Meradjoet Sendja, Ketika Sejarah Pendiri Bangsa Kembali Bernyawa di Atas Panggung
2 mins read

Meradjoet Sendja, Ketika Sejarah Pendiri Bangsa Kembali Bernyawa di Atas Panggung

0 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Sejarah tidak selalu harus dibaca dari buku atau dipelajari melalui ruang kelas. Melalui “Meradjoet Sendja — Persembahan Cinta Untuk Republik”, kisah dan gagasan para pendiri bangsa dihadirkan kembali melalui musik dan seni pertunjukan.

Pementasan yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (26/8/2026), tersebut memadukan orkestrasi, seni peran dan narasi sejarah.

Olivia Zalianty dipercaya sebagai produser sekaligus sutradara. Pertunjukan ini menghadirkan sejumlah seniman, di antaranya Marcella Zalianty, Arswendy Bening Swara, Dira Sugandi, Isyana Sarasvati, Tanta Ginting, Jane Callista, Shanna Shannon, Fryda Lucyana, Lutfi Adriansyah, Ridho Rokhanah dan Edopoaha.

Yang menarik, “Meradjoet Sendja” tidak menempatkan sejarah sebagai sesuatu yang selesai di masa lalu.

Pemikiran Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan Tan Malaka dirangkai menjadi sebuah pertunjukan yang mengajak penonton melihat kembali gagasan mengenai Indonesia, kemerdekaan dan masa depan bangsa.

“Pertunjukan ini adalah persembahan seni, sejarah dan cinta untuk Indonesia,” kata Olivia Zalianty.

Menurut Olivia, kesenian memiliki peran penting dalam menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Karena itu, sejarah dan seni dipertemukan untuk menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton berpikir dan merenung.

Dari Masa Lalu ke Indonesia Hari Ini

Di tengah perubahan cara generasi muda mengenal sejarah, “Meradjoet Sendja” mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda.

Panggung menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Penonton diajak memahami para tokoh bangsa melalui gagasan, pergulatan dan cita-cita yang mereka bawa.

Pertemuan imajinatif antara Tan Malaka dan Bung Karno menjadi salah satu gambaran bagaimana pertunjukan ini membuka ruang dialog tentang perjalanan Indonesia.

Bagi Marcella Zalianty, apa yang dilakukan dalam pertunjukan tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga memberikan sumbangsih bagi generasi yang akan meneruskan perjalanan bangsa.

“Kita ingin memberikan sumbangsih dari mereka yang telah memberikan arti, untuk kita yang meneruskan hari, dan untuk generasi yang kelak menjaga negeri ini,” ujar Marcella.

Tema “keberanian mencintai Indonesia” kemudian menjadi benang merah pertunjukan.

Cinta terhadap Indonesia tidak ditempatkan hanya sebagai romantisme, tetapi sebagai pertanyaan tentang apa yang dapat dilakukan setiap generasi untuk menjaga, melanjutkan dan memberikan arti bagi bangsa.

Pertunjukan ini turut didukung dan berkolaborasi dengan PARFI’56, Dompet Dhuafa, KEANA, Kementerian Kebudayaan RI dan sejumlah pihak lainnya. (Rnie)