
Pramono Anung Apresiasi DUTEP, Jakarta–Rotterdam Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Air
Lanskap, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengapresiasi pelaksanaan Dutch Training and Exposure Programme (DUTEP), program kerja sama Jakarta dan Rotterdam, Belanda, yang mendorong pertukaran pengetahuan untuk menjawab tantangan perkotaan, khususnya pengelolaan air, pengendalian banjir, dan perlindungan kawasan pesisir.
Apresiasi tersebut disampaikan Pramono melalui pernyataan video dalam rangkaian penutupan Week of Indonesia-Netherlands Education and Research (WINNER) 2026 di Indonesia House Amsterdam, Belanda, Kamis (8/10).
Menurut Pramono, DUTEP menjadi sarana untuk memperkuat kapasitas aparatur pemerintah sekaligus membuka peluang kolaborasi dan penerapan inovasi yang relevan dengan kebutuhan Jakarta.
Ia berharap program tersebut terus berkembang dan menghasilkan solusi yang dapat mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota yang maju, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Pertukaran pengetahuan untuk menjawab tantangan perkotaan
Dalam sesi pembahasan DUTEP, Listya Aderina, Deputy for Funding and Investment North Java Coastal Management Authority (BOPPJ), bersama Brigitte Vos, Coordinator Team Global Nuffic Southeast Asia, memaparkan pengalaman serta peluang pengembangan kerja sama yang muncul dari program tersebut.
Listya menilai kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, lembaga riset, dan sektor swasta penting untuk menyelaraskan prioritas dalam menghadapi persoalan perkotaan.
Jakarta dan Rotterdam memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama menghadapi tantangan pengelolaan air dan kawasan pesisir. Rotterdam memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan air, sementara Jakarta masih berhadapan dengan banjir dari daratan dan penurunan muka tanah di wilayah pesisir.
Karena itu, pengalaman Belanda dapat menjadi referensi bagi Jakarta, dengan tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, dan karakteristik wilayah setempat.
Salah satu peluang tindak lanjut DUTEP muncul dari diskusi Listya dengan kolega di Van Oord mengenai pendekatan nature-based solutions (NBS) yang diusulkan Ocean Health untuk wilayah Sulawesi. Pendekatan berbasis alam tersebut berpotensi menjadi bahan pembelajaran dalam pengembangan desain dan perencanaan Giant Sea Wall pada masa mendatang.
Namun, peluang tersebut masih berada pada tahap penjajakan. Diskusi daring lanjutan direncanakan untuk memperkenalkan pendekatan tersebut sekaligus mengeksplorasi kemungkinan kerja sama.
Listya menekankan bahwa jejaring yang terbentuk melalui DUTEP perlu terus dijaga agar pertukaran pengetahuan dan perkembangan riset di bidang pengelolaan air dapat berlanjut.
“Indonesia menghadapi tantangan serius yang perlu diselesaikan secara strategis dengan dukungan sains. Kolaborasi dengan Belanda, yang memiliki keahlian dalam pengelolaan air, dapat mempercepat proses tersebut dan memberikan manfaat bagi kedua pihak,” ujarnya.
Alumni DUTEP dorong penerapan solusi berbasis alam
Manfaat DUTEP juga dirasakan oleh para alumninya. Hingga 2026, program ini telah memiliki lebih dari 100 alumni yang berkiprah di berbagai bidang terkait pengelolaan air dan pembangunan perkotaan.
Jejaring tersebut menjadi modal untuk memperkuat kolaborasi lintas institusi serta mendorong penerapan pengetahuan yang diperoleh di Belanda sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Maman Supratman, alumni DUTEP 2023 yang bekerja di Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, merupakan salah satu peserta yang menerapkan pembelajaran dari program tersebut. Selama mengikuti DUTEP, ia mempelajari pengelolaan air bersama Water Board Delfland di Belanda, termasuk pengendalian banjir dan penerapan solusi berbasis alam.
Menurut Maman, pengelolaan waduk dapat dikembangkan tidak hanya untuk mengendalikan banjir, tetapi juga sebagai ruang publik, area rekreasi, dan kawasan yang mendukung konservasi lingkungan.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya membangun infrastruktur air yang memiliki manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Melalui pengalaman di Belanda, saya banyak belajar tentang pengelolaan air, terutama pengendalian banjir dan penerapan nature-based solutions,” kata Maman.
Pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi Jakarta dalam mengembangkan infrastruktur yang menggabungkan fungsi pengendalian air, peningkatan kualitas ruang kota, dan pelestarian lingkungan.
Dua belas tahun kolaborasi Jakarta–Rotterdam
Kerja sama melalui DUTEP juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Rotterdam. Wakil Wali Kota Rotterdam yang membidangi penegakan hukum, ruang luar, dan mobilitas, Pascal Lansink-Bastemeijer, menyoroti perjalanan kolaborasi kedua kota selama 12 tahun.
Menurut Pascal, DUTEP membuka kesempatan bagi para profesional dari Jakarta untuk mengikuti pertukaran pengetahuan terstruktur serta riset bersama mengenai pengelolaan air perkotaan dan adaptasi iklim.
Kolaborasi tersebut turut berkontribusi pada sejumlah inisiatif di Jakarta, antara lain sistem pemantauan banjir dan peringatan dini, penerapan atap hijau (green roofs), serta pengembangan stasiun pompa.
Di sisi lain, Rotterdam juga memperoleh manfaat melalui evaluasi terhadap praktik pengelolaan kotanya sendiri, peningkatan pemahaman dalam menghadapi cuaca ekstrem, dan terbukanya peluang kerja sama antarpelaku usaha dari kedua kota.
Melalui DUTEP, Jakarta dan Rotterdam berupaya membangun ruang pembelajaran bersama untuk mengembangkan solusi perkotaan yang adaptif dan berkelanjutan.
Apresiasi Pramono Anung dalam WINNER 2026 menjadi dorongan agar kerja sama tersebut terus berlanjut. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui program ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan kebijakan serta inovasi pengelolaan air dan perlindungan pesisir di Jakarta. (Hnd)



