Ketika Pekerjaan Impian Justru Membuat Bingung, Bagaimana Menentukan Arah Karier?
4 mins read

Ketika Pekerjaan Impian Justru Membuat Bingung, Bagaimana Menentukan Arah Karier?

4 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Sebuah pekerjaan bisa menjadi impian banyak orang, tetapi belum tentu terasa sebagai pekerjaan yang tepat bagi orang yang menjalaninya.

Situasi tersebut dialami seorang perempuan berusia 22 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta. Setelah melalui perjuangan untuk mendapatkan posisi yang diinginkan banyak orang, ia justru merasa tidak memiliki kompetensi yang cukup dan mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut benar-benar sesuai dengan passion-nya.

Kebingungan bahkan muncul sejak berangkat bekerja. Ia merasa tidak tahu apa yang harus dikerjakan dan mulai mempertimbangkan untuk pindah pekerjaan.

Di sisi lain, pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang cukup baginya. Karena itu, keputusan untuk meninggalkan pekerjaan tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan mengenai keamanan finansial, kemampuan, dan arah karier jangka panjang.

Memahami Sumber Ketidaknyamanan

Pijar Psikologi menyarankan agar seseorang tidak langsung mengambil keputusan sebelum memahami sumber persoalannya.

Pertanyaan pertama yang perlu diajukan adalah apakah masalah utama terletak pada kemampuan atau ketidaksesuaian dengan passion.

Rasa tidak kompeten perlu dibedakan dari kondisi ketika seseorang memang belum menguasai suatu keterampilan. Jika kemampuan tersebut masih dapat dipelajari dan dikembangkan, proses adaptasi serta peningkatan kompetensi dapat menjadi salah satu pilihan.

Sebaliknya, jika persoalan utamanya adalah ketidaksesuaian dengan bidang yang dijalani, seseorang perlu mengeksplorasi lebih jauh apa yang sebenarnya ingin dikerjakan.

Karier Tidak Selalu Sama dengan Passion

Pembahasan mengenai passion juga membutuhkan kehati-hatian. Seseorang perlu memastikan apakah bidang yang dianggap sebagai passion memang sesuatu yang ingin dijalani atau justru muncul karena pekerjaan saat ini terasa tidak nyaman.

Dengan memahami perbedaan tersebut, keputusan karier dapat dibuat berdasarkan pertimbangan yang lebih utuh, bukan hanya dorongan untuk meninggalkan situasi yang sedang tidak menyenangkan.

Pijar Psikologi juga merekomendasikan bacaan seperti seri buku Rene Suhardono, Your Job is not Your Career dan Your Journey to be the Ultimate You, yang membahas passion, purpose, karier, dan pekerjaan. Alternatif lainnya adalah novel 23 Episentrum yang mengangkat perjalanan tokohnya dalam menemukan passion.

Menimbang Keamanan Finansial dan Kepuasan Kerja

Pilihan karier juga tidak terlepas dari kondisi finansial.

Mempertahankan pekerjaan memberikan keuntungan berupa penghasilan yang lebih pasti. Namun, seseorang mungkin tetap menghadapi persoalan berupa ketidaknyamanan, perasaan tidak mampu, atau ketidaksesuaian dengan pekerjaan.

Jika memilih mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan passion, tantangannya antara lain adalah proses pencarian kerja, kebutuhan membuat strategi yang jelas, serta kemungkinan adanya perubahan penghasilan.

Karena itu, keputusan karier idealnya tidak hanya melihat apa yang diinginkan, tetapi juga mempertimbangkan konsekuensi dan kesiapan menghadapi risiko.

Tidak Harus Memilih Secara Hitam Putih

Menjalani passion tidak selalu harus dilakukan melalui keputusan untuk langsung meninggalkan pekerjaan.

Ketertarikan terhadap suatu bidang dapat dikembangkan melalui aktivitas lain. Minat pada make up, misalnya, dapat diwujudkan melalui pembuatan konten. Ketertarikan terhadap dunia kuliner dapat dikembangkan menjadi usaha makanan atau catering. Sementara minat pada perjalanan dapat dituangkan melalui blog, buku, maupun usaha di bidang perjalanan.

Dengan demikian, seseorang memiliki ruang untuk menguji minatnya terlebih dahulu sebelum menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama.

Buat Peta Sebelum Mengambil Langkah

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat daftar sederhana mengenai setiap pilihan yang tersedia.

Untuk pilihan tetap bekerja, tuliskan keuntungan, kekurangan, dan langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi. Misalnya, mempertahankan penghasilan sambil meningkatkan kompetensi atau mencari aktivitas yang memberikan kepuasan.

Untuk pilihan mencari pekerjaan baru, pertimbangkan bidang yang dituju, kebutuhan kompetensi, kondisi finansial, strategi pencarian kerja, serta risiko apabila proses mendapatkan pekerjaan baru membutuhkan waktu.

Berdiskusi dengan orang tua, teman, atau orang yang dipercaya juga dapat membantu memperluas perspektif sebelum mengambil keputusan.

Pada akhirnya, perjalanan karier tidak selalu berlangsung dalam garis lurus. Pekerjaan yang sekarang dijalani dapat menjadi tempat untuk belajar, sementara passion dapat dikembangkan secara bertahap di luar pekerjaan.

Yang terpenting bukan sekadar menentukan apakah harus bertahan atau pergi, melainkan memahami alasan, kebutuhan, kemampuan, dan risiko dari setiap pilihan sebelum mengambil langkah berikutnya. (Nda)