
195 Medali KBPC dan Perjalanan Panjang Membentuk Pesilat
Lanskap, Bogor – Di arena pertandingan, medali menjadi angka yang mudah dilihat. Namun di balik satu medali terdapat proses panjang: latihan berulang, disiplin, keberanian menghadapi lawan, hingga kemampuan untuk menerima kemenangan dan kekalahan.
Bagi Paguron Keluarga Besar Pajajaran Cimande (KBPC), proses itu kembali terlihat dalam Kejuaraan Pencak Silat Piala Dandim Tingkat Nasional yang berlangsung di Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, 4–6 September 2026.
Kontingen KBPC membawa pulang 195 medali, terdiri atas 95 emas, 97 perak, dan 3 perunggu.
Angka tersebut dilengkapi sejumlah penghargaan. KBPC meraih Juara Umum I Usia Dini, Juara Umum I Pra Remaja, Juara Umum II Remaja, serta Juara Umum III Remaja Prestasi.
Dua atletnya juga memperoleh penghargaan sebagai Pesilat Terbaik Putra dan Pesilat Terbaik Putri.
Puncaknya adalah predikat Grand Champion Piala Tetap Dandim Tingkat Nasional.
Bagi Ketua Umum KBPC Saepudin Suherman, capaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras yang tidak berhenti pada arena pertandingan. Pembinaan menjadi bagian penting dalam perjalanan para atlet untuk terus berkembang.
Namun, pencak silat juga memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar pertandingan.
Seorang pesilat dituntut menguasai teknik dan memiliki kekuatan fisik. Pada saat yang sama, ia juga perlu membawa nilai sportivitas, penghormatan kepada lawan, kedisiplinan, dan sikap ksatria.
Karena itu, prestasi di Pakansari tidak semata-mata menjadi daftar panjang medali. Ia menjadi penanda dari proses pembentukan generasi muda melalui olahraga dan tradisi pencak silat.
KBPC pun melihat capaian tersebut sebagai pijakan untuk melanjutkan pembinaan. Para atlet diharapkan mampu membawa pengalaman dari setiap pertandingan menuju level kompetisi berikutnya, sembari tetap menjaga karakter yang menjadi bagian penting dari seorang pesilat.
Pada akhirnya, kemenangan di atas gelanggang hanya menjadi salah satu bagian dari perjalanan. Yang lebih panjang adalah bagaimana seorang pesilat tumbuh setelah meninggalkan arena—membawa disiplin, sportivitas, ketangguhan, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari. (Ckr03/red)



