Betadine dan PMI Kalbar Perkuat Kesiapsiagaan Kesehatan di Tengah Karhutla
3 mins read

Betadine dan PMI Kalbar Perkuat Kesiapsiagaan Kesehatan di Tengah Karhutla

4 Kali Dibaca

Lanskap, Pontianak – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya membutuhkan kesiapan menghadapi api, tetapi juga perlindungan terhadap kesehatan relawan dan masyarakat yang berada di wilayah terdampak.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam kolaborasi PT iNova Pharmaceuticals Indonesia melalui Betadine Indonesia bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalimantan Barat pada 1–2 Oktober 2026.

Kegiatan di Pontianak dan Kubu Raya tersebut melibatkan sedikitnya 100 relawan gabungan #PrayForKalimantan dan PMI Kalbar. Mereka mendapatkan pemeriksaan kesehatan sekaligus edukasi mengenai kesiapsiagaan dan pertolongan pertama.

Kolaborasi ini juga melibatkan masyarakat. Sekitar 50 warga di titik distribusi air bersih mendapatkan pemeriksaan dan edukasi kesehatan.

Bagi relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla, menjaga kondisi fisik menjadi bagian dari kesiapsiagaan. Aktivitas di lapangan dapat berlangsung dalam kondisi lingkungan yang menantang, sementara kebutuhan dasar masyarakat tetap harus dipenuhi.

Karena itu, kegiatan tersebut tidak hanya berisi pemeriksaan kesehatan. Tim Betadine juga mendengarkan pengalaman relawan untuk mengetahui persoalan kesehatan yang mereka hadapi serta kebutuhan edukasi yang dapat diterapkan di lapangan.

Kesiapsiagaan Dimulai dari Pengetahuan Dasar

Dokter dan Edukator Kesehatan, dr. Firdaus, memberikan edukasi mengenai pertolongan pertama pada luka ringan, kebersihan kulit, dan respons awal terhadap keluhan tenggorokan.

Ia mengingatkan bahwa penanganan awal perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

“Langkah pertama adalah mendengarkan dan menilai apakah mereka memerlukan tindak lanjut,” ujar dr. Firdaus.

Untuk luka ringan, masyarakat dapat melakukan langkah awal dengan membersihkan luka menggunakan air bersih, menggunakan antiseptik yang sesuai, dan menutupnya dengan balutan bersih. Namun, apabila kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut, masyarakat perlu mendapatkan bantuan tenaga kesehatan.

Pendekatan edukasi semacam ini menjadi penting karena pengetahuan pertolongan pertama dapat membantu masyarakat mengambil langkah awal sebelum mendapatkan bantuan profesional.

Relawan Juga Perlu Dilindungi

Country Head PT iNova Pharmaceuticals Indonesia, Benyamin Wuisan, mengatakan perhatian terhadap kesehatan relawan merupakan bagian dari dukungan terhadap upaya kemanusiaan.

“Relawan hadir saat masyarakat membutuhkan bantuan. Kita juga perlu memperhatikan kesehatan mereka,” kata Benyamin.

Menurutnya, pengalaman relawan menjadi sumber penting dalam menyusun edukasi kesehatan dan pertolongan pertama yang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Ketua PMI Provinsi Kalimantan Barat, Hj. Lismaryani Sutarmidji, juga menekankan pentingnya keselamatan relawan dalam penanganan karhutla.

PMI dan relawan gabungan selama ini menjalankan berbagai dukungan, mulai dari layanan medis, bantuan logistik hingga penyediaan air bersih bagi masyarakat.

“Pertukaran pengetahuan bersama Betadine diharapkan menjadi masukan bagi pengembangan edukasi kesiapsiagaan dan pertolongan pertama yang lebih relevan dan praktis,” ujar Lismaryani.

Kesehatan, Air Bersih dan Respons Bencana

Rangkaian kolaborasi dilanjutkan dengan kunjungan ke lahan gambut terdampak karhutla di Kubu Raya serta instalasi pengolahan air bersih Air Penawar 81 (AP81).

Di Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Betadine dan PMI Kalbar turut mendukung distribusi air bersih bagi warga terdampak.

Pada Jumat (2/10), pemeriksaan kesehatan dan edukasi kesiapsiagaan dilanjutkan kepada sekitar 50 warga di titik distribusi air bersih.

Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bahwa respons terhadap bencana tidak berdiri sendiri. Penanganan karhutla membutuhkan keterhubungan antara kesiapsiagaan, kesehatan, kebutuhan dasar, edukasi masyarakat, serta dukungan terhadap relawan.

Kolaborasi Betadine dan PMI di Kalimantan Barat juga menjadi kelanjutan program edukasi pertolongan pertama yang dilakukan pada 2025 bagi anggota PKK, pengemudi ojek online, dan wartawan di Jakarta Utara.

Pengalaman relawan dan masyarakat selama kegiatan di Kalimantan Barat selanjutnya diharapkan menjadi masukan untuk mengembangkan edukasi kesiapsiagaan kesehatan dan pertolongan pertama yang lebih praktis serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (Rnie)