
Ketika AI Hadir di Ruang Belajar BINUS @Bekasi
Lanskap, Bekasi ā Kecerdasan buatan perlahan menjadi bagian dari keseharian manusia. Ia hadir di ruang kerja, industri, layanan publik, hingga berbagai aktivitas yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada keputusan manusia.
Di tengah perubahan itu, pertanyaan mengenai AI bukan lagi sekadar tentang teknologi. Pertanyaannya bergeser: manusia seperti apa yang perlu dipersiapkan untuk hidup dan bekerja bersama teknologi tersebut?
Pertanyaan itu menjadi salah satu konteks di balik peluncuran Program Artificial Intelligence di BINUS @Bekasi, Sabtu, 5 September 2026.
Program tersebut hadir ketika kebutuhan Indonesia terhadap talenta digital terus bertumbuh. Pemerintah memproyeksikan kebutuhan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030, dengan kesenjangan sekitar 3 juta talenta yang masih perlu dipenuhi.
Namun, jumlah talenta bukan satu-satunya persoalan. Perubahan AI juga membawa kebutuhan terhadap cara berpikir yang berbeda.
Lebih dari Sekadar Menguasai Teknologi
BINUS University merancang Program Artificial Intelligence dengan pendekatan multidisiplin. Matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, Internet of Things, dan robotics menjadi bagian dari fondasi pembelajaran.
Tetapi teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir.
Mahasiswa juga didorong untuk mampu membaca persoalan, mengevaluasi keluaran AI, memahami konteks bisnis dan masyarakat, serta mempertimbangkan aspek etika dalam penggunaannya.
Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., menyebut perluasan program Artificial Intelligence sebagai bagian dari upaya membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk menguasai teknologi masa depan.
Harapannya, generasi muda tidak berhenti sebagai pengguna. Mereka juga dapat menjadi inovator yang menggunakan teknologi untuk menghadirkan solusi.
Bekasi dan Lanskap Industri
Pilihan Bekasi sebagai ruang berkembangnya program AI memiliki konteks tersendiri.
Kawasan ini tumbuh dengan aktivitas industri, bisnis, layanan, dan teknologi yang saling berkelindan. Dalam lanskap seperti itu, AI tidak berdiri sebagai teknologi yang terpisah, melainkan dapat masuk ke dalam berbagai prosesādari analisis data hingga efisiensi bisnis dan pengembangan layanan.
Direktur Kampus BINUS @Bekasi, Prof. Gatot Soepriyanto, melihat kondisi tersebut sebagai peluang pembelajaran. Mahasiswa dapat mempelajari teknologi sekaligus memahami bagaimana teknologi itu diterjemahkan menjadi solusi bagi kebutuhan nyata.
Dengan demikian, ruang belajar tidak berhenti pada kampus. Lingkungan sekitar menjadi bagian dari proses memahami persoalan.
Manusia di Tengah Perubahan
Microsoft Work Trend Index 2026 mencatat 33 persen pekerja di Indonesia masuk kategori pengguna AI tingkat lanjut. Angka tersebut lebih dari dua kali rata-rata global sebesar 16 persen.
Pada saat yang sama, 62 persen responden di Indonesia menilai kemampuan berpikir kritis semakin penting di era AI, sementara 60 persen melihat kemampuan melakukan kontrol kualitas terhadap hasil AI sebagai kompetensi yang semakin dibutuhkan.
Angka-angka itu memberi gambaran tentang perubahan hubungan manusia dan teknologi.
AI mungkin semakin mampu mengerjakan berbagai tugas. Namun, manusia tetap perlu menentukan persoalan yang hendak diselesaikan, menilai hasil yang diberikan teknologi, memahami konsekuensinya, serta mengambil keputusan.
Karena itu, pendidikan AI tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana sebuah teknologi digunakan. Ia juga perlu mengajarkan kapan teknologi digunakan, untuk tujuan apa, dan bagaimana memastikan penggunaannya tetap bertanggung jawab.
Menyiapkan Generasi yang Adaptif
Perspektif industri juga menunjukkan bahwa talenta masa depan membutuhkan kemampuan yang lebih luas.
Nicholas Dominic, Senior Data Scientist & AI Consultant, Cloud Solutions Department, Lintasarta Cloudeka, mengatakan perusahaan membutuhkan individu dengan kemampuan teknis sekaligus pemahaman terhadap persoalan bisnis, kemampuan membaca data secara kritis, berkolaborasi, dan menerjemahkan AI menjadi solusi.
Sementara itu, alumni BINUS University yang kini bekerja sebagai Solution Architect di Alibaba, Sanny Jovita, menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi.
Teknologi dan cara kerja dapat berubah dengan cepat. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi bagian penting dari perjalanan profesional.
Pada akhirnya, Program Artificial Intelligence di BINUS @Bekasi bukan hanya berbicara tentang sebuah program akademik baru. Ia menjadi bagian dari respons pendidikan terhadap perubahan lanskap kerja dan teknologi.
Melalui AI Empowers @ BINUS dan gerakan #AIverywhereInBINUS, BINUS University ingin membawa pemahaman AI lebih dekat kepada mahasiswa.
Tantangannya kemudian bukan sekadar melahirkan orang-orang yang mahir menggunakan AI, tetapi generasi yang mampu menempatkan teknologi pada konteks yang tepatākritis dalam menilai, adaptif dalam belajar, dan bertanggung jawab ketika menggunakannya.
Di titik itulah pendidikan AI menemukan maknanya: bukan menggantikan manusia dengan teknologi, melainkan mempersiapkan manusia agar mampu menentukan arah teknologi. (Hnd)



