Riset Limbah Plastik Jadi Material Komposit, Australia-Indonesia Buka Peluang Kolaborasi
3 mins read

Riset Limbah Plastik Jadi Material Komposit, Australia-Indonesia Buka Peluang Kolaborasi

3 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Peneliti, akademisi, dan pelaku industri dari Australia dan Indonesia memperkuat penjajakan kolaborasi riset di bidang material berkelanjutan dan manufaktur maju melalui Australia-Indonesia Circular Materials & Advanced Manufacturing Engagement Program.

Program yang berlangsung pada 24–25 September 2026 di Jakarta tersebut menjadi wadah pertukaran pengetahuan sekaligus penjajakan kerja sama riset untuk mengembangkan material berkelanjutan dan teknologi manufaktur yang dapat menjawab kebutuhan industri.

Program ini didukung Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah Australia dan melibatkan University of Southern Queensland (UniSQ) melalui Centre for Future Materials (CFM) bersama Jiva Catalyst Foundation.

Rangkaian kegiatan diawali sesi networking dan pemaparan hasil riset di Le Méridien Jakarta pada 24 September. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan industri pada hari berikutnya.

Sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti forum tersebut, antara lain akademisi Universitas Pembangunan Jaya Bintaro, perwakilan Kementerian Kehutanan, serta konsultan industri Fergi Associates.co.

Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah persoalan limbah plastik sekali pakai di Indonesia dan peluang pengolahannya menjadi material komposit bernilai guna melalui teknologi manufaktur modern.

Limbah Plastik Dikembangkan Menjadi Material Komposit

Robiatul Adawiyah, mahasiswa PhD Materials Engineering UniSQ, memaparkan penelitian mengenai pemanfaatan recycled thermoplastics yang dikombinasikan dengan continuous glass fibre.

Penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan material komposit yang dapat digunakan kembali sebagai filamen dalam teknologi pencetakan tiga dimensi atau 3D printing.

“Sebagai negara dengan populasi besar, kita memproduksi banyak limbah plastik sekali pakai yang memicu problematika lingkungan. Melalui forum ini, kita dapat mengasimilasi hasil penelitian dari Australia ke Indonesia agar material daur ulang tidak hanya dimanfaatkan kembali, tetapi juga memiliki performa dan nilai guna yang tinggi untuk kebutuhan industri,” ujar Robiatul.

Sementara itu, Dr. Sachini Wickramasinghe, Project Lead Building Climate-Resilient Communities Using 3D-Printed Recycled Plastics di CFM UniSQ, menjelaskan riset yang dikembangkan berfokus pada konversi limbah plastik menjadi material komposit yang diperkuat serat atau fiber-reinforced composite.

Material tersebut berpotensi digunakan kembali dalam pembangunan infrastruktur sipil yang lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim.

Director of CFM UniSQ, Prof. Allan Manalo, menilai kolaborasi lintas negara penting untuk menghadapi persoalan lingkungan yang bersifat global.

“Hari ini kita berbicara lebih dari sekadar CFM; kita membahas tantangan global dan kolaborasi yang dapat dibangun untuk mengatasinya. Acara ini menjadi platform penting untuk saling terhubung, bertukar ide, dan mengeksplorasi peluang kerja sama di masa depan,” ungkap Allan.

Kunjungan ke Fasilitas Pengelolaan Limbah

Pada hari kedua, peserta melakukan industry site visit ke fasilitas pengelolaan limbah PT Jangjo Teknologi Indonesia di Cengkareng, Jakarta Barat.

Kunjungan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai penerapan teknologi dalam pengelolaan limbah sekaligus membuka ruang diskusi mengenai tantangan teknis di industri yang berpotensi dijawab melalui penelitian lebih lanjut.

Kolaborasi Australia-Indonesia ini masih berada pada tahap awal berupa pertukaran gagasan dan penjajakan peluang kerja sama. Namun, pertemuan tersebut membuka peluang pengembangan penelitian bersama di masa mendatang.

Integrasi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha diharapkan dapat mendorong pengembangan circular materials agar tidak berhenti di tingkat laboratorium, tetapi dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan di Indonesia maupun Australia. (Hnd)