Anak Muda Bisa Jadi Garda Terdepan Pelestarian Budaya Betawi, Ini Cara Kreatif ala Ketua Sorak Betawi Condet 2026
3 mins read

Anak Muda Bisa Jadi Garda Terdepan Pelestarian Budaya Betawi, Ini Cara Kreatif ala Ketua Sorak Betawi Condet 2026

24 Kali Dibaca

Lanskap, Jakarta – Di tengah derasnya pengaruh budaya global dan tren digital yang silih berganti, budaya lokal sering kali dianggap kurang menarik oleh generasi muda. Namun anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business melalui penyelenggaraan Sorak Betawi Condet 2026.

Program yang berlangsung sejak 5 hingga 21 Juni 2026 ini menghadirkan berbagai kegiatan edukatif, workshop, hingga festival budaya yang melibatkan masyarakat, komunitas budaya, pelaku UMKM, dan generasi muda.

Bagi Ketua Pelaksana Sorak Betawi Condet, Nailah Inayah Humaira, pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Menurutnya, budaya Betawi justru dapat lebih mudah diterima anak muda apabila dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

“Sebagai generasi muda, saya melihat bahwa budaya Betawi memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menghubungkan unsur tradisional dengan tren modern yang sedang digemari anak muda saat ini,” ujar Nailah.

Menurutnya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui dunia fashion. Kebaya dan busana khas Betawi dapat dikreasikan menjadi outfit yang lebih modern tanpa menghilangkan identitas budayanya. Dengan begitu, anak muda bisa tetap tampil stylish sekaligus memperkenalkan budaya lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Selain fashion, musik juga menjadi media yang efektif untuk mendekatkan budaya kepada generasi muda. Nailah menilai alat musik dan lagu-lagu khas Betawi dapat dikolaborasikan dengan genre musik yang sedang populer saat ini sehingga menghasilkan karya yang lebih segar dan mudah diterima berbagai kalangan.

“Anak muda sekarang sangat dekat dengan fashion dan musik. Karena itu, budaya Betawi juga perlu hadir di ruang-ruang tersebut agar terasa lebih relevan dan tidak dianggap kuno,” tambahnya.

Melalui Sorak Betawi Condet, gagasan tersebut diwujudkan dalam berbagai kegiatan interaktif seperti kelas Mix & Match Fashion Betawi, workshop Gambang Kromong, Tari Betawi, hingga pembuatan emping yang memungkinkan peserta merasakan langsung pengalaman budaya dengan cara yang menyenangkan.

Tak hanya fokus pada pelestarian budaya, mahasiswa LSPR juga menerapkan strategi komunikasi kreatif untuk memperkenalkan Sorak Betawi Condet kepada masyarakat luas. Promosi dilakukan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan konten video pendek yang dikemas dengan gaya visual yang dekat dengan audiens muda.

Tim juga menggandeng komunitas lokal, media partner, influencer, serta melakukan publikasi digital secara konsisten sebelum acara berlangsung. Pendekatan ini dilakukan untuk membangun awareness sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap rangkaian kegiatan yang diselenggarakan.

Selain kampanye digital, mahasiswa LSPR turut mengadakan program edukasi di sekolah dan lingkungan masyarakat melalui kegiatan “Ngabimbing Pade-Pade”. Program ini menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Betawi sekaligus memberikan pelatihan keterampilan digital kepada peserta.

Puncak kegiatan berlangsung pada Festival Budaya Betawi tanggal 21 Juni 2026 yang menampilkan berbagai kesenian khas seperti Palang Pintu, Lenong, Gambang Kromong, Tari Betawi, serta bazar UMKM. Festival ini menjadi bukti bahwa budaya Betawi tetap mampu menarik perhatian generasi muda ketika dikemas secara kreatif dan mengikuti perkembangan zaman.

Melalui Sorak Betawi Condet, Nailah berharap semakin banyak anak muda yang tidak hanya mengenal budaya Betawi, tetapi juga terlibat aktif dalam menjaga dan mengembangkannya.

“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas yang bisa kita bawa ke masa depan. Semakin banyak anak muda yang terlibat, semakin besar peluang budaya Betawi untuk terus hidup dan berkembang,” tutupnya. (Moms)