Digitalisasi Tambak Lamongan: IoT Bantu Efisiensi Pakan dan Pemantauan Budidaya Ikan
2 mins read

Digitalisasi Tambak Lamongan: IoT Bantu Efisiensi Pakan dan Pemantauan Budidaya Ikan

0 Kali Dibaca

Lanskap.id, Lamongan –  Pemanfaatan teknologi digital mulai menjadi bagian dari pengelolaan budidaya perikanan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Melalui teknologi Internet of Things (IoT), petambak ikan kerapu dapat memantau kualitas air tambak melalui aplikasi, sehingga pengelolaan budidaya memiliki dukungan data yang lebih terukur.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong penerapan teknologi tersebut untuk mendukung produktivitas perikanan dan ketahanan pangan nasional.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengatakan digitalisasi sektor pertanian dan perikanan menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi produksi masyarakat. Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau AI, diharapkan dapat membantu petani dan petambak meningkatkan efisiensi serta daya saing.

Dalam kegiatan Teknologi Digital AIoT Tepat untuk Petani dan Pembudidaya di Lamongan, Selasa (3/11/2026), Meutya menjelaskan bahwa teknologi IoT telah diterapkan pada tambak ikan kerapu untuk memantau kadar oksigen, pH, dan salinitas air.

Pemantauan Kualitas Air Berbasis Aplikasi

Melalui perangkat IoT, informasi kondisi air dapat dipantau melalui aplikasi. Data tersebut membantu petambak mengetahui perubahan lingkungan budidaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Penerapan teknologi selama sekitar lima bulan menunjukkan hasil yang disampaikan Kemkomdigi berupa penghematan penggunaan pakan hingga 20 persen. Tingkat kelangsungan hidup ikan juga meningkat sebesar 16 persen, sedangkan produktivitas budidaya naik lebih dari 24 persen.

Capaian tersebut memperlihatkan potensi teknologi digital dalam membantu pengelolaan tambak, khususnya pada aspek pemantauan kualitas air dan efisiensi kegiatan produksi.

Integrasi IoT dan AI

Kemkomdigi mengembangkan penerapan teknologi melalui kolaborasi dengan startup dan inovator lokal. Selain penyediaan perangkat, petambak juga memperoleh edukasi dan pendampingan agar dapat memanfaatkan teknologi secara optimal.

Meutya menyampaikan bahwa integrasi IoT dengan AI akan dikembangkan untuk memperluas indikator budidaya yang dapat dipantau.

“Dengan artificial intelligence digabungkan dengan teknologi yang sekarang sudah dimiliki, indikator-indikatornya akan lebih banyak lagi yang bisa dimonitor dan insyaallah efisiensinya semakin bertambah,” ujarnya.

Pengembangan teknologi ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi digital di daerah. Dalam konteks sektor perikanan, pemanfaatan data dan sistem pemantauan diharapkan membantu pelaku budidaya mengambil keputusan secara lebih tepat.

Melalui penguatan konektivitas, inovasi lokal, dan pendampingan, digitalisasi diharapkan dapat memperluas manfaat teknologi bagi petambak serta mendukung agenda ketahanan pangan nasional. (Rnie)