Jogja Fashion Week 2026 Dorong Kolaborasi Fashion, Budaya dan UMKM Sawit
2 mins read

Jogja Fashion Week 2026 Dorong Kolaborasi Fashion, Budaya dan UMKM Sawit

7 Kali Dibaca

Lanskap, Yogyakarta –  Jogja Fashion Week (JFW) 2026 menjadi ruang penguatan ekosistem industri kreatif berbasis budaya sekaligus mempertemukan sektor fashion dengan pelaku UMKM berbasis kelapa sawit.

JFW 2026 berlangsung pada 13–16 Agustus 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta. Gelaran yang memasuki penyelenggaraan ke-21 tersebut diinisiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY.

Mengangkat tema “Roots to Resonance Beyond”, JFW tahun ini mendorong pengembangan karya fashion yang tetap berakar pada identitas dan tradisi Yogyakarta, namun mampu merespons perkembangan zaman.

Dalam penyelenggaraannya, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) turut memperkenalkan sejumlah produk UMKM berbasis kelapa sawit.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan partisipasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan kelapa sawit.

Menurutnya, sawit memiliki potensi hilirisasi yang dapat dikembangkan ke berbagai sektor.

“Potensi kelapa sawit bisa menjadi bagian dari ekosistem industri kreatif,” katanya.

Salah satu pemanfaatannya adalah turunan sawit yang digunakan sebagai bahan malam dalam pembuatan batik.

Selain itu, salah satu mitra UMKM BPDP juga mengembangkan produk tenun dengan pewarna berbahan kakao.

Helmi mengatakan pengembangan tersebut menjadi contoh bagaimana komoditas perkebunan dapat dipadukan dengan kreativitas dan inovasi untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

BPDP mendorong pelaku UMKM industri kreatif untuk memanfaatkan berbagai potensi komoditas, termasuk turunan sawit, kakao, dan kelapa dalam proses pengembangan produk.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kreativitas pelaku UMKM sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

Kehadiran UMKM sawit dalam JFW 2026 juga menunjukkan adanya peluang kolaborasi antara industri perkebunan dan industri kreatif.

Produk yang dikembangkan tidak hanya mengandalkan bahan baku, tetapi juga membutuhkan desain, inovasi, kreativitas, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Sementara itu, JFW 2026 terus mendorong karya fashion yang membawa karakter budaya Yogyakarta dalam bentuk yang lebih inklusif dan ekspresif.

Perpaduan tradisi, kreativitas, teknologi, dan kebutuhan pasar diharapkan dapat memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan industri kreatif.

Melalui JFW 2026, fashion menjadi salah satu ruang yang mempertemukan budaya dengan potensi ekonomi lokal.

Kehadiran produk UMKM berbasis sawit sekaligus memperlihatkan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan dapat berkembang lebih luas ketika dipertemukan dengan kreativitas dan inovasi. (Hnd)