Tunas STEM Indonesia Hubungkan Pendidikan Sains dengan Aksi Pengelolaan Sampah di Sekolah
3 mins read

Tunas STEM Indonesia Hubungkan Pendidikan Sains dengan Aksi Pengelolaan Sampah di Sekolah

2 Kali Dibaca

Lanskap.id, Magetan –  Pendidikan lingkungan menjadi lebih mudah dipahami ketika siswa terlibat langsung dalam praktik. Pendekatan tersebut diterapkan Tunas STEM Indonesia melalui kegiatan edukasi pengelolaan sampah yang menjangkau sekitar 500 siswa di empat sekolah di Magetan dan Surabaya sepanjang Oktober 2026.

Inisiatif yang didirikan Rocco Joseph Tjuanta, siswa Jakarta Intercultural School, ini menghubungkan pembelajaran sains dengan persoalan lingkungan yang dijumpai anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kunjungan ke SDN Cileng 3, SDN Genilangit 1, SDN Plangkrongan 4, dan SDN Ujung IX Surabaya, siswa diperkenalkan pada berbagai jenis sampah serta pentingnya memilah material sebelum dibuang atau dimanfaatkan kembali.

Kegiatan berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di tiga sekolah di Magetan dan dilanjutkan di SDN Ujung IX Surabaya pada 20 Oktober.

Program tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Sekolah melanjutkan pembelajaran melalui kegiatan membuat kompos, menanam kangkung, dan kompetisi kerajinan dari bahan daur ulang.

Pembelajaran berbasis pengalaman

Tunas STEM Indonesia berawal dari kegiatan Rocco mengajar di SDN Cileng 3, Magetan, pada 6 Oktober 2025. Saat itu, ia memperkenalkan ilmu pengetahuan melalui eksperimen sederhana.

Pengalaman tersebut mendorongnya mengembangkan pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk mencoba, bertanya, dan memahami konsep melalui pengalaman langsung.

Setelah kegiatan awal, pembelajaran diteruskan secara daring. Rocco juga mengirimkan bahan eksperimen agar sekolah tetap dapat mengadakan kegiatan praktik di antara kunjungan.

Materi kemudian berkembang mengikuti kebutuhan sekolah. Ketika pengelolaan sampah menjadi perhatian, pembelajaran diperluas dengan memasukkan isu keberlanjutan lingkungan.

Pendekatan ini mempertemukan konsep sains dengan praktik sederhana. Siswa tidak hanya mengenal kategori sampah, tetapi juga mempelajari bagaimana material tertentu dapat dipisahkan dan dimanfaatkan kembali.

Praktik keberlanjutan di lingkungan sekolah

Salah satu kegiatan yang dilakukan siswa adalah mengolah sampah organik menjadi kompos. Kompos tersebut kemudian digunakan untuk menanam kangkung.

Aktivitas ini memperlihatkan hubungan antara pengurangan sampah organik dan pemanfaatannya dalam kegiatan menanam pangan. Siswa juga mendapat kesempatan mengamati proses pertumbuhan tanaman sekaligus merawatnya.

Sementara itu, kompetisi kerajinan berbahan daur ulang mendorong siswa menggunakan kreativitas untuk mengolah barang bekas menjadi benda yang memiliki fungsi baru.

Agar pembelajaran dapat diteruskan, Rocco mengembangkan modul pengelolaan sampah bagi sekolah. Materi tersebut menjadi panduan bagi guru untuk memperkuat pengetahuan siswa melalui kegiatan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Kolaborasi dengan guru menjadi bagian penting karena praktik pengelolaan sampah membutuhkan pengulangan dan penerapan dalam keseharian, bukan hanya pemahaman satu kali.

Memperluas akses pembelajaran

Selain kegiatan langsung dan modul, Rocco mulai mengembangkan situs web yang berfokus pada eksperimen sains dan keberlanjutan lingkungan. Platform tersebut direncanakan memasuki tahap uji coba di empat sekolah mitra.

Masukan dari sekolah akan digunakan untuk menyempurnakan materi sebelum situs diperluas kepada masyarakat. Rocco juga berharap lebih banyak siswa dapat dilibatkan dalam kegiatan berbagi pengetahuan dan mengajar.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembelajaran sains dan lingkungan. Melalui kombinasi kegiatan praktik, pendampingan guru, modul, dan platform digital, Tunas STEM Indonesia berupaya menjaga kesinambungan pembelajaran di sekolah.

Program ini menunjukkan bagaimana pendidikan lingkungan dapat dihubungkan dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan siswa. Memilah sampah, membuat kompos, merawat tanaman, dan mengolah barang bekas menjadi kegiatan yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. (Hnd)