Merawat Persatuan melalui Puisi, Jendela Puspita Jadikan Sumpah Pemuda Momentum Gerakan Literasi
2 mins read

Merawat Persatuan melalui Puisi, Jendela Puspita Jadikan Sumpah Pemuda Momentum Gerakan Literasi

1 Kali Dibaca

Lanskap.id, Jakarta –  Semangat Sumpah Pemuda dapat terus tumbuh melalui ruang-ruang kreatif yang mempertemukan gagasan, karya, dan kepedulian. Nilai tersebut diangkat Jendela Puspita bersama Komunitas Pegiat Literasi dan Budaya Nusantara dalam kegiatan Malam Puncak Gelora Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026).

Mengusung tema “Membangun Bangsa dan Menjaga Gelora Sumpah Pemuda dengan Puisi”, kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan diskusi, pembacaan ikrar, sosialisasi program kepenulisan, serta apresiasi terhadap pembaca puisi.

Diskusi yang dipandu Erni Wardhani, Ketua Komunitas Penulis Pengajar Jawa Barat, menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan mengenai relevansi Sumpah Pemuda dalam kehidupan saat ini.

Didik, peserta asal Bangkalan, Jawa Timur, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun kolaborasi dan menjaga kedamaian bangsa di era digital. Sementara Edi Suwito dari Lingga, Kepulauan Riau, mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan jati diri dan terus menjadi bagian dari perubahan positif.

Pesan-pesan tersebut memperlihatkan bahwa persatuan tidak hanya dibangun melalui ikrar, tetapi juga melalui sikap saling menghargai, dialog, dan kontribusi dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum kebangsaan kemudian diperkuat melalui pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda yang dipimpin Siska Puspita Dewi, Pembina Sanggar Literasi Jendela Puspita. Kegiatan ini menjadi pengingat atas semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928.

Rangkaian acara juga memperlihatkan bagaimana literasi dapat menjadi ruang partisipasi masyarakat. Jendela Puspita memperkenalkan dua program kelas menulis, yakni antologi puisi Gelora Sumpah Pemuda dan kumpulan cerpen Pahlawan Sejati.

Kedua program tersebut membuka kesempatan bagi para penulis untuk mengolah pengalaman, gagasan, dan nilai kehidupan menjadi karya sastra. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas ruang berkarya dan mendorong tumbuhnya komunitas literasi.

Pada kesempatan yang sama, tiga pembaca puisi terbaik dari Parade Penyair Jendela Puspita “Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi” diumumkan. Mereka adalah Suparno Ghopar dari Kutai Kartanegara, Dyah Mintarti dari Bogor, dan Edi Suwito dari Lingga.

Apresiasi tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap kreativitas para penyair dan peran sastra dalam menyampaikan pesan sosial maupun kebangsaan.

Siska Puspita Dewi berharap Jendela Puspita dapat terus menjadi wadah bagi pegiat literasi dan budaya untuk saling terhubung, bertukar gagasan, serta menghasilkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Baginya, literasi bukan hanya tentang menulis buku, tetapi juga bagaimana sebuah karya dapat menumbuhkan kepedulian dan memberikan dampak positif.

Melalui kegiatan kepenulisan, penerbitan buku, diskusi, dan apresiasi sastra, Jendela Puspita berupaya membangun ekosistem literasi yang terbuka bagi berbagai kalangan. Gerakan tersebut membawa pesan bahwa sastra tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga sarana merawat kebersamaan dan memperkuat persatuan.

Semangat itu dirangkum dalam tagline Jendela Puspita: “Dari Kata, Tumbuh Cinta. Dari Cinta, Lahir Karya. Melalui Karya, Kita Membangun Bangsa.” (Rnie)