
Seni dan Kecerdasan Buatan Diperdebatkan dalam Grand Final Wirasena 2026
Lanskap, Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali memunculkan pertanyaan mengenai batas kreativitas manusia dan teknologi. Isu tersebut menjadi bahan perdebatan dalam Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 yang berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Dalam kompetisi yang merupakan bagian dari Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 itu, peserta diminta membahas mosi tentang penerimaan karya seni yang dihasilkan menggunakan AI.
Mosi “Dewan ini percaya bahwa seni yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) seharusnya diterima daripada ditolak” menghadirkan dua sudut pandang yang berbeda. Di satu sisi, AI dipandang sebagai perkembangan teknologi yang dapat membuka ruang ekspresi baru. Di sisi lain, penggunaannya memunculkan kekhawatiran terhadap penghargaan atas keterampilan dan proses kreatif seniman.
Aldy Christian Tarigan dari tim Sumatra Utara, yang tampil sebagai Opening Government (OG), menyampaikan bahwa seni generatif AI perlu diterima sebagai bagian dari perubahan dunia seni.
Ia membandingkan perkembangan tersebut dengan seni abstrak yang pada awal kemunculannya tidak selalu mendapatkan pengakuan. Menurutnya, penerimaan terhadap AI juga dapat membuka ruang kurasi dan pengawasan.
“Mereka akan menggunakan AI-nya terus-menerus secara diam-diam,” ujar Aldy, merujuk pada kemungkinan penggunaan teknologi tersebut tetap berlangsung meskipun ditolak.
Sementara itu, Ghiffary Yovandika Anwaary Fadhillah dari tim Bengkulu menyoroti risiko berkurangnya penghargaan terhadap proses kreatif manusia.
Ia menilai kemudahan menghasilkan karya melalui perintah atau prompt AI dapat membentuk persepsi bahwa berkesenian tidak lagi membutuhkan keterampilan dan proses panjang.
“Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya itu. Orang-orang yang menggeluti seni tidak seharusnya dipandang sebelah mata dengan anggapan bahwa siapa pun bisa membuat karya hanya dengan menggunakan prompt,” kata Ghiffary.
Ia juga menilai keterangan atau label pada musik dan konten digital dapat menjadi salah satu cara untuk membantu masyarakat mengenali karya yang dihasilkan menggunakan AI.
Grand Final Lomba Debat Wirasena 2026 mempertemukan empat tim terbaik dari Riau, Sumatra Utara, Bengkulu, dan Jawa Tengah. Mereka merupakan peserta yang berhasil melewati seleksi dari 64 tim. Sebanyak 16 tim sebelumnya melaju ke kompetisi luring sebelum empat tim memastikan tempat di babak final.
Tim Riau diperkuat Kayla Fauziah Fajri dan Yelika Paskabreina br. Meliala. Sumatra Utara diwakili Aldy Christian Tarigan dan Muhammad Jeri. Tim Bengkulu terdiri atas Faldzah Naadira dan Ghiffary Yovandika Anwaary Fadhillah, sedangkan Jawa Tengah diwakili Gwen Muninggar Maharani dan Raka Satria Madewa.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI membawa konsekuensi yang melampaui aspek teknis. Ada persoalan etika, pengakuan terhadap pencipta karya, serta posisi manusia dalam ekosistem kreatif yang terus berubah.
Melalui ruang debat, generasi muda diajak membangun pemahaman secara kritis, menyampaikan pendapat dengan alasan yang terukur, dan menghargai perbedaan perspektif.
Kemampuan untuk menilai perkembangan teknologi secara terbuka sekaligus bertanggung jawab menjadi penting agar generasi muda tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga mampu memahami dampaknya bagi masyarakat dan masa depan dunia kreatif. (Rnie)



