
PT GUT Perkuat Bisnis Energi Bersih, Garap Tiga Proyek Panas Bumi Secara Simultan
Lanskap, Tangerang – PT Graha Usaha Teknik (PT GUT) menegaskan komitmennya untuk mengambil bagian dalam pengembangan energi bersih di Indonesia melalui keikutsertaannya pada Electricity Connect 2026 (Enlit Asia) di ICE BSD City, Tangerang.
Hingga hari terakhir pameran dan konferensi ketenagalistrikan tersebut, PT GUT menampilkan berbagai kapabilitas perusahaan di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya dalam pengembangan infrastruktur kelistrikan dan proyek pembangkit energi bersih.
Keikutsertaan ini menjadi bagian dari langkah perusahaan memperluas bisnis Engineering, Procurement and Construction (EPC) di sektor energi hijau. PT GUT melihat pengembangan infrastruktur EBT sebagai salah satu bagian penting dalam mendukung transformasi sektor ketenagalistrikan nasional.
Pemerintah sendiri terus mendorong peningkatan bauran energi terbarukan melalui berbagai kebijakan, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang mengarahkan pengembangan pembangkit dan jaringan listrik dengan pemanfaatan potensi energi domestik.
Panas bumi dan tenaga surya menjadi dua sumber energi yang memiliki potensi besar dalam mendukung proses transisi dari energi fosil menuju sistem energi yang lebih rendah emisi.
Garap Tiga Proyek Panas Bumi
Salah satu bukti keterlibatan PT GUT dalam sektor energi bersih terlihat dari pengerjaan tiga proyek pembangkit berbasis panas bumi secara bersamaan.
Ketiga proyek tersebut adalah Geothermal Salak 7, Patuha 2, dan Dieng 2 yang berada di tiga lokasi berbeda.
Pengalaman tersebut melengkapi portofolio PT GUT di sektor energi, termasuk pelaksanaan EPCC Turn Key Project 150 kV Transmission Line East Bali Solar Power Plant 25 MWp milik Medco serta pembangunan 15 kV Isolated Phase Busduct di Ulubelu Geothermal Power Plant.
Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional PT Graha Usaha Teknik, Kuswanto Rahayu (Dade), mengatakan pengembangan EBT tidak hanya membutuhkan komitmen terhadap lingkungan, tetapi juga kesiapan teknis dan operasional.
“Transisi menuju Energi Baru Terbarukan tidak hanya menuntut visi lingkungan, tetapi juga kesiapan operasional di lapangan dengan kompleksitas teknis yang lebih tinggi. PT GUT siap mengawal seluruh kebijakan strategis dari Presiden serta Kementerian ESDM. Kami memastikan bahwa setiap proyek EBT yang kami tangani dieksekusi dengan standar rekayasa terbaik demi menjamin pasokan daya hijau yang stabil bagi industri dan masyarakat.”
Membuka Peluang Kemitraan Baru
Di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur energi bersih, PT GUT juga melihat peluang untuk memperluas kerja sama dengan berbagai pihak di sektor ketenagalistrikan.
Direktur Marketing PT Graha Usaha Teknik, Agung Sutiastoro, mengatakan perkembangan proyek energi bersih dan ekspansi jaringan transmisi membuka peluang pasar baru bagi perusahaan nasional.
“Ekspansi jaringan transmisi masif dan proyek energi bersih telah membuka ruang pasar ketenagalistrikan yang sangat luas di Indonesia. Kehadiran aktif PT GUT di Electricity Connect 2026 dirancang khusus untuk menangkap peluang kemitraan strategis tersebut. Dengan kapabilitas ekosistem solusi dari hulu ke hilir, kami siap mendukung kementerian mempercepat elektrifikasi industri strategis berbasis energi bersih di berbagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.”
Menurutnya, keterlibatan dalam Electricity Connect 2026 juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kemampuan perusahaan sekaligus membuka komunikasi dengan calon mitra dan pelaku industri.
Andalkan Kompetensi Insinyur Lokal
Pengembangan energi terbarukan juga membawa tantangan tersendiri dari sisi teknis. Integrasi pembangkit energi terbarukan ke jaringan transmisi membutuhkan perencanaan, rekayasa, hingga proses konstruksi dan komisioning yang terintegrasi.
Direktur Teknis PT Graha Usaha Teknik, Abdul Hamid, mengatakan PT GUT mengandalkan pengalaman tim teknik lokal yang telah menangani berbagai proyek kelistrikan selama lebih dari dua dekade.
“Modernisasi jaringan untuk mengakomodasi energi bersih seperti tenaga surya dan panas bumi membutuhkan kompetensi teknik tingkat tinggi. Kami bangga menegaskan bahwa para insinyur lokal kami di PT GUT telah memiliki keahlian yang sangat matang. Berbekal rekam jejak lebih dari dua dekade, talenta lokal kami mampu menangani seluruh fase rancang bangun hingga komisioning megaproyek kelistrikan hijau secara mandiri, aman, dan kokoh.”
Penguasaan kompetensi engineering tersebut menjadi salah satu modal perusahaan dalam menghadapi kebutuhan pembangunan infrastruktur kelistrikan yang semakin kompleks.
Tata Kelola Keuangan Jadi Bagian Penting
Selain aspek teknis, pembiayaan dan tata kelola proyek juga menjadi perhatian dalam pengembangan infrastruktur EBT. Proyek energi bersih umumnya membutuhkan investasi dalam jumlah besar dan pengerjaan dalam jangka panjang.
Direktur Keuangan PT Graha Usaha Teknik, Ambarlin Widanarti, mengatakan perusahaan berupaya menjaga kesehatan struktur modal sekaligus memastikan pengelolaan keuangan proyek berjalan secara transparan dan akuntabel.
“Infrastruktur kelistrikan yang kuat dan bersih adalah prasyarat utama untuk menarik investasi global secara berkelanjutan ke Indonesia. Dari sisi finansial, PT GUT berkomitmen penuh menjaga struktur modal yang sehat serta kapasitas pendanaan yang kuat. Hal ini menjadi jaminan bahwa seluruh proyek penugasan kelistrikan hijau dari klien dapat diselesaikan secara tepat waktu, transparan, dan akuntabel guna menjaga stabilitas makroekonomi jangka panjang.”
Berakhirnya Electricity Connect 2026 menjadi momentum bagi PT GUT untuk melanjutkan komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), regulator, hingga mitra internasional.
Perusahaan menyatakan akan terus mengembangkan kapabilitasnya dalam bidang EPC dan pemeliharaan untuk mendukung pembangunan infrastruktur kelistrikan yang andal dan berbasis energi bersih. (Rnie)



