Parade Penyair “Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi”, Merawat Kepedulian Lewat Sastra
2 mins read

Parade Penyair “Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi”, Merawat Kepedulian Lewat Sastra

1 Kali Dibaca

Lanskap.id, Jakarta –  Sastra dapat menjadi ruang untuk membaca keadaan bangsa sekaligus menyampaikan harapan tentang masa depan. Semangat tersebut hadir dalam Parade Penyair Sumpah Pemuda bertajuk “Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi” yang mempertemukan 13 penyair dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan yang dimulai pada Sabtu, 24 Oktober 2026, ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom oleh Jendela Puspita bersama Komunitas Pegiat Literasi dan Budaya Nusantara. Parade tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Sumpah Pemuda 2026.

Ketiga belas penyair membacakan karya yang dihimpun dalam antologi puisi Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi. Melalui karya-karya tersebut, mereka menyampaikan kegelisahan, kritik, doa, dan harapan terhadap kondisi serta perjalanan bangsa.

Sastra sebagai Ruang Refleksi

Dalam parade yang diselenggarakan melalui tiga sesi tersebut, puisi ditempatkan sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan tentang Indonesia.

Karya sastra memberi ruang bagi beragam suara untuk hadir dan saling bertemu. Perbedaan daerah asal maupun latar belakang penyair menjadi bagian dari kekayaan perspektif yang disampaikan dalam kegiatan ini.

Dalam konteks peringatan Sumpah Pemuda, kegiatan tersebut juga mengingatkan bahwa semangat kebangsaan dapat dirawat melalui ekspresi budaya, gagasan, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

13 Suara dari Penjuru Nusantara

Para penyair yang terlibat berasal dari Banda Aceh, Kutai Kartanegara, Jakarta, Mojokerto, Bogor, Cianjur, Medan, Cimahi, Lingga, Banyuwangi, dan Cirebon.

Mereka adalah Sitti Hasnidar, Suparno Ghopar, Endah Wijayanti, Masitoh Lillulidesi, Taufik Pramudja, Dyah Mintarti, Mutmainah, Ramilus, Ali Arief Kusas, Iis Suharti, Edi Suwito, Dyah Dhomi Eko Wulandari, dan Juju Juriyah.

Pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan pengalaman dan kegelisahan dari berbagai wilayah. Melalui puisi, para penyair menyampaikan kepedulian terhadap tanah air dengan bahasa dan sudut pandang masing-masing.

Literasi dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Pembina Sanggar Literasi Jendela Puspita, Siska Puspita Dewi, berharap kegiatan semacam ini dapat terus membuka ruang bagi masyarakat untuk berkarya dan menyampaikan kepedulian terhadap Indonesia.

“Melalui puisi, kita ingin memberi ruang bagi suara-suara yang peduli terhadap Indonesia. Semoga karya yang lahir tidak hanya dibaca, tetapi juga mampu menggerakkan hati dan menginspirasi perubahan,” ungkap Siska.

Parade Penyair “Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi” menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kesadaran dan kepedulian sosial.

Melalui kolaborasi Jendela Puspita dan Komunitas Pegiat Literasi dan Budaya Nusantara, puisi dihadirkan sebagai ruang ekspresi sekaligus pengingat bahwa persatuan dan kecintaan terhadap bangsa perlu terus dirawat melalui karya serta tindakan. (Rnie)