober 2026.

Founder RSAF, Kasviansyah atau Kang Avin, mengenang perjalanan tersebut sebagai pengalaman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Baginya, upaya mendampingi anak hingga kembali sehat menjadi penguat di tengah kelelahan yang menyertai pekerjaan kemanusiaan.

Pengobatan anak dan beban keluarga

Keluarga yang harus mendampingi anak berobat jauh dari rumah menghadapi banyak kebutuhan sekaligus. Selain biaya perjalanan dan tempat tinggal, mereka juga perlu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari serta mencari obat yang tidak seluruhnya ditanggung BPJS.

RSAF berupaya mengurangi beban itu melalui bantuan tempat tinggal, makan dan minum, antar-jemput ambulans, nutrisi, obat-obatan, serta alat penunjang kesehatan. Pendampingan ekonomi turut diberikan kepada keluarga yang kesulitan mempertahankan penghasilan selama anak menjalani perawatan.

Dampak pendampingan tersebut tergambar dalam kisah Livia, pasien osteosarkoma atau kanker tulang asal Tasikmalaya. Livia mulai didampingi RSAF ketika berusia 14 tahun. Ia kemudian menjalani amputasi dan menggunakan kaki prostetik.

Kini, setelah pengobatannya rampung, Livia bekerja sebagai desainer kreatif. Ia mengenang keramahan para pengasuh RSAF yang membuat dirinya dan keluarga merasa nyaman selama tinggal di rumah singgah.

Kisah lainnya adalah Ara, anak berusia empat tahun yang didiagnosis mengalami Total AV Block. Ibunya, Lasmi, telah berupaya mencari penanganan sejak Ara masih bayi, bahkan sampai menjual tanah dan harta yang dimiliki demi pengobatan.

Bagi Lasmi, pertemuan dengan RSAF menjadi bagian penting dari perjalanan keluarga dalam mendampingi Ara. Ia mengungkapkan rasa syukur karena mendapatkan dukungan hingga kondisi anaknya menjadi lebih baik dan aktif.

Layanan kesehatan dan dukungan ekonomi

Selain menyediakan rumah singgah, RSAF menjalankan layanan ambulans dan bantuan obat-obatan. Pada 2025, ambulans RSAF tercatat menempuh jarak 154.725 kilometer untuk mengantar dan menjemput pasien ke rumah sakit.

Saat ini, enam ambulans gratis melayani wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. RSAF juga membantu sekitar 300 resep obat setiap tahun serta mendampingi lebih dari 50 keluarga melalui program ekonomi.

Data yang disampaikan RSAF mencatat sekitar 120 orang telah sembuh, 141 orang masih didampingi, 174 orang mengalami penundaan pengobatan, dan 115 orang telah berpulang.

Di tengah kebutuhan yang terus ada, RSAF mulai memperluas jangkauan. Rumah Singgah Al-Fatih Yogyakarta resmi berdiri pada akhir Januari 2025. Ke depan, Avin berharap layanan serupa dapat menjangkau Surabaya, Semarang, dan Jakarta, terutama untuk membantu keluarga yang harus menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan.

RSAF juga mengembangkan usaha produktif berbasis wakaf, salah satunya melalui apotek wakaf produktif di Bandung. Hasil penjualan obat diharapkan dapat mendukung biaya operasional rumah singgah sehingga layanan memiliki sumber pendanaan yang lebih berkelanjutan.

Sepuluh tahun RSAF memperlihatkan bahwa dukungan bagi pasien anak perlu melihat kebutuhan keluarga secara menyeluruh. Di luar tindakan medis, tempat tinggal, transportasi, kebutuhan dasar, dan penguatan ekonomi dapat menjadi bagian penting dari perjalanan pengobatan.

Pendampingan itu berangkat dari satu prinsip sederhana: setiap anak layak diperjuangkan, termasuk oleh mereka yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. (Hnd)